Beranda NASIONAL Jakarta Kembali Terpapar Banjir, Anies Ditagih

Jakarta Kembali Terpapar Banjir, Anies Ditagih

Badan Meteorologi Klomatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jakarta dan sekitarnya masih diguyur hujan lebat hingga tiga hari ke depan. Prakirawan cuaca BMKG, Irsal Yuliandri mengatakan, hujan akan berlangsung di pertengahan malam dan dini hari.

“Intensitasnya bisa sedang hingga lebat disertai dengan kilat petir,” kata Irsal dikutip dari BBC News Indonesia, Minggu, (23/02/2020).

Irsal mengatakan, secara umum cuaca ekstrem akan berlangsung hingga Maret 2020 mendatang, termasuk wilayah Jabodetabek. “Untuk Sumatera bagian selatan, kemudian sebagian Jawa mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, NTB hingga NTT memang dari bagian iklim klimatologi BMKG prakiraan puncak musim hujannya di bulan Februari dan Maret,” katanya.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Juaini dalam keterangan sebelumnya mengatakan dalam jangka pendek Pemprov DKI Jakarta akan memaksimalkan pompa penyedot air. “Jangka pendek, kita maksimalkan pompa-pompa yang deket lokasi, yang kena dampak,” ucap Juaini, Kamis (20/02).

Sementara itu, untuk jangka panjang, Pemprov DKI Jakarta akan membuat waduk di daerah hulu yang akan melibatkan pemerintah daerah lainnya. Pihak DKI juga akan melakukan pengerukan sungai-sungai besar.

Sedangkan, Gubernur Anies Baswedan mengatakan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta akibat hujan lokal. Kata dia, genangan air akan surut diikuti turunnya permukaan air laut. “Dengan permukaan air laut yang surut, Inshaallah nanti penurunan akan lebih cepat,” katanya kepada BBC News Indonesia, Minggu (23/02/2020).

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna menilai Pemprov DKI Jakarta sudah diberikan peringatan dengan prediksi hujan dari BMKG. Namun kata Yayat, pemerintah DKI Jakarta di bawah pimpinan Anies Baswedan pun tak punya gagasan yang jelas dalam mengendalikan banjir dan dengan banjir terbaru maka gagasannya kembali ditagih.

BACA JUGA:  UAS: Ketum MUI Jangan Tergadai Karena Materi dan Tersandera Karena Jabatan

“Tapi setelah itu gubernur tidak ada gagasan lagi. Sesudahnya ini (mau) apa?” katanya, Minggu (23/02/2020) dikutip dari BBC News Indonesia.

Yayat pun menilai saat ini korban banjir sudah dalam posisi apatis terhadap pemerintah Jakarta. Tiap kali banjir datang, masalahnya tak kunjung selesai. “Kesan trauma dari warga. Warga sudah lelah karena beberapa kali kena banjir dia sudah mengatakan, kalau mau dikomentarin toh nanti masalahnya tidak terselesaikan,” ujarnya.

Penanganan banjir saat ini menurut yayat berbeda dengan pemerintahan Jakarta sebelumnya. Di era Ahok, kata Yayat, gagasan tentang mengurangi dampak risiko banjir dijawab dengan pembuatan rumah susun khusus warga Jakarta yang tinggal di lokasi langganan banjir.

“Lima puluh ribu unit rumah susun itu akan digunakan untuk program relokasi warga yang tempatnya sering kebanjiran. Jadi sudah ada konsep sudah ada gagasan,” pungkas Yayat.

loading...