Indeks News, New York – Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York diwarnai aksi walk out massal. Sejumlah delegasi negara meninggalkan ruang sidang saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, naik podium untuk menyampaikan pidatonya,
Momen itu membuat banyak kursi kosong di ruang sidang umum PBB. Meski sempat terdengar tepuk tangan, mayoritas delegasi memilih keluar ruangan. Pimpinan sidang bahkan sempat meminta peserta agar tetap duduk dan mengikuti jalannya forum.
Netanyahu membuka pidatonya dengan mengangkat peta yang ia sebut sebagai “poros teror Iran”. Ia menegaskan ancaman tersebut membahayakan perdamaian dunia. “Tahun lalu saya berdiri di podium ini dan memperlihatkan peta ini, poros teror Iran mengancam kedamaian seluruh dunia,” ujar Netanyahu.
Namun, pidato itu justru menuai kritik keras. Hamas menilai aksi walk out para delegasi menjadi bukti nyata semakin terisolasinya Israel akibat perang Gaza. “Memboikot pidato Netanyahu merupakan manifestasi isolasi Israel dan konsekuensi perang pemusnahan,” tegas Taher al-Nunu, penasihat media kepala biro politik Hamas, dikutip AFP, (27/9/2025).
Anggota biro politik Hamas, Izzat al-Rishq, menyebut Netanyahu hanya didukung oleh segelintir pihak. “Dia tidak mendapatkan apa pun selain sekelompok pendukung yang masuk ke aula PBB hanya untuk bertepuk tangan mendukung genosida,” katanya.
Dalam pernyataan lain, Hamas menuding Netanyahu kembali menyebarkan “kebohongan dan penyangkalan terang-terangan atas genosida, pemindahan paksa, dan kelaparan sistematis” yang dilakukan Israel di Gaza. Hamas menilai, jika Netanyahu benar-benar peduli pada tawanan Israel, ia seharusnya menghentikan pemboman brutal dan penghancuran di Gaza.
Aksi walk out di sidang umum PBB ini menjadi sorotan dunia, sekaligus menegaskan meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel di tengah konflik berkepanjangan di Gaza.





