ENTERTAINMENT

Meningitis Menyerang Glenn Fredly Sebelum Ia Mengembuskan Nafas Terakhir, Apa Itu Meningitis?

Meningitis
Ternyata musisi Glenn Fredly mengidap meningitis atau radang selaput otak sebelum meninggal dunia, Rabu (8/4/2020). Penyanyi bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo ini sempat masuk rumah sakit pada 9 maret 2020 lalu.

Apa itu meningitis?

Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Meningitis terkadang sulit dikenali, karena penyakit ini memiliki gejala awal yang serupa dengan flu, seperti demam dan sakit kepala.

Meningitis dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit. Kondisi-kondisi tertentu, seperti melemahnya sistem imun tubuh, juga dapat memicu munculnya meningitis.

Semua golongan usia berpotensi terjangkit meningitis, termasuk bayi. Apabila meningitis tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memburuk dan memicu komplikasi seperti kejang dan gagal ginjal.

Gejala dan Faktor Pemicu Meningitis

Meski gejalanya awalnya mirip dengan flu, meningitis tetap harus diwaspadai, karena juga dapat menimbulkan kejang dan kaku pada leher. Pada bayi di bawah usia 2 tahun, meningitis umumnya ditandai dengan memunculkan benjolan di kepala.

Ada beberapa faktor yang dapat memicu meningitis, antara lain:

  • Infeksi kuman.
  • Penyakit kanker dan lupus.
  • Efek samping obat dan operasi otak.

Risiko terkena meningitis juga akan meningkat pada ibu yang sedang hamil atau lupa menjalani imunisasi.

Cara Mengobati dan Mencegah Meningitis

Pengobatan meningitis umumnya berbeda-beda tergantung kepada penyebabnya. Sebagai contoh, dokter bisa meresepkan obat antimikroba, atau menjalankan terapi lain bila meningitis disebabkan oleh kanker atau lupus.

Penyakit ini bisa dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat dan menghindari kondisi yang dapat memicu penyebaran infeksi. Guna meningkatkan kekebalan tubuh dari kuman penyebab meningitis, lakukan vaksinasi (termasuk vaksin PCV) sesuai anjuran dokter.

BACA JUGA:  Pemberantasan Covid-19 di Selandia Baru Sukses, Penderita Tinggal 1 Orang

Infeksi Otak lainnya Yang Perlu Anda Ketahui

Infeksi otak adalah kondisi saat otak atau jaringan di sekitarnya terinfeksi virus, bakteri, jamur, atau parasit. Gangguan yang muncul akibat infeksi otak tergantung pada bagian otak yang terkena infeksi. Namun, sebagian besar kasus infeksi otak bisa menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak segera diobati.

Infeksi otak dapat menimbulkan beragam gangguan bagi penderitanya. Pasalnya, otak merupakan salah satu organ paling kompleks dan berperan penting dalam mengendalikan banyak fungsi tubuh, mulai dari pergerakan, mengatur refleks dan koordinasi tubuh, berpikir, berkonsentrasi, hingga menentukan sikap dan perilaku.

Beberapa Jenis Infeksi Otak

Infeksi otak bisa memengaruhi berbagai organ lain, sehingga menghasilkan gejala yang berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis infeksi otak berdasarkan lokasi terjadinya infeksi dan penyebabnya:

Ensefalitis

Ensefalitis merupakan peradangan yang terjadi pada otak akibat infeksi virus. Beberapa virus yang paling sering menyebabkan kondisi ini adalah virus herpes simpleks, varisela atau cacar air, virus Epstein-Barr, dan campak.

Kendati demikian, ensefalitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur. Hanya saja, ensefalitis akibat bakteri dan jamur lebih jarang terjadi. Ensefalitis biasanya muncul bersamaan dengan meningitis. Kondisi ini dikenal dengan sebutan meningoensefalitis.

Jika Anda mengalami demam tinggi dan sakit kepala, lalu beberapa jam atau hari kemudian Anda sulit berbicara, linglung, tubuh sulit digerakkan, dan kejang, segeralah temui dokter karena gejala-gejala tersebut kemungkinan disebabkan oleh ensefalitis.

Abses otak

Abses otak dapat terjadi di bagian otak mana saja. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah dan pembengkakan di otak.

Gejala abses otak dapat muncul secara perlahan atau tiba-tiba. Kondisi ini dapat dikenali dari menurunnya kemampuan berbahasa dan menggerakkan tubuh, gangguan penglihatan, lambat dalam memberikan respons atau berpikir, mual muntah, sulit fokus, dan mudah mengantuk.

BACA JUGA:  Covid-19: Iran Akan Buka Mesjid Untuk Shalat Berjamaah

Abses otak perlu segera ditangani oleh dokter. Jika tidak, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti kerusakan otak permanen atau kecacatan dan kematian.

Toksoplasmosis

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii yang menyerang organ tubuh tertentu, termasuk otak.

Sebagian orang yang terkena toksoplasmosis tidak mengalami gejala. Namun, infeksi otak akibat toksoplasmosis bisa menimbulkan gejala berupa demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, kejang, penurunan kesadaran, atau gangguan koordinasi tubuh.

Penyakit ini rentan terjadi pada orang yang sering bersentuhan dengan kotoran kucing atau memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya karena pengobatan kemoterapi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan, dan infeksi HIV.

Malaria serebral

Merupakan infeksi otak yang disebabkan oleh malaria. Penyakit ini biasanya terjadi akibat komplikasi dari penyakit malaria yang tidak diobati.

Penderita infeksi otak ini biasanya akan merasakan beberapa gejala berupa demam, menggigil, kejang, mual muntah, kesulitan bicara, gangguan pendengaran atau penglihatan, sakit kepala berat, perubahan perilaku, serta penurunan kesadaran atau koma.

Apa pun penyebab dan jenisnya, infeksi otak adalah penyakit berbahaya yang perlu segera diperiksakan dan diobati oleh dokter. Jika terlambat diobati, infeksi otak berisiko tinggi menyebabkan kecacatan atau bahkan kematian.

Apa yang Membuat Anda Berisiko Terkena Infeksi Otak?

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi otak, yaitu:

Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV/AIDS, efek samping kemoterapi, diabetes, kecanduan alkohol atau penyalahgunaan obat terlarang
Terdapat infeksi pada gigi dan rongga sinus
Belum mendapatkan vaksinasi
Mengalami cedera kepala
Berusia lebih dari 60 tahun

Jika Anda merasakan gejala infeksi otak, apalagi jika memiliki faktor risiko di atas, segeralah periksakan diri ke dokter.

BACA JUGA:  Film Riki Rhino Hadir Melalui Website Interaktif Menemani Keluarga.

Untuk mendiagnosis dan mencari tahu penyebab infeksi otak, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap dan cairan serebrospinal untuk menentukan bakteri, jamur, parasit, atau virus penyebab infeksi.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang pada otak, seperti MRI, CT scan, serta EEG untuk memeriksa kondisi otak dan menentukan bagian otak yang terinfeksi.

Setelah menentukan diagnosis infeksi otak dan penyebabnya, dokter akan memberikan penanganan yang sesuai untuk membasmi penyebab infeksi dan mencegah terjadinya komplikasi. Biasanya, penderita infeksi otak perlu dirawat di rumah sakit dan mendapatkan penanganan secara intensif.

dari Berbagai sumber

Comments

comments

loading...