Tante Tipu Keponakan Sendiri Demi Harta

Merasa belum mendapatkan kepastian hukum dan tindak lanjut selama lima tahun dari aparat berwenang Polres Nias, Juniel Gea (30th) warga Kota Gunung Sitoli Kepulauan Nias, Sumatera Utara sampaikan keluhannya kepada Indeks News.

Juniel mengatakan “Kita sudah laporkan kasus penggelapan tanah dan sertifikat yang dilakukan oleh tante saya sendiri Sa’adia Gea alias Dyah pada tahun 2014 silam, namun sampai saat ini belum ada kepastian hukumnya yang kami peroleh dari Kepolisian,” Sabtu (23/02/2019).

Juniel Gea laporkan Sa’adia Gea alias Dyah (55th) ke Mapolres Nias, Jl. Bhayangkara 01 Gunung Sitoli pada tanggal 8 Desember 2014 dengan Laporan Pengaduan Nomor : LP/517/XII/2014/NS yang ditandatangani Ka SPKT Polres Nias Aiptu AS Napitupulu dengan tuduhan Penggelapan Sertifikat dan Surat Tanah.

Menurut Juniel, dimana yang digelapkan surat-surat berharga yaitu Sertifikat Asli Rumah, Akta Jual Beli Tanah yang kami titipkan kepada Sa’adia Gea adik kandung ayah saya. “Saya dan adik 3 bersaudara adalah korban gempa bumi Nias tahun 2005 silam dimana kedua orang tua kami meninggal terkena reruntuhan bangunan, beberapa bulan setelah gempa bumi kami menitipkan surat berharga tersebut kepada beliau karena saat itu beliau adalah orang terdekat kami yang bisa kami percayai untuk memegang surat-surat tersebut, pada tahun 2014 kami meminta kembali surat-surat tersebut kepada beliau, namun tidak dikembalikan dengan berbagai alasan, akhirnya kami melaporkan ke Polisi dengan bukti-bukti sudah diserahkan semua kepada penyidik,” jelas Juniel.

Juniel sudah memberikan keterangan kepada penyidik dan malah menghadirkan Kakak Kandung Sa’adia Gea yang bernama Fasa’aro Gea yang membenarkan bahwa surat-surat berharga tersebut benar adanya di tangan Sa’adia Gea adiknya.

“Mirisnya lagi salah satu objek tanah yang digelapkan Sa’adia, telah diperjual belikan kepada orang lain, dan saya sudah beritahu kepada penyidik namun tidak ada tindakan, bahkan saya datangi ke objek tanah tersebut, saya malah dipukul dan dikeroyok orang-orang yang diduga suruhan Sa’adia dan saya sudah laporkan kejadian pemukulan tersebut pada tahun 2018 ke Polres Nias namun karena kurang kuatnya saksi sehingga tidak ada tindak lanjutnya,” ungkap Juniel.

Dalam keterangan tindak lanjut Kepolisian Resor Nias akan melakukan pengecekan objek lokasi tanah sebagaimana yang tertuang dalam Sertifikat Hak Milik Nomor 34 Tanggal 18 Agustus 1993, Akta Pelepasan Hak Dengan Ganti Rugi Nomor 592.2/1498/03/APHGR/GST/I/98 tanggal 23 Januari 1998.

“Yang menjadi pertanyaan saya kenapa Terlapor tidak pernah dimintai keterangan oleh aparat berwajib mengenai hal ini, saya hanya ingin meminta kembali apa yang menjadi hak kami dan mendapatkan kepastian hukum atas kejadian ini,” keluh Juniel.

Kasat Reskrim Polres Nias AKP Jonista Tarigan, SH saat dikonfirmasi via WhatsApp mengenai laporan tersebut membenarkan kasus tersebut ditangani oleh Penyidik Polres Nias dan masih dalam tahap Penyelidikan. Bukti kasus ditangani adalah dengan mengirimkan SP2HP terakhir tanggal 18 Februari 2019 kepada Pelapor Junieli Gea.

“Kasus ini adalah penggelapan, namun tidak ada bukti penyerahan sertifikat yang dimaksud oleh pelapor sehingga membutuhkan proses pembuktian oleh Penyidik untuk proses lanjutnya,” ungkap AKP Jonista Tarigan, SH. Senin (25/03/2019)

Namun Junieli Gea mengatakan bahwa Pembuktian Soal Adanya Surat Berada ditangan Sa’adiah Gea adalah bahwa Sa’adiah Gea pernah menunjukan di hadapan dewan hakim, bahwa benar surat-surat tersebut berada ditangannya.

“Selain kami membuat pengaduan penggelapan tersebut di kepolisian kami juga mengugat di Pengadilan Negeri Gunungsitoli sebagai alternatif hukum dimana saat sidang berlangsung Sa’adia menunjukan surat-surat tersebut dihadapan hakim, oleh karena itu sudah sangat jelas unsur penggelapan telah terpenuhi,” pungkas Junieli.

Comments

comments

Loading...