HUKUM

Terbongkar Klinik Ilegal yang Telah Aborsi 903 Janin dan Tangani 1.632 Pasien

Polisi telah berhasil membongkar klinik aborsi ilegal di Senen, Jakarta Pusat (Jakpus). Sekalipun baru beroprasi 21 bulan namun jumlah bakal bayi yang sudah diaborsi di klinik ini mencapai 903 janin. Kasus ini terungkap berbekal informasi masyarakat dan promosi via website.

“Ini pengungkapan praktik aborsi yang tidak memiliki izin, kemudian juga tidak memiliki izin melakukan praktik kedokteran. Saya sudah sampaikan 1.632 orang pernah ditangani di sini dengan 903 dia aborsi selama 21 bulan sejak 2018 sampai sekarang ini,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Jalan Paseban, Senen, Jakarta Pusat (Jakpus).

Keuntungan yang diraup dari bisnis ilegal yang tak berperikemanusiaan ini sangat fantastis mencapai Rp 5,5 miliar. Polisi telah menangkap dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka yakni MM sebagai dokter, RM sebagai bidan, dan SI sebagai tenaga kesehatan.

“Total selama 21 bulan pengakuan hampir Rp 5,5 miliar lebih keuntungan yang didapat yang bersangkutan,” ungkap Yusri.

Loading...

Klinik aborsi ilegal ini digrebek aparat pada Selasa (11/2/2020) siang. Ketika terjadi penggrebekan, para tersangka sedang ‘buka praktik’. “Saat itu memang sedang ada praktik aborsi,” ujar Yusri.

Mereka diduga terkoneksi dengan 50 bidan dan dokter nakal serta ratusan calo untuk menggaet pasien. “Jaringan ini mereka punya jaringan sampai 50 bidan di luar, dan ada beberapa perkembangan dengan pemeriksaan terhadap beberapa dokter yang ada. Dia punya, kita sudah lidik, dia punya kaki tangan sekitar 50 bidan dan hampir 100 calo, kan di sini banyak calo aborsi. Salah satu kaki tangannya adalah calo-calo itu, masih kita kembangkan,” jelas Yusri.

Polisi menegaskan penyidikan kasus ini tak berhenti hanya pada tiga tersangka ini saja, penyidik juga sedang mengejar seorang DPO dan beberapa dokter yang diduga ikut menyokong kegiatan aborsi di klinik ini. Ketiga tersangka ini pun, merupakan residivis kasus yang sama beberapa tahun yang lalu

BACA JUGA:  Parah! Seorang PNS Gelapkan Uang Infak Masjid Raya Sumbar Miliaran Rupiah untuk Berfoya-foya

“Ada beberapa yang masih DPO, kita akan kembangkan lagi karena kita dapat info bahwa tempat ini dijadikan tempat titipan aborsi oleh beberapa dokter. Ada beberapa dokter yang lakukan aborsi, lakukannya di sini, ada beberapa dokter yang lakukan aborsi dibawa ke klinik ini sementara ini klinik ilegal,” jelas Yusri membeberkan strategi tersangka MM cs melebarkan sayap bisnis ilegalnya.

Klinik ini juga menyediakan jasa aborsi dengan tarif bervariasi mulai dari Rp 1 hingga 15 juta. Contohnya, biaya menggugurkan janin berusia satu bulan Rp 1 juta, janin dua bulan Rp 2 juta dan untuk yang berusia tiga bulan Rp 3 juta.

“Di atas itu Rp 4 juta sampai 15 juta,” ungkap Yusri.

Polisi telah menyita peralatan medis, buku catatan pasien dan sejumlah obat-obatan sebagai barang bukti, polisi turut mengamankan dua janin berusia 6 bulan yang sudah diaborsi. Namun Yusri tak menyebutkan secara rinci di bagian rumah mana kedua janin itu ditemukan.

“Terakhir barang bukti kami temukan janin umur 6 bulan, dua orang, janin kita temukan saat itu,” kata Yusri.

Saat ini penyidik sedang mendalami ke mana ratusan janin itu dibuang oleh ketiga tersangka. Namun berkaca dari kasus-kasus serupa sebelumnya, pelaku aborsi kerap mengubur hasil kejahatannya di dalam septic tank.

“Kalau (kasus klinik aborsi, red) biasanya kami temukan adalah di septic tank. Kami masih dalami yang bersangkutan. Modus-modus biasanya yang kami ungkap selama ini ditaruh di septic tank ya. Kami masih dalami karena belum mau bicara sampai ke sana,” ujar mantan Kabid Humas Polda Jawa Barat (Jabar) ini.

Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis, yakni UU kesehatan UU Nomor 36 tahun 2009, UU tentang Tenaga Kesehatan UU Nomor 36 tahun 2014 dan UU RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. “Ancaman 5 tahun, dan UU tentang kesehatan pidana 10 tahun kesehatan,” kata Yusri.

BACA JUGA:  Benarkah Buronan KPK, Nurhadi Bersembunyi di Salah Satu Apartemen Mewah?

 

Comments

comments

Loading...
loading...