Beranda BUDAYA Profil Perempuan dalam Teks Sastra Pengarang Minangkabau

Profil Perempuan dalam Teks Sastra Pengarang Minangkabau

DR. Hermawan, M.Hum

Perempuan
Profil Perempuan Minangkabau di dalam Teks Sastra Adalah Perempuan Yang Idealis dan Pragmatis. Idealis dalam Hal Menjaga Nilai-nilai dan Norma Yang Berlaku, Pragmatis dalam Hal menjaga Keselamatan dan Kepentingan Keluarganya

Profil perempuan idealis adalah perempuan-perempuan yang berpandangan hidup ideal, penuh tanggung jawab terha­dap diri sendiri dan lingkungannya, punya nilai cinta kasih yang luhur tanpa pamrih serta luas dalam mene­tapkan harapan.

Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan batin. meskipun mereka kurang diperlakukan adil oleh laki-laki. Mereka digambarkan sebagai perempuan-perempuan yang berpandangan hidup ideal, mandiri, tegas, tabah, bertanggung jawab, berbudi luhur, punya harapan  untuk menuntut persamaan hak dari kaum lelaki.

Disebabkan situasi serta keadaan masyarakat waktu itu, kehidupan mereka tertekan sehingga ruang gerak mereka terbatas. Pilihan dalam hidup tidak terlalu banyak alternatif. Akibatnya mereka selalu pasrah menerima nasib.

Profil perempuan dalam teks sastra pengarang Minangkabau menyatakan perempuan idealis. Mereka adalah perempuan yang kokoh di dalam berbagai kehidupannya. Pandangan hidupnya tegas, penuh tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Memiliki nilai-nilai cinta kasih yang luhur tanpa pamrih serta luas dalam menetapkan cita-cita yang diinginkan. Hal yang bersifat kebendaan tidak menarik perhatian mereka. Kebahagiaan bagi mereka adalah kebahagiaan batin. Hal-hal yang bersifat hakiki menjadi obsesi mereka (Hasanuddin’ 2016: 18).

Profil perempuan pragmatis digambarkan sebagai perempuan-perempuan yang berpandangan luas, namun terkadang tidak mengenal batas-batas tertentu karena sikap terbuka mereka. Kondisi zaman serta tuntutan kehidupan yang semakin kompleks menyebabkan mereka berpikir sejalan dengan tuntutan tersebut, mereka lebih mengutamakan hal-hal yang nyata dan logis menurut pemikiran mereka.

Oleh sebab itu,  hal-hal yang bersifat material menjadi orientasi mereka karena orientasi material inilah yang kemudian menyebabkan mereka “mengabaikan” nilai-nilai etika yang telah ditetapkan oleh norma-norma yang ada. Mereka cenderung tidak tahan dengan penderitaan, sukar dipercaya untuk menerima amanah, serta harapan yang diinginkan adalah kebahagiaan yang lebih bersifat duniawi.

Perempuan
FOTO: Fuaddy Chaidir Rosha

Profil perempuan pragmatis memiliki profil yang berlawanan dengan idealis. Tokoh-tokoh perempuan pragmatis adalah perempuan-perempuan yang hidup dengan pola pikir, sikap, dan tindakan yang pragmