Beranda HUKUM Akhirnya Borok di Balik PAW Caleg PDIP Terbongkar, Komisioner KPU pun Terlibat

Akhirnya Borok di Balik PAW Caleg PDIP Terbongkar, Komisioner KPU pun Terlibat

Akhirnya KPK menetapkan seorang calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari PDIP bernama Harun Masiku sebagai tersangka kasus suap terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Terungkapnya kasus ini sekaligus membuka borok di balik kepentingan yang ada di tubuh sebuah partai politik.

Harun adalah 1 dari 4 tersangka yang telah ditetapkan KPK pada kasus suap ini. Tiga tersangka lainnya ialah Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU, Agustiani Tio Fridelina sebagai orang kepercayaan Wahyu Setiawan yang juga mantan anggota Badan Pengawas Pemilu, dan Saeful sebagai swasta.

Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar menyebut Wahyu dan Agustiani sebagai penerima suap. Sedangkan Harun dan Saeful sebagai pemberi suap.

Pemberian suap untuk Wahyu itu diduga untuk membantu Harun dalam Pergantian Antar Waktu (PAW) caleg DPR terpilih dari Fraksi PDIP yang meninggal dunia yaitu Nazarudin Kiemas pada Maret 2019. Namun, dalam pleno KPU, pengganti Nazarudin adalah caleg lainnya yang bernama Riezky Aprilia.

Namun, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berdalih bahwa partainya memang mendorong Harun Masiku untuk menggantikan posisi Nazaruddin Kiemas yang meninggal dunia di kursi DPR RI. Hasto menjelaskan pemilihan tersebut didasarkan atas jejak karier Harun Masiku yang dinilai bersih.

“Dia sosok bersih dan dalam upaya pembinaan hukum juga selama ini cukup baik track record-nya,” ujar Hasto di JIexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Hasto juga menegaskan bahwa keputusan tersebut telah dipertimbangkan melalui hasil putusan Mahkamah Agung (MA) yang memutuskan bahwa PDIP memiliki hak untuk mengganti Nazarudin Kiemas dengan Harun Masiku.

Hasto mengatakan apabila seorang anggota partai politik yang menduduki jabatan publik meninggal dunia, maka berdasarkan putusan MA, partai politik memiliki hak untuk menentukan penggantian tersebut.

BACA JUGA:  Pemilik Akun Pose Bugil di Gunung Gede Segera Ditangkap Polisi

Pada kasus suap ini, Komisioner KPU Wahyu Setiawan diduga menerima uang sebesar Rp 600 juta sebagai upaya memuluskan permintaan Harun Masiku untuk menjadi anggota DPR pengganti antarwaktu (PAW). Uang suap ini diminta oleh Wahyu Setiawan dikelola orang kepercayaannya Agustiani Tio Fridelina (ATF).

“Dari Rp 450 juta yang diterima ATF, sejumlah Rp 400 juta merupakan suap yang ditujukan untuk WSE (Wahyu Setiawan), komisioner KPU. Uang masih disimpan oleh ATF,” kata Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar dalam jumpa pers di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jaksel, Kamis (9/1/2020).

KPK mengatakan, Wahyu Setiawan pada Rabu (8/1/2020) meminta sebagian uangnya kepada Agustiani Trio Fridelina. “Tim menemukan dan mengamankan barang bukti Rp 400 juta yang berada di tangan ATF dalam bentuk dolar Singapura,” kata Lili.

KPK menyebut uang Rp 400 juta itu merupakan uang yang disiapkan Harun Masiku untuk memuluskan proses penetapan pengganti antarwaktu (PAW). Sedangkan penerimaan lainnya terjadi pada pertengahan Desember 2019, yakni Rp 200 juta. Wahyu Setiawan menerima uang tersebut melalui ATF di salah satu pusat belanja di Jaksel.

 

Kasus suap ini berawal ketika KPU menggelar rapat pleno dan menetapkan Riezky Aprilia sebagai pengganti Almarhum Nazarudin Kiemas. Terjadi lobi ke ATF untuk meloloskan Harun Masiku dalam PAW. ATF kemudian berkomunikasi dengan Wahyu Setiawan untuk membantu proses penetapan Harun Masiku.

“WSE menyanggupi membantu dengan membalas ‘Siap, Mainkan’. Untuk membantu penetapan HAR sebagai anggota DPR pengganti antarwaktu, WSE meminta dana operasional Rp 900 juta,” ujar Lili.

 

loading...