Siapa Habil Marati, Penyandang Dana Rencana Pembunuhan 4 Tokoh Nasional itu?

Habil Marati diduga memiliki peran yang cukup besar pada aksi kerusuhan pada 21-22 Mei di Jakarta lalu. Polisi mengungkapkan, Habil Marati merupakan penyandang dana dalam rencana aksi pembunuhan empat tokoh Nasional di Jakarta.

Habil Marati merupakan pria kelahiran Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara pada  07 November 1962 ini. Dirilis republika.co.id, Selasa (11/6/2019) Pria 57 tahun ini dikenal sebagai politikus sekaligus pebisnis. Habil bahkan juga sempat menjadi pengurus di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Badan Tim Nasional (BTN) saat PSSI dipimpin oleh Djohar Arifin Husin.

Pria tamatan sarjana di IAIN (sekarang UIN) Sumut pada 1982 itu juga dikenal sebagai politikus senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz. Riwayat Habil Marati di PPP di antaranya Sekretaris DPW PPP Sumut 1985-1990, Ketua DPW PPP Sumut 1995-2004 dan Ketua DPP PPP dan 2003-2007.

Seperti disampaikan politikus senior PPP, Syaifullah Tamliha, bahwa Habil Marati memang pernah menjadi Wakil Ketua Umum PPP kubu Djan Faridz. Bahkan sebelumnya, Habil juga pernah menjadi anggota DPR merangkap Bendahara Umum DPP PPP sebelum kepemimpinan Suryadharma Ali.

“Terakhir menjelang pemilu 2019, dia mau nyalonkan kembali menjadi caleg DPR RI dari Dapil Sulawesi Tenggara, namun di Daftar Calon Sementara (DCS) namanya tidak muncul di situs KPU,” kata Syaifullah Tamliha dirilis Republika.co.id, Selasa (11/6/2019).

Habil adalah seorang pengusaha dan sempat menduduki beberapa posisi penting di beberapa perusahaan. Menurut Syaifullah, setelah tidak aktif lagi di PPP, Habil memulai bisnis alutsista.

BACA JUGA:  Lima Paslon Ini Akan Bertarung di Pilwalkot Binjai

Ada beberapa perusahaan yang pernah dipegangnya yaitu, Dirut PT Batavindo Kridanusa (1994), Dirut PT Galaxy Pasific Evalindo (1997), Dirut PT Makassar Perrosal Global (1997), Dirut PT Satomer Asri Fiberindo (1997), Dirut PT Industry Kakao Utama (2000) dan Dirut PT Agra Post Lava (2000).

“Beberapa kali yang bersangkutan datang ke saya untuk bisa dipertemukan dengan KASAU, dan lain lain, tetapi saya menjaga etika sebagai anggota Komisi I,” tegas Tamliha.

Namun Tamliha mengatakan bahwa ia tidak mau ‘cawe-cawe’ ikut bermain dengan mitra Komisi I. Ia pun menyebutkan pascapemilu 2019 ini, Habil tidak pernah menghubungi dirinya. Bahkan, beberapa kali Tamliha ingin berkomunikasi dengan Habil, nomor handphone yang bersangkutan tidak lagi aktif.

Sumber: Republika.co.id

BACA JUGA

Comments

comments

Loading...
loading...