Tragedi Baiq Nuril, Korban Pelecehan Seksual yang Dipenjarakan

BAGIKAN
Ketika seorang perempuan berupaya menyelamatkan diri dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh atasannya, justeru terjebak dalam lingkaran hukum yang rumit. Dianggap bersalah karena merekam pembicaraan mesum sang atasan melalui telepon di tempat kerjanya.
Loading...

Nuril ketika itu merupakan guru honorer di salah satu SMA Negeri di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Nuril kerap menerima telepon dari Muslim sang kepala sekolah. Percakapan itu direkam oleh Nuril lantaran Muslim melontarkan kata-kata yang mengandung unsur asusila. Karena Muslim menceritakan pengalamannya berhubungan seksual dengan perempuan lain yang bukan istrinya.

Kata-kata berbau mesum yang dilontarkan Muslim terhadap Nuril, membuat dirinya merasa terganggu dan terancam. Kemudian Nuril merekam kata-kata Muslim agar dirinya tidak dituduh memiliki hubungan dengan sang kepala sekolah.

Peristiwa itu terjadi pada Agustus 2012 silam. Namun, kasus ini mulai mencuat sekitar Desember 2014. Ketika itu seorang rekan Nuril bernama Imam Mudawim meminjam telepon genggam Nuril. Ia menemukan rekaman tersebut, dan kemudian menyalinnya.

Setelah itu rekaman yang berbau mesum itu seketika menyebar luas ke sejumlah guru maupun siswa. Hal itu pun membuat Muslim merasa malu karena namanya telah dicemarkan hingga akhirnya melapor ke kepolisian dengan tuduhan pelanggaran UU ITE.

Hakim PN Mataram memutus bebas Baiq Nuril sehingga jaksa mengajukan kasasi. Namun, pada 26 September 2018, MA menjatuhkan vonis hukuman kepada Baiq Nuril selama enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan akibat pelanggaran UU ITE.

Menurut Institute for Criminal Justice Reform, rekaman itu tersebar tanpa sekehendak Nuril. Muslim sang kepala sekolah kemudian melaporkan Nuril dengan tuduhan pelanggaran Pasal 27 ayat 1 UU ITE.

Sementara, Ketua Komnas Antikekerasan terhadap Perempuan Azriana R Manalu, khawatir polemik kasus Baiq Nuril dapat menjadi momok bagi korban lainnya dalam mengungkap kasus pelecehan seksual. Apabila kasus Nuril mendapat keadilan, maka akan menjadi peringatan untuk pelaku kejahatan seksual yang selama ini bebas dari jeratan hukum.

“Pelecehan seksual harus diungkap agar tidak ada korban-korban lain yang mungkin menunggu perkembangan kasus ini. Dan kasus ini menjadi motivasi untuk korban jangan takut untuk mengungkapkan,” ujar Azriana dalam konfersi pers di LBH Pers, Jakarta Selatan, Jumat, 16 November 2018.

Azriana mengatakan, langkah yang diambil Nuril untuk merekam perbincangannya dengan pelaku yang merupakan mantan Kepala Sekolah SMA 7 Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan langkah yang tepat. Sekalipun bentuknya perlawan kecil namun bisa mendatangkan perubahan besar.

“Bu Nuril memberi teladan bagaimana ketika kita mengalami kekerasan seksual jangan diam tidak melakukan apa pun, hal yang paling minim, yang ia lakukan merekatkan,” tutur dia.

Aktris Olga Lidya pun prihatin terkait kondisi Nuril. Dia berusaha melakukan perlawanan namun justru dijadikan terdakwa. Parahnya, pelaku bebas dari jeratan hukum. “Dia korban, merekam pembicaraan, paling tidak dia bisa membela, karena dia digosipkan dengan pelaku, tapi dia dikriminalkan,” tandas Olga.

Tanggapan Mahkamah Agung

Sejumlah kalangan mengkritik Mahkamah Agung (MA) terkait putusan kasasi kasus Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang menjerat Baiq Nuril. Juru bicara Mahkamah Agung Suhadi mengatakan putusan kasasi itu telah didasarkan pada dakwaan jaksa penuntut umum.

“Independensi hakim itu harus dihormati dalam mengambil putusan. Karena adil atau tidak adilnya itu milik publik, silakan publik menilai,” kata Suhadi seperti dirilis Tempo, Kamis, 15 November 2018.

