NASIONAL

Anies Baswedan Akan Kunci Jakarta Saat PSBB Jilid 2, Bisnis Terancam Mati Total

Anies Baswedan
Rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk kembali menerapkan PSBB total guna menekan angka penularan virus corona atau Covid-19 di Ibu Kota, mulai 14 September 2020.

Rencana Anies Baswedan untuk menerapkan PSBB jilid II ini, akan membuat sektor bisnis mati total. Bahkan, akan berdampak pada bisnis di gedung perkantoran kala diwajibkannya WFH saat PSBB Jakarta.

“Kalau kemarin pada PSBB itu bisnis itu tidak bergerak sama sekali, berhenti total. Terutama para penyewa tenant di beberapa mal milik pengusaha pengelola gedung mal, itu ada yang minta sampai benar-benar gratis, totally gratis, kalau nggak dia tidak kuat pasti akan keluar,” ujar Ketua Umum Asosiasi Profesi Pemeliharaan Gedung atau Building Engineering Association (BEA) Mardi Utomo.

Mardi mengatakan saat diizinkan beroperasi, pergerakan bisnis tidak signifikan. Bahkan, para pengelola gedung masih harus memberi diskon hingga 50% bagi para penyewanya.

“Terus new normal (masa transisi) kemarin rata-rata masih minta diskon sekitar 50%, ada yang kita kasih 50% pun ada yang masih belum mau buka usahanya, karena memang visitation ke tempat-tempat publik seperti itu masih ada yang ketakutan, sudah mulai ada pergerakan tapi belum bisa pulih,” jelasnya.

Untuk itu, para pemilik gedung pun terpaksa memberlakukan PHK maupun putus kontrak. “Kalau di PSBB pertama itu pengurangan sudah cukup banyak, terutama pekerja harian, mostly gedung yang kaitannya ada pemeliharaan rutin, pekerja harian itu sudah dikurangi habis-habisan, karena memang income tidak ada,” ujarnya.

Mardi mengatakan apabila Gubernur Anies kembali mewajibkan WFH, maka bukan tidak mungkin dampak-dampak tadi terulang kembali.

“Kalau ini diberlakukan lagi, ada bisnis yang dihentikan kembali itu pasti strateginya akan mencari lagi cara untuk mengurangi biaya operasional untuk menutupi misalnya supaya tidak minus tahun ini, ya salah satunya yang paling gampang itu fake cost, fake cost itu, itu salah satunya tenaga kerja, terus kemudian biaya listrik, listrik juga tidak dapat insentif dari pemerintah,” katanya.

BACA JUGA:  PSBB di Jakarta Diperketat, Banyak Restoran dan Kafe Tutup
loading...