Pengamat: Habibi Punya Metode Canggih Hadapi Krisis

INDEKSNEWS – Presiden RI ke-3, BJ Habibie, telah meninggal. Pembuat pesawat terbang ini tutup usia di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun, Rabu (11/9/2019). Kepergian tokoh negarawan yang dimiliki Indonesia ini telah menyisahkan duka mendalam bagi rakyat Indonesia dan meninggal berbagai kisah menarik.

Pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe mengatakan BJ Habibi selain sosok yang cerdas, rendah hati, dan sederhana, ia juga seorang tokoh bangsa yang memiliki metode canggih dalam menghadapi krisis yang mendera bangsa Indonesia.

Saat bangsa Indonesia dilanda krisis tahun 1997 yang diwarnai dengan gelombang aksi unjuk rasa para mahasiswa dan aktivis hingga berimbas tumbangnya Soeharto dari kursi Presiden, BJ Habibi yang dilantik sebagai Presiden tampil dengan penuh percaya diri menghadapi gejolak politik dan krisis ekonomi.

“Pak Habibi itu selain sosok yang cerdas, rendah hati, dan sederhana, ia juga seorang tokoh bangsa yang memiliki metode canggih dalam menghadapi krisis yang mendera bangsa Indonesia. Saat Indonesia dilanda krisis tahun 1997 yang diwarnai dengan gelombang aksi unjuk rasa para mahasiswa dan aktivis hingga berimbas tumbangnya Soeharto dari kursi Presiden, pak Habibi yang dilantik sebagai Presiden tampil dengan penuh percaya diri menghadapi gejolak politik dan krisis ekonomi,” kata Ramses di Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Menurut Ramses, kemampuan Habibi mengatasi situasi politik paca lengsernya Soeharto tahun 1998 patut diberikan apresiasi rakyat Indonesia. Sebab Habibi berhasil merespons krisis saat itu dengan  cabut azas tunggal Pancasila, membuka keran pers, membuka keran daftar parpol, proses Pemilu dipercepat, social safety net, mengkaji amandemen UUD 45, dan menghapus tulisan Negara RI pada nilai tukar rupiah.

BACA JUGA:  Gubernur DKI Kirim 65 Satgas Bantu Padamkan Karhutla di Sumatera dan Kalimatan

“Saya analisa pak Habibi punya metode canggih atasi situasi politik paca lengsernya pak Harto tahun 1998. Pak Habibi berhasil merespons krisis saat itu dengan  cabut azas tunggal Pancasila, membuka keran pers, membuka keran daftar parpol, proses Pemilu dipercepat, social safety net, mengkaji amandemen UUD 45, dan menghapus tulisan Negara RI pada nilai tukar rupiah,” ujar Ramses.

Lebih lanjut Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia (L-API) ini, menjelaskan, bila tongkat kepemimpinan pasca Soeharto lengser, dimandatkan kepada tokoh yang salah maka peluang terjadinya kekacauan di Indonesia semakin besar dan belum tentu kondisi demikian dapat dikendalikan apalagi masih ada faksi-faksi diantara elite politik.

“Kalau saat itu tongkat kepemimpinan pasca lengsernya Soeharto dimandatkan kepada tokoh yang salah maka peluang terjadinya kekacauan di Indonesia semakin besar dan belum tentu kondisi demikian dapat dikendalikan apalagi masih ada faksi-faksi diantara elite politik. Sehingga tak berlebihan bila pak Habibi tokoh reformasi yang sukses menjalankan mandat rakyat,” kata Ramses.

BACA JUGA

Comments

comments

Loading...
loading...