Pada 26 September 2018 majelis hakim kasasi yang dipimpin Hakim Agung Sri Murwahyuni menjatuhkan vonis hukuman enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan kepada Baiq Nuril. Mahkamah menganggap Nuril terbukti melanggar Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 UU ITE tentang penyebaran konten yang bermuatan pelanggaran kesusilaan.

Putusan kasasi ini sekaligus menganulir putusan pengadilan tingkat pertama. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Mataram menyatakan Nuril bebas dari segala tuntutan dan tak bersalah.

“Majelis Mahkamah Agung berpendapat perbuatan terdakwa memenuhi unsur-unsur dari dakwaan penuntut umum, sehingga dinyatakan dia bersalah dan dijatuhi pidana,” ujar Suhadi.

Suhadi juga menyanggah tudingan sejumlah pihak yang menyebut MA mengabaikan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum. Pasal 3 Perma itu menyebut hakim wajib mengidentifikasi situasi perlakuan tidak setara yang diterima perempuan yang berhadapan dengan hukum.

Suhadi berujar Sri Murwahyuni pun merupakan salah satu penyusun Perma tersebut. Suhadi juga beralasan, peraturan itu berlaku dalam konteks pemeriksaan di persidangan, terutama tingkat pertama. Jika perempuan sebagai terdakwa atau saksi, kata dia, dalam pemeriksaan hendaknya tidak terlontar kata-kata yang menyangkut pelecehan terhadap perempuan.

“Namun terhadap tindak pidana yang dilakukan tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki,” kata Suhadi.

Suami Baiq Nuril Minta Presiden Turun Tangan

Suami dari Baiq Nurul Maknun, Lalu Muhammad Isnaeni (40) meminta, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mampu turun tangan untuk membantu kasus yang menimpa istrinya. Baiq Nuril, eks staf tata usaha di SMAN 7 Mataram yang divonis Mahkamah Agung (MA) bersalah karena dianggap menyebarkan rekaman percakapan asusila dengan hukuman enam bulan kurungan penjara dan denda Rp 500 juta.

“Saya mohon Bapak Presiden mau mengulurkan tangannya supaya bisa melihat rakyatnya yang sedang mengalami ketidakadikan,” ujar Isnaeni seperti dirilis Republika.co.id, di rumahnya di Perumahan BPH Telagawaru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, NTB, Kamis (15/11/2018).

Menurut Isnaeni, istrinya tidak menyebarluaskan rekaman percakapan asusila. Adapun perekaman percakapan yang dilakukan Nuril merupakan bentuk perlindungan diri dari perbuatan tidak senonoh dari seorang kepala sekolah.

“Istri saya tidak bersalah dan menjadi korban, malah dianggap bersalah, sedangkan orang yang ngomong cabul tidak diproses malah diberikan kenaikan pangkat jabatan,”ujarnya.

Isnaeni mengaku kasus yang menimpa istrinya membuat kondisi perekonomian keluarganya cukup terganggu. Istrinya, kata dia, sudah tidak lagi bekerja. Isnaeni yang sebelumnya bekerja di salah satu hotel di Gili Trawangan terpaksa keluar dari pekerjaannya untuk mendampingi istrinya.

“Sekarang saya ya serabutan, kemarin juga sempat jadi ojek online, semoga masalah ini bisa segera selesai,” kata dia menambahkan

Dukungan Terhadap Baiq Nuril

Saat ini, berbagai dukungan mengalir untuk Baiq Nuril. Dari ICJR, Southeast Asia Freedom of Expression (SAFEnet), dan kelompok masyarakat yang peduli dan aktif melakukan pembelaan terhadap korban UU ITE. Koordinator Regional SAFEnet, Damar Juniarto juga menggalang dana di kitabisa.com untuk membantu Nuril membayar denda sebesar Rp 500 juta.

Penggalangan dana untuk Baiq Nuril sudah dibuka sejak Selasa (13/11/2018) oleh akun milik Anindya Joediono di web kitabisa.com. Pantuan kumparan pada Jumat (16/11/2018) pukul 11.45 WIB, jumlah dana yang telah berhasil dihimpun sebesar Rp 210.054.745, yang terkumpul dari 1.881 donatur.

Dalam akunnya, Anindya menargetkan donasi terkumpul Rp 550 juta dan terus dibuka selama satu tahun sejak donasi dibuka.

Comments

comments

Loading...
loading...