Wanita Muslim Uighur-China Bagai Bola Mutiara yang Tersembunyi

BAGIKAN
Uighur, sebuah suku di wilayah Xinjiang, China, selalu melahirkan wanita cantik bak bidadari yang turun dari kayangan. Mereka bagai bola mutiara yang tersembunyi di balik karang-karang yang jarang diketahui.
Loading...

Secara fisik, wanita yang terlahir dari suku ini relatif sangat cantik. Mulai dari wajah, bentuk tubuh, hingga ciri khas rambut dapat dikatakan sempurna. Meskipun Suku Uighur mendiami negeri tirai bambu China, namun wajah mereka tak mirip orang China pada umumnya. Hampir dari semua wanita di suku ini berkulit putih dan sedikit berparas Arab.

Beberapa orang bahkan terlihat seperti blasteran Asia Timur dan Juga Eropa. Ada lagi yang membuat kagum, yaitu mata mereka yang coklat agak kehijauan, dan dan juga yang terlahir dengan rambut pirang.

Bangsa Uighur adalah keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah, terutama di propinsi Cina, Xinjiang. Namun, sejarah etnis Uighur menyebut daerahnya itu Uighuristan atau Turkestan Timur. Maka tidak heran jika wanita Uighur meskipun China namun tidak berwajah Chinase tapi berwajah Turkis.

Nenek moyang Uighur merupakan pecahan dari negara muslim yang akhirnya mendiami wilayah Xinjiang. Suku ini secara fisik memang sangat mirip dengan bangsa Turki.

Ada 20 juta penduduk muslim di Negeri Panda itu. Termasuk etnis Hui yang salah satu nenek moyangnya adalah Laksmana Cheng Ho, pemimpin armada muslim Tiongkok ke nusantara beberapa abad lalu.

Namun, dibanding etnis lainnya, warga Uighur dilaporkan menerima tekanan lebih besar dari aparat pemerintah yang berpusat di Beijing. Kajian yang dilansir Global Voices menunjukkan, kecurigaaan Beijing terhadap etnis Uighur berakar sejak dua abad lalu.

Wilayah Xinjiang (dalam bahasa Mandarin artinya ‘daerah kekuasaan baru’) baru tunduk pada ekspedisi militer Dinasti Qin pada 1750. Selama berabad-abad mereka hidup mandiri tanpa tunduk pada kekuasaan manapun. Warga Uighur punya fisik putih, secara budaya lebih dekat dengan ras Turkistan.

Ketika pecah perang dunia, warga Xinjiang berusaha bergabung dengan Soviet. Upaya itu berakhir, ketika pasukan nasionalis kiriman Beijing akhirnya kembali memaksa warga Uighur bertahan dalam wilayah kedaulatan Republik Rakyat China pada 1949.

Sejak itu, cap warga Uighur yang punya kecenderungan ‘memberontak’ selalu disematkan oleh petinggi di Beijing. Kebijakan ekonomi China yang mengutamakan etnis Han memperburuk suasana.

Akibat rasa paranoid pada Uighur yang dianggap ingin melepaskan diri dari RRC, muncul diskriminasi tambahan Human Rights Watch mengatakan lebih dari 10 juta warga Uighur dipersulit untuk membuat paspor. Berbeda dari warga Han yang mudah melenggang ke luar negeri, untuk etnis Uighur, petugas imigrasi mewajibkan mereka menyerahkan puluhan dokumen serta wawancara buat memeriksa ideologi politik mereka.

Komplikasi segala persoalan itu memicu beberapa warga Uighur menyerang balik. Sasaran mereka adalah aparat dari etnis Han. Serangan paling keras terjadi pada Januari 2007. Diperkirakan 18 orang Uighur ditembak mati dengan tuduhan bergabung dengan jaringan teroris internasional.

China menuding pihak asing berada di balik gerakan politik warga Uighur. Organisasi Kongres Uighur Sedunia (WUC) yang berpusat di Jerman, dituding Tiongkok menyebarkan pamflet berisi ajakan menjadi anggota kelompok radikal.

RRC pernah membantah tudingan dunia internasional, termasuk laporan media massa, soal diskriminasi terhadap warga minoritas muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Kabar adanya serangan militer ke beberapa kampung yang dituding sarang teroris, termasuk larangan berpuasa bagi warga Uighur selama ramadan, dibantah keras oleh birokrat Partai Komunis.

Negeri Tirai Bambu menjamin setiap warga bebas menjalankan keyakinannya. “Warga Uighur hidup dan bekerja dalam keadaan damai. Mereka menikmati kebebasan beragama di bawah konstitusi China,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

Pada tahun 2015 yang lalu, Duta Besar China untuk Indonesia Xie Feng turut membantah isu yang menyudutkan negaranya. Menurutnya, laporan bahwa muslim Uighur dilarang berpuasa hanyalah propaganda inggris dan Amerika Serikat.”Kenyataannya jauh berbeda dengan isi berita yang dibuat-buat media barat,” kata Feng.

Namun, juru bicara WUC Dilxat Raxit menyerang pembelaan RRC. Dia menyatakan punya setumpuk bukti China menindas muslim Uighur secara sistematis bertahun-tahun.

Comments

comments

Loading...
loading...