Pemilu 2019 Merupakan Pesta Demokrasi yang Terbelah, Media Sosialpun Jadi Gaduh

Pemilu adalah pesta demokrasi rakyat yang seharusnya diikuti masyarakat secara riang gembira, namun pengamat hukum Noor Fajar Asa, justeru menilai penyelenggaraan Pemilu 2019 ini membuat masyarakat Indonesia terbelah.

“Pilpres adalah pesta demokrasi, namanya pesta itu gembira dan menggembirakan. Mari kita gembira dan menggembirakan pada saat 17 April 2019 nanti,” ujar Anggota Federasi Advokat Republik Indonesia (FERARI), Selasa (9/4/2019).

Noor Fajar Asa pun menilai, apa yang terjadi selama masa kampanye tidak mencerminkan sebuah pesta. Karena telah terjadi saling ejek atau bully, hanya karena berbeda pilihan. Banyak orang yang terlihat sangat fanatik dengan calon presiden pilihannya masing-masing.

“Mereka terkesan sangat cinta terhadap calon presiden pilihannya. Mereka menyatakan ke fanatikan melalui sosial media yang sekarang begitu masif. Sehingga terkesan tidak lagi “Luber: Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia” ungkapnya.

Kondisi media sosial saat ini menjadi gaduh karena sebagian dari mereka memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan dukungan sehingga menimbulkan debat kusir.

Kegaduhan politik di dunia maya sebenarnya dapat direduksi apabila para pengguna medsos aktif dapat bersikap dewasa. Serta mengajak pemilih khususnya generasi millenial agar tetap menggunakan hak pilih.

“Pilpres harus dirasakan sebagai pesta pora demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang bertanggung jawab dan, sama sekali jangan sampai berubah menjadi sesuatu yang menegangkan,” pungkasnya.

Comments

comments

Loading...
loading...