Polisi Ungkap Otak Pembunuhan Dua Aktivis di Labuhanbatu

Otak pembunuhan dua orang aktivis, Maraden Sianipar (55) dan Martua P Siregar (42) berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. Pembunuh dua orang korban ini ternyata pemilik perusahaan perkebunan PT Sei Ali Berombang/Koperasi Serba Usaha Amelia bernama Wibharry Padmoasmolo di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.

Wibharry Padmoasmolo menurut polisi telah menyuruh para eksekutor menghabisi nyawa kedua aktivis tersebut. Pembunuhan itu berlatarbelakang dendam terkait konflik lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto, mengungkapkan Wibharry Padmoasmolo (40) alias Harry adalah pemilik perusahaan perkebunan. Pelaku diketahui sudah berkali-kali mengusir dan memperingatkan para penggarap dari kelompok atau grup korban Maraden Sianipar dan pihak-pihak yang menggarap di perkebunan tersebut.

“Karena sering terjadi cekcok dengan para penggarap grup Maraden Sianipar, si Wibharry Padmoasmolo ini memerintahkan para eksekutor untuk menghabisinya,” kata Agus dilansir dari Antara, Jumat, (8/11/2019).

Kepolisian kemudian berhasil mengamankan Victor Situmorang alias Pak Revi dan Sabar Hutapea alias Pak Tati di rumahnya di Sei Berombang Panai Hilir. Kemudian Daniel Sianturi di rumah saudaranya di Desa Janji Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbahas. Lalu Jampi Hutahaean di kos-kosan Jalan Jamin Ginting Kabanjahe Kabupaten Karo.

“Mereka yang ditangkap itu diduga terlibat dalam peristiwa pembunuhan Maraden dan Martua,” ujar Agus.

Agus menuturkan, para eksekutor tersebut dibayar Rp40 juta oleh Harry untuk menghabisi nyawa kedua aktivis Maraden dan Martua. Ketika mengeksekusinya, kata Agus, para pelaku membunuh dengan cara memukul menggunakan kayu sepanjang satu meter dan memasukkan mayat Maraden Sianipar dan Martua Siregar ke parit perkebunan.

BACA JUGA:  Kontraktor Ditembak Anak Bupati Majalengka Saat Tagih Uang Proyek

Kata Agus, masih ada pelaku lainnya yang hingga kini dalam pengejaran, mereka berjumlah tiga orang, yakni Joshua Situmorang (20), Rikky (20) dan Hendrik Simorangkir (38).

“Para pelaku ini akan diancam hukuman mati atau penjara seumur hidup sesuai tindak pidana dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain atau pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam rumusan Pasal 340 subsider 338 junto 55,56 KUHP,” tegasnya.

Martua Siregar dan Maraden Sianipar diketahui semasa hidup mengadvokasi lahan perkebunan kelompok warga yang sering berkonflik dengan PT SAB/KSU Amelia.

Martua Siregar merupakan aktivis yang berkecimpung di bermacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kewartawanan. Namun, lebih aktif di LSM untuk mengadvokasi kelompok warga terkait konflik lahan perkebunan. Sementara, di bidang kewartawanan tidak begitu digeluti.

Se4mentara, Maraden Sianipar yang ikut mengadvokasi konflik lahan merupakan mantan calon anggota legislatif tahun 2019-2024 dari Partai Nasdem dapil IV Panai Tengah dan Panai Hilir.

Antara

Comments

comments

Loading...
loading...