INTERNASIONAL

Tragedi Uighur Fakta atau Hoax?

Ketatnya Pemerintahan China mengawasi dan membatasi akses para relawan menyalurkan bantuan untuk Muslim Uighur di Xinjiang, disampaikan oleh Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ibnu Khajar setelah diskusi bertema “Tragedi Uighur Fakta atau Hoax?” di Serpong, Tangerang Selatan, Senin (3/2/2020). 

Ibnu Khajar menyebutkan relawan ACT telah berupaya menembus Xinjiang untuk menyerahkan bantuan dan donasi yang terkumpul. Namun, aparat Tiongkok melarang relawan asing masuk lebih dekat ke Xinjiang.

Dijelaskan Ibnu, pihaknya memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak, bantuan biaya hidup kepada keluarganya. Alhamdulillah bantuan dari umat Islam Indonesia telah mulai kita salurkan kepada mereka, bantuan biaya hidup, bantuan agar mereka memiliki keahlian. “Bantuan-bantuan kita ini hanya bisa diserahkan kepada mereka yang di luar Xinjiang,” ujar Ibnu.

Beberapa keluarga mengungsi ke wilayah-wilayah di luar Xinjiang, ada di Uzbekistan, di Turki, di tempat-tempat yang lain. Ibnu Khajar menceritakan, bagaimana pengakuan relawan-relawan ACT menghadapi banyak kesulitan untuk mengenali etnis Muslim Uighur.

Loading...

Para etnis Muslim Uighur disebutkan mengalami trauma psikologis berat, lantaran tak berani terang-terangan menunjukkan aktivitasnya sebagai penganut Muslim.

“Kita datang mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka untuk menjawab salam itu harus lirik kiri dan kanan, begitu takutnya mereka diawasi. Begitupun saat kita masuk ke masjid, bertanya identitas segala macam guna mendata penyaluran bantuan, mereka langsung merasa ketakutan dan membubarkan diri, kita menyebut Uighur saja mereka nggak berani merespons,” ujarnya.

Sebelumnya, kelompok HAM termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch memberikan laporan kepada komite PBB mengenai penahanan massal di Kamp Konsentrasi. Di sana, para tahanan dipaksa dan dicuci otak agar tunduk pada ideologi komunisme.

“Kita meyakini dari data-data valid yang dilansir oleh Amnesty International dan lembaga-lembaga yang sudah melakukan proses investigasi sudah menemukan terjadinya pembentukan kamp konsentrasi di Uighur,” ujarnya.

BACA JUGA:  Virus Corona Serang Italia, Tiga Pertandingan Serie A Diundur

Disampaikan, bahwa tragedi Uighur adalah fakta di mana terjadi kekerasan oleh negara terhadap etnis Muslim di Xinjiang.

“Diskusi membahas situasi sebenarnya di Uighur ini penting, untuk mengedukasi masyarakat pula bahwa tragedi di sana itu fakta. Kan ada juga beberapa ormas di Indonesia yang berkunjung ke sana dan menyebut di sana biasa-biasa saja. Kelemahannya, mereka yang mengecek ke sana tidak memiliki kapasitas untuk investigasi. Sehingga apa yang ditunjukkan pemerintah Tiongkok hanya luarnya saja, yang ditunjukkan itu ada pelatihan menjahit, pelatihan BLK, dan sebagainya,” pungkasnya.

Comments

comments

Loading...
loading...