Marwan Dasopang Sipenyadap Karet yang Sukses Menuju Senayan

BAGIKAN
Ketika sukses, tidak sedikit orang melupakan masa lalunya. Tapi tidak bagi Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang. Masa lalu yang getir, justru dijadikannya semangat untuk konsisten membela rakyat yang diwakilinya.
Loading...

Setiap ke daerah saya selalu mendorong bagimana di pelosok negeri ini ada sekolah yang standar. Dengan bersekolah orang bisa pintar,” kata Marwan yang masa kecilnya bersekolah di desa terpencil di Desa Pangikiran, Kecamatan Halongonan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Jika tekadnya tidak bulat, Dasopang nyaris gagal menamatkan sekolah dasarnya. Sebab harus berjalan kaki berjam-jam untuk sampai ke sekolah.

Marwan ingat betul, ayahnya yang seorang pengetua serta guru ngaji di desanya, sering mengilustrasikan suatu hal yang jangkaunnya masa depan. Ilustrasi sederhana ayahnya menjadikan Marwan anak yang penuh imaji dalam dunia fantasi dan selalu ingin menjadikan perspektif nyata.

Lulus jenjang SD, Marwan tidak langsung melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Tidak ada fasilitas dari negara. Selama dua tahun berlalu, Marwan menghabiskan hari-harinya membantu orang tuanya menyadap karet, sampai akhirnya ada salah satu tokoh di desa yang mendirikan madrasah.

“Sejak ada madrasah, mhidupnya terasa cerah. Dari situ, saya mengenal kisah para sahabat Nabi,” ucapnya.

Ini membuat semangatnya membara untuk belajar. Ia pun melanjutkan pendidikan Tsanawiayah di madrasah tersebut. Tapi kegiatan membantu orang tua menyadap karet tak berhenti. Karena dari kegiatan ini bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Berkat tekad dan tak kenal letih untuk menuntut ilmu, pria kelahiran Pangirkiran, Hulu Sihapas, Padang Lawas Utara, 12 Juni 1962 ini akhirnya bisa menamatkan pendidikan Tsanawiyah. Lulus dari MTs, ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah di Pesantren Al-Mukhtariyah. Lulus dari Aliyah, Marwan muda melanjutkan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara di Medan.

Tidak semudah itu Marwan bisa duduk di bangku kuliah. Marwan juga mengajar ngaji untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup dan tambahan biaya kuliah.

Karir politiknya diawali dengan masuk menjadi anggota Ormas Islam. mulai dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Medan (PMII), Gerakan Pemuda (GO). Tahun 1999, Marwan bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hingga menjabat Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Sumatera Utara. Pada 2009, ia mencalonkan diri menjadi Anggota DPR. Sayangnya, ketika itu ia gagal memperoleh suara minimal.

Berkat perjuangan yang alot, akhirnya Marwan terpilih menjadi Anggota DPR periode 2014-2019 dari PKB, Daerah Pemilihan Sumatera Utara II, yang terdiri dari 19 Kabupaten dan Kota. Semula, ia duduk di Komisi IX DPR RI, namun tak lama kemudian pindah ke Komisi VIII DPR dan mendapat amanah dari partai untuk duduk menjadi Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI.

Ia melihat banyak infrastruktur di banyak daerah belum baik. Untuk itu, dalam setiap rapat dengan Kementerian Sosial, ia selalu meminta Pemeritah menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi rakyat.

Selayaknya, ada bank di pelosok negeri. Sebab banyak masyarakat terjebak dengan menggunakan bank keliling, meski bunganya bisa 100%, bahkan lebih. “Tapi itu yang harus dipilih, sebab bank pemerintah belum menyentuh pelosok,” katanya

Comments

comments

Loading...
loading...