Beranda HUKUM KPK Belum Telusuri Aliran Dana ke Petinggi PDIP Terkait Kasus Suap Wahyu...

KPK Belum Telusuri Aliran Dana ke Petinggi PDIP Terkait Kasus Suap Wahyu Setiawan

Sumber Foto: Antara
Aliran dana kasus suap terhadap Komisiober Komisi Pemilihan Umum, Wahyu Setiawan hingga kini belum ditelusuri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terutama aliran dana dari pihak lain termasuk dari petinggi PDIP. Hal ini sempat disinggung saat KPK mengumumkan penetapan tersangka dalam kasus ini.

“Kita belum sampai materi ke sana ya. Nanti untuk perkembangannya tentu nanti kami sampaikan, sepanjang masih relevan untuk kami sampaikan,” ujar Pelaksana Tugas Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, dikutip dari alinea.id, Selasa (21/1/2020).

Ketika mengumumkan penetapan tersangka kasus tersebut pada 9 Januari lalu, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar mengatakan pihak KPK belum mengetahui sumbernya karena penyidik masih melakukan penelusuran.

Uang tersebut diduga berasal dari petinggi PDIP agar Wahyu membantu penetapan Harun Masiku sebagai anggota DPR RI. Harun akan menjadi pengganti Nazarudin Kiemas, yang meninggal sebelum dilantik sebagai anggota dewan, melalui skema penggantian antarwaktu atau PAW.

Kata Ali Fikri, KPK saat ini masih menelusuri aliran suap dari tersangka yang telah ditetapkan. Hari ini, penyidik menelusurinya dengan memeriksa Wahyu dan tersangka Agustiani Tio Fridelina, serta advokat PDIP Donny Tri Istiqomah yang berstatus saksi.

“Pemeriksaan terkait dengan pemberian uang dari tersangka Pak SAE (Saeful Bahri) kepada Pak WSE (Wahyu Setiawan), masih seputar itu,” ujar Ali Fikri.

Sementara, Wahyu Setiawan mengaku dirinya telah dimintai keterangan untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Harun Masiku. Saat disinggung fokus pemeriksaan, Wahyu mengaku sudah lupa. “Waduh pertanyaannya banyak sekali. Lupa. Banyak sekali pertanyannya, saya lupa,” ujar Wahyu.

Wahyu diduga telah meminta uang sebesar Rp900 juta kepada Harun guna menjadikannya sebagai anggota DPR RI. Permintaan itu, dipenuhi oleh Harun. Namun, pemberian uang itu dilakukan secara bertahap dengan dua kali transaksi yakni pada pertengahan dan akhir bulan Desember 2019.

BACA JUGA:  Berebut Kencan dengan Wanita Indonesia, Warga Ghana Ini Tewas Ditikam Temannya Sendiri

Wahyu pertama kali menerima Rp200 juta dari Rp400 juta yang diberikan oleh sumber yang belum diketahui KPK. Uang tersebut diterimanya melalui Agustiani di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Pada pemberian kedua, Harun memberikan Rp850 juta pada Saeful, melalui seorang stafnya di DPP PDIP. Saeful kemudian memberikan Rp150 juta kepada Donny Tri Istiqomah. Adapun sisa Rp700 juta diberikan kepada Agustiani, dengan Rp250 juta di antaranya untuk operasional dan Rp400 juta untuk Wahyu.

Akan tetapi upaya Wahyu menjadikan Harun sebagai anggota DPR RI pengganti Nazarudin tak berjalan mulus. Hal ini lantaran rapat pleno KPU pada 7 Januari 2020 menolak permohonan PDIP untuk menetapkan Harun sebagai PAW. KPU bertahan menjadikan Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin.

Namun demikian, Wahyu terus menghubungi Donny dan menyampaikan tetap berupaya menjadikan Harun sebagai PAW.

Maka, pada 8 Januari 2020, Wahyu meminta uang yang diberikan Harun kepada Agustiani. Namun saat hendak menyerahkan uang tersebut kepada Wahyu, penyidik KPK menangkap Agustiani dengan barang bukti Rp400 juta dalam bentuk dolar Singapura.

loading...