Wartawan Media Online Diancam Oknum Kepala Desa di Kota Sawahlunto

BAGIKAN
Sumber Foto: Haluan Padang

IndeksNews – Anton Saputra (32) mengaku diancam oleh seorang oknum kepala desa (Kades) di Kota Sawahlunto. Wartawan salah satu media online ini melapor ke Mapolres Sawahlunto, Kamis (9/8/2018). Anton menyatakan dirinya diancam pada saat melakukan tugas jurnalistik dan pemuatan berita terkait adanya dugaan tindak pidana korupsi di pemerintahan desa di Kota Sawahlunto.

Tindakan oknum kepala desa itu dilaporkan Anton ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sawahlunto dengan nomor laporan LP/36/B/VIII/2018/SPKT Res Sawahlunto 9 Agustus 2018, atas ketidaknyamanan dengan ancaman yang diterimanya melalui sambungan telepon selulernya terkait pemberitaan yang dimuat di medianya.

“Sebelum memberitakannya saya sudah konfirmasi pada pihak Kejaksaan Negeri Sawahlunto melalui Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Elianto Nainggolan, yang mengatakan, Kejaksaan sudah menerima laporan dari inspektorat setempat, berdasarkan data inspektorat kejaksaan menemukan 27 desa di Sawahlunto terindikasi dugaan korupsi,” kata Anton, dirilis oleh Haluan Padang, Jumat (10/8/2018).

Anton juga minta keterangan kepada pihak Inspektorat terkait dugaan korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan desa di Kota Sawahlunto itu. Bahkan kata Anton Kepala Inpektorat, Yusmanidar dan Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perempuan dan Perlindungan Anak (PMD-PPA), Dedi Syahendry pun dimintainya keterangannya.

“Setelah mengklarifikasi berita tersebut, saya mendapatkan telepon sekitar 15.36 WIB, Kamis (9/8/2018) dari salah satu oknum Kepala Desa Muaro Kalaban berinisial M. Ia mengatakan saya harus menghapus berita tersebut, jika tidak menghapus maka dia akan mencari saya sampai dapat dan akan membelah kepala saya,” ujar Anton seperti yang tercatat pada lapornya ke polisi.

Sementara itu Kapolres Sawahlunto melalui Kanit II Reskrim, Ipda Johannes Bregas mengatakan, sementara kasus ini akan dibuat laporannya dan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur. “Mengingat barang bukti hanya rekaman telepon seluler korban. Kasus ini akan berjalan cukup panjang dimana harus ada kejelasan bahwa yang menelepon itu benar Kades yang dilaporkan atau tidak dan hal itu setelah keluar surat pernyataan dari persidangan, yang suara tersebut akan dicocokkan antara rekaman dengan suara terlapor,” tuturnya.

Dalam rekaman percakapan yang diduga antara Anton (wartawan) dengan oknum kades berinisial M. Terdengar permintaan oknum kades agar Anton menghapus berita. “Tidak hilang berita ini, saya cari kamu dimana pun berada. Itu pesan saya sama Pak Anton, kalau saya segan ,dan tak segan kepalamu saya bacok, pegang kata-kata saya ini,” ujarnya oknum tersebut.

Sumber: Haluan Padang

Comments

comments