KRIMINAL

Pollycarpus Ungkap Kejanggalan Kasus Pembunuhan Aktivis Munir

Pollycarpus Budihari Prijanto, terpidana kasus pembunuhan pegiat Hak Asasi Manusia, Munir Said Thalib, bebas murni dari hukuman 14 tahun penjara, pada Rabu 29 Agustus 2018. Surat pembebasan dirinya diberikan Balai Pemasyarakatan Bandung, Jawa Barat.

Kepada wartawan, Pollycarpus membeberkan bahwa dirinya hanya sebagai kambing hitam dalam kasusnya. “Saya ingin minta pembuktian sampai sekarang juga enggak bisa. Jadi kalau mau dilihat dari hasil autopsi dan lain-lain itu enggak masuk semua,” ujar Pollycarpus.

Ia pun mengungkapkan, sejumlah kejanggalan atas tuduhan pembunuhan kepada dirinya. Pollycarpus berkata, tuduhan yang diberikan kepadanya adalah meracuni Munir dengan racun arsenik yang dibubuhkan pada orange jus.

“Jadi waktu itu tuduhannya dengan orange jus tapi vonisnya dengan mi goreng sedangkan mi goreng tidak ada dalam surat dakwaan,” tuturnya.

Kemudian lanjut Pollycarpus, dirinya divonis 14 tahun penjara pada sidang pertama, 2005 silam. Dari vonis tersebut, ia hanya menjalani 2 tahun penjara. Namun saat di Malaysia, ia mengaku dipanggil untuk sidang ulang.

“Ini janggal. Sudah inkracht dengan kasus yang sama, saya dihukum ulang. Locus delicti juga berbeda. Pertama Jakarta-Singapura, kedua Singapura-Amsterdam,” kata Poly.

Menurutnya, hasil autopsi Belanda menyebutkan indeks time racun masuk ke tubuh 8 jam sebelum meninggal jarak sementara terbangnya 12 jam 25 menit. Munir meninggal dua jam sebelum mendarat, jika ditarik mundur 2 jam 25 menit itu saat di Singapura.

“Dan saya turun di Singapura,” kata Poly.

Sebagai opini pembanding, hasil autopsi dari Seatle Amerika Serikat yang menyatakan racun masuk di tubuh Munir sembilan jam sebelum meninggal. Itu artinya, satu jam 25 menit setelah take off dari Singapura.

Sementara dalam keterangan lain, Pollycarpus menyebut Munir diracun di cafe Bean. Lokasi tersebut berada di terminal kedatangan Bandara Changi lantai tiga. Sementara dia mengaku berada di lantai dua.

“Keluar pesawat, saya langsung ke imigrasi, masuk bus dan ke hotel,” katanya.

Meski demikian, mantan pilot Garuda Indonesia ini mempersilakan para pihak yang tak puas dengan hasil persidangan. Ia pun memilih untuk fokus bekerja.

Comments

comments

loading...