NASIONAL

Ancaman Gelombang Kedua COVID-19 Mengintai DKI Jakarta

Gelombang Kedua
Wabah COVID-19 gelombang kedua di DKI Jakarta berpotensi terjadi, hal itu dinyatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) meski dalam beberapa pekan terakhir tingkat kejangkitan di provinsi itu perlahan menurun.

Jokowi mengatakan COVID-19 gelombang kedua terjadi dipicu oleh arus balik pemudik yang kembali ke Ibu Kota setelah lebaran Idul Fitri. Para pemudik yang kembali ke Jakarta, sedikit atau banyak, justru berpotensi membawa lagi virus corona ke Ibu Kota dan daerah-daerah sekitarnya.

Gelombang kedua virus ini akan terjadi apabila tidak dicegah, bisa terjadi lonjakan kasus baru penularan Covid-19 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kerja keras menghentikan laju penularan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua bulan terakhir bakal berantakan lagi.

Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun belum tegas akan memperpajang atau tidak kebijakan PSBB setelah 4 Juni. Meski kurva epidemi menurun, tingkat penurunannya belum benar-benar aman, karena persentasenya belum memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, yakni jumlah kejangkitan paling sedikit 50 persen selama dua minggu sejak puncak terakhir.

Sementara, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan juga sedari dini menyadari akan potensi gelombang kedua penularan corona di Jakarta seperti yang diperingatkan oleh Jokowi.

Maka sejak awal Anies Baswedan menyingkirkan opsi-opsi yang bersemangatkan melonggarkan PSBB di Ibu Kota, bahkan demi alasan memulihkan kegiatan ekonomi.

Anies meyakini, sekali saja dilonggarkan sama saja dengan menantang marabahaya. Pergerakan orang dari Jakarta ke luar maupun orang luar masuk Jakarta akan lebih leluasa sehingga meningkatkan potensi kasus kejangkitan baru yang justru sedang diupayakan disetop dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Termasuk juga kata Anies, dengan potensi warga Jakarta yang sempat lolos mudik lalu kembali ke Ibu Kota. Mereka yang berkemungkinan akan kembali ke Jakarta dari kampung halaman, sebagaimana dugaan Jokowi, tidak sedikit. Mereka bukan hanya yang berhasil lolos mudik setelah pemerintah resmi melarang pulang kampung, melainkan juga yang sebelum itu, bahkan sebelum Ramadhan.

BACA JUGA:  Anies Baswedan Izinkan Reklamasi, Sandi Kecewa

Anies bahkan memperingatkan dengan keras akan memperketat masuknya warga luar ke Jakarta (dan daerah-daerah sekitar). Semua orang yang akan masuk Ibu Kota harus dapat menunjukkan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) sebagai bukti bahwa orang itu sehat dan tidak terjangkit Covid-19. Kalau tidak, tak ada toleransi: harus balik kanan, berputar arah.

“Pembatasan ini untuk melindungi warga Jakarta; untuk menghargai kerja keras jutaan orang yang berada di rumah, agar kita tidak kembali ke situasi (awal kejangkitan Covid-19 pada) bulan Maret dan bulan April kemarin,” tegas Anies.

“Kita tidak ingin kerja keras kita batal (sia-sia) karena muncul gelombang baru penularan Covid-19,” ujar Anies mengingatkan.

loading...