Beranda INFO SEHAT Fakta Miris, Perawat dan Dokter Bertaruh Nyawa di Tengah Ketidakjujuran Pasien Covid-19

Fakta Miris, Perawat dan Dokter Bertaruh Nyawa di Tengah Ketidakjujuran Pasien Covid-19

Hingga saat ini jumlah perawat dan dokter terinfeksi corona Covid-19 terus bertambah, bahkan menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sudah 24 dokter meninggal dunia saat menangani pasien Covid-19.

Banyaknya kasus perawat atau dokter yang terinfeksi Corona COVID-19 dipicu beberapa faktor. Salah satunya ketidakjujuran pasien ketika berobat atau saat ditanya perihal kronologi penyakitnya. Padahal keterbukaan pasien menjadi kunci bahwa COVID-19 dapat disembuhkan dan penularan dapat dicegah.

Perawat dan Dokter

Perawat dan dokter terimbas Covid-19 ini diungkapkan Nurdiansyah, salah satu perawat yang turut menangani pasien COVID-19 di Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, ketika berbagi pengalamannya di Media Center Gugus Tugas Percepatan penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Minggu (19/4/2020).

Sudah banyak perawat dan dokter yang terinfeksi hingga gugur dalam melaksanakan tugasnya. Bagi Nurdiansyah, hal itu semakin menambah cerita duka bagi dirinya dan juga para tenaga medis lainnya saat melaksanakan tugasnya menangani COVID-19.

“Sudah mulai banyak kasus-kasus yang terjadi dengan kita. Beberapa teman ada yang dirawat. Teman-teman yang tertular dari pasien. Ada yang tertular karena mungkin ketidakjujuran (pasien). Bulan ini kita penuh duka, angka positif dari teman-teman kita semakin banyak, yang meninggal juga,” ujar Nurdiansyah.

Nurdiansyah juga bercerita tentang apa yang sudah dialami oleh rekan-rekannya tentang stigma negatif tenaga medis, khususnya di lingkungan tempat tinggalnya. Mulai dari diusir hingga anggota keluarganya diasingkan dan dikucilkan oleh tentangga.

Perawat dan dokter

 

“Stigma yang negatif tentang perawat COVID-19 mulai dari diusir dari rumah kontrakan, kemudian anak dari perawat juga diasingkan dengan anak tetangganya,” tutur Nurdiansyah.

Nurdiansyah yang tadinya bekerja untuk pasien HIV/AIDS itu menyampaikan harapan kepada semua pihak, pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pencegahan. Menurutnya, satu-satunya upaya melawan COVID-19 dengan pencegahan. Garda terdepan untuk pencegahan yakni masyarakat.

BACA JUGA:  2 Tim Sukses Jokowi Duduki Kursi Empuk Sebagai Komisaris BUMN

“Mari sama-sama kita lakukan pencegahan. Dalam hal ini garda terdepan adalah masyarakat,” ungkap Nurdiansyah.

Peristiwa ketidakjujuran pasien ini juga terungkap di Purwodadi, Jawa Tengah. Petugas medis dan pegawai rumah sakit terkena imbas karena pasien dengan gejala COVID-19 tak bercerita jujur mengenai kondisinya.

Si pasien tidak mengaku bahwa dirinya tak habis bepergian dari luar negeri maupun daerah zona merah COVID-19. Karena pernyataan tersebut, pasien tak ditempatkan di ruang isolasi melainkan di bangsal biasa dengan pasien non-COVID-19.

Setelah perawatan beberapa hari, ditemukan gejala pneumonia. Setelah itu baru pasien mengaku jujur bahwa dirinya habis bepergian ke luar negeri. Pernyataan tersebut lantas membuat seluruh petugas medis yang menangani pasien wajib melakukan rapid test. Ceroboh sekali.

Nasib petugas medis yang tak langsung bertemu dengan pasien COVID-19 pun kini semakin mengkhawatirkan. Sebab, WHO belum lama ini mengeluarkan pernyataan bahwa virus corona COVID-19 bukan hanya menular lewat droplet, melainkan airborne atau menular lewat udara.

Namun, ada catatan penting yang diselipkan WHO dalam pernyataannya itu. Dikatakan di sana, penularan virus corona COVID-19 melalui udara mungkin terjadi ketika melakukan prosedur pendukung yang menghasilkan aerosol.

Aktivitas macam apa itu? WHO memberi contoh, prosedur medis seperti intubasi endotrakeal, bronkoskopi, penyedotan terbuka, pemberian pengobatan nebulisasi, ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah pasien ke posisi tengkurap, memutus hubungan ventilator pada ventilasi tekanan positif non invasif, trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner.

Perawat dan Dokter

Nah, kegiatan seperti itu ternyata banyak dijumpai dalam praktik sehari-hari dokter gigi dan dokter telinga, hidung, tenggorokan (THT). Karena itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengimbau agar dokter gigi dan THT tak beroperasi selama pandemi. Ini dilakukan untuk meminimalisir penularan virus corona COVID-19 pada dokter gigi dan THT.

BACA JUGA:  Pasien Sembuh dari Covid-19 Bertambah 4.545 Orang

IDI: Petugas Kekurangan APD

Sementara, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih menjelaskan dua penyebab utama petugas kesehatan terpapar Covid-19. Pertama, pada saat awal virus tersebut masuk ke Indonesia, banyak petugas keseharan kekurangan alat pelindung diri (APD).

“Banyak sekali kekurangan APD, sehingga kawan-kawan banyak yang melakukan modifikasi APD. Dari modifikasi tersebut, kita tahu bahwa tidak bisa 100 persen mencegah penularan,” kata Daeng dalam sebuah acara diskusi virtual, Sabtu (18/4/2020).

Perawat dan Dokter

Kemudian yang kedua, lanjut Daeng, petugas kesehatan tertular melalui pasien yang tidak menunjukkan gejala klinis Covid-19. Pasien tersebut datang memeriksakan dirinya ke rumah sakit dengan gejala lain. Sementara, dokter tidak mengetahui bahwa pasien tersebut ternyata positif Covid-19.

“Jadi keluhannya lain dan si pasien tidak mengerti kalau dia sudah terinfeksi. Si dokter pun tidak mengerti bahwa yang bersangkutan (pasien) sebenarnya sudah terinfeksi tanpa gejala,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata Daeng, PB IDI meminta semua dokter membatasi praktik tatap muka. Hal ini guna mengantisiapsi penularan dari pasien tanpa gejala klinis. Jika terpaksa harus tatap mula, maka Daeng meminta kepada para dokter untuk memakai APD.

“Kalau dokter terpaksa melakukan praktik tatap muka, maka semua pasien yang dihadapi baik Covid-19 maupun tidak, kita minta untuk pakai APD sesuai dengan petunjuk pencegahan penularan Covid-19,” ungkapnya.

Fakta miris memang. Mereka bertaruh nyawa demi kesembuhan manusia lain, sementara itu alat pelindung diri (APD) yang digunakan tak layak dan tak memadai jumlahnya di saat pandemi COVID-19 seperti sekarang. Lantas, bisa apa?

Dalam laporan Kementerian Kesehatan RI, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Bambang Wibowo mengungkap, kebutuhan APD sangat tinggi di tengah pandemi tapi stok terbatas.

BACA JUGA:  UAS: Ketum MUI Jangan Tergadai Karena Materi dan Tersandera Karena Jabatan

“Kebutuhan APD sangat tinggi, sementara persediaannya terbatas. Pada saat pandemi seperti sekarang, APD ternyata tak hanya digunakan tenaga medis, tetapi pasien dan masyarakat umum pun menggunakannya,” kata Bambang beberapa waktu lalu.

Keterbatasan APD ini menjadi ancaman serius para garda terdepan ini. Mereka yang bertemu langsung dengan pasien COVID-19 dihadapkan pada realita miris yang harus mereka terima. Lagi-lagi, semua demi menjalankan sumpah profesi yang tak boleh mereka abaikan.

APD sangat dibutuhkan karena atribut itu berfungsi sebagai penghalang bahan infeksius seperti virus dan bakteri yang bisa saja menempel di kulit, mulut, hidung, atau selaput lendir mata para tenaga kesehatan.

Tidak hanya itu APD ini pun digunakan untuk memblokir kontaminasi darah, cairan tubuh, dan sekresi pernapasan pasien COVID-19. Lalu, kalau alat pelindungnya saja terbatas, dengan apa para tenaga medis ini berlindung? Makanya, jangan heran kalau banyak dari mereka yang menggunakan jas hujan bahkan galon.

Perawat dan dokter

loading...