Terdakwa M Irfandi Membantah Keterangan Saksi Oknum Polisi Dalam Sidang Lanjutan

MEDAN | Sidang Lanjutan Terdakwa M Irfandi terkait kasus dugaan kepemilikan sabu digelar di ruang Kartika Pengadilan Negeri Medan, Selasa Sore (17/9/2019). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan 4 saksi oknum kepolisian yang juga merupakan terdakwa atas kasus yang berbeda. Keempatnya adalah personil Medan Area Bripka Jenli Damanik, Aiptu Jefri Panjaitan, Brigadir Akhiruddin Parinduri dan Aiptu Arifin Lumbangaol.

Dalam keterangannya Jefri Panjaitan yang bertindak sebagai katim dalam penangkapan tersebut mengatakan bahwa terdakwa M Irfandi sudah menjadi Target Operasi selama dua bulan.

“Terdakwa sudah 2 bulan jadi Target Operasi, saat penangkapan sabu ditemukan di kantong kirinya,” ucap Jefri di hadapan majelis hakim yang diketuai Irwan Effendi SH MH.

Lanjutnya. “Jadi dia sama pacarnya membeli bersama-sama, jadi ceweknya dibawa juga. Ketika saat pengembangan di sukaramai dia melarikan diri,” jelasnya.

Namun, saat Kuasa Hukum terdakwa, Maswan Tambak SH membantah seluruh keterangan yang diberikan oleh para saksi. Dan menyebutkan bahwa para saksi menyatakan keterangan palsu di persidangan.

“Izin yang mulia, dari semua keterangan saksi ini hampir sebagian besar palsu dan kami keberatan ini dicatat di persidangan,” jelasnya.

Saat mencerca para saksi dengan pertanyaan, Maswan menanyakan apa yang membuat terdakwa harus menggeledah barang buktinya sendiri.

“Jadi waktu terdakwa ini ditangkap dalam keadaan bagaimana? Kan tadi saksi sebutkan bahwa terdakwa ini sedang berkendara? Lalu kenapa Terdakwa harus memeriksa sendiri barang buktinya padahal sesuai SOP itu harus polisi yang menggeledah,” tanyanya.

Maswan juga menanyakan kepada para saksi kenapa tidak membawa terdakwa ke Kantor Kepolisian Polsek Medan Area ketika sudah ditangkap. “Kenapa terdakwa ini tidak dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa? Kenapa harus dibawa ke Jalan Gandhi, itu ke sebuah apa rupanya disitu,” Tanyanya.

BACA JUGA:  Korban Penembakan oleh Anak Bupati Majalengka Cabut Laporan

Jefri menyebutkan bahwa pihaknya membawa kedua terdakwa di sebuah pos kamling untuk dilakukan pengembangan. “Disitu kami bawa ke pos kamling,” cetusnya.

Sontak hal tersebut membuat gelak tawa seluruh pengunjung sidang hingga akhirnya Majelis Hakim harus menertibkan pengunjung sidang.

Selanjutnya, Maswan juga menanyakan bagaimana mungkin terdakwa Intan bisa kabur padahal dijaga oleh tiga orang personil kepolisian.

Saksi lainnya menerangkan bahwa pada saat itu ramai dan posisi hanya Irfandi yang diborgol namun Intan tidak sehingga bisa kabur. “Jadi disitu lagi ramai dan disitu terdakwa tidak diborgol,” terangnya.

Langsung saja Maswan menanyakan kepada saksi jam berapa kaburnya terdakwa pada saat itu. Menjawab pertanyaan tersebut saksi mengatakan, “Jam 4 subuh pak pengacara,” cetus Saksi.

Lagi-lagi jawaban tersebut membuat pengunjung kembali tertawa. Bahkan salah satu hakim anggota juga menyebutkan “Jam 4 subuh kan masih sepi kok bisa ramai dibilang,” ungkapnya. Namun hal tersebut tidak lagi digubris oleh para saksi.

Lalu maswan menanyakan kepada saksi Jefri Panjaitan apakah ada menghubungi orangtua Irfandi untuk meminta uang terhadap kasus tersebut. Namun saksi berdalih menyebutkan tidak ada, Dan hal tersebut juga diarahkan oleh Majelis Hakim dan tak sedikitpun digubris oleh Majelis Hakim yang diketuai Irwan Effendi.

Jaksa Penuntut Umum Emmy Khairani Siregar dalam dakwaannya menyebutkan, terdakwa bersama teman wanitanya bernama Putri Intan Sari Siregar (DPO) pada 26 Maret 2019 berencana hendak mengkonsumsi narkotika Golongan I jenis sabu.

Sebelum tertangkap, terdakwa M Irfandi menyuruh teman wanitanya membeli narkotika dan memberikan uang Rp100 ribu.

“Selanjutnya mereka berboncengan sepeda motor Honda Scoopy warna hitam BK 3322 AEO. Namun ketika melintas di Jalan Gedung Arca Kecamatan Medan Kota, sekira pukul 04.00 WIB diberhentikan 4 saksi dari Polsek Medan Area yakni Jefri Panjaitan bersama Arifin Lumbangaol, Jenli H Damanik dan saksi Akhiruddin Parinduri,” ungkap Jaksa dihadapan Persidangan yang diketuai Ketua Majelis Hakim Irwan Effendi.

BACA JUGA:  Korban Penembakan oleh Anak Bupati Majalengka Cabut Laporan

Para saksi kemudian memerintahkan terdakwa untuk mengeluarkan apa yang disimpannya dan terdakwa mengeluarkan 1 bungkus plastik klip berisi narkotika jenis sabu-sabu dengan berat bruto 0,20 gram yang disimpan di kantong celana sebelah kirinya.

Terdakwa Irfandi juga membantah 5 hal dalam keterangan para saksi oknum polisi, bahwa dirinya tidak ada memiliki sabu di kantongnya dan dirinya diborgol ketika ditangkap. Kedua dirinya bukan ditempatkan di sebuah pos kamling namun di rumah kosong tepatnya sebuah rumah makan.

Lalu ia juga menerangkan bahwa pacarnya Intan bukan melarikan diri melainkan sengaja dilepaskan oleh para oknum personil polisi. Selanjutnya dia juga membenarkan bahwa para oknum polisi memintanya untuk menghubungi orang tuanya untuk meminta uang mengamankan kasusnya tersebut.

Usai persidangan Maswan Tambak menguraikan, ketika kasusnya di tahapan penyidikan, keempat oknum yang memeriksa kliennya sudah ditangkap ditahan, menyusul adanya laporan orang tua terdakwa ke Poldasu.

“Itu catatan penting dalam proses penyidikan. Artinya, dengan ditangkapnya keempat oknum penyidik tersebut ada cara-cara yang salah diduga mereka lakukan. Hal itu juga menguatkan indikasi klien kami dikriminalisasi,” tegasnya.

Kedua, ketika ditangkap penyidik dari Polsek Medan Area, terdakwa M Irfandi bersama dengan teman wanitanya bernama Putri Intan Sari Siregar.

“Faktanya apa? Hanya terdakwa yang ditahan. Sedangkan temannya dilepas. Padahal mereka sama-sama ditangkap. Itukan merupakan indikasi tambahan kriminalisasi terhadap terdakwa,” tutup pria yang juga menjabat Kadiv LBH Medan tersebut. (Acong Sembiring)

Comments

comments

Loading...
loading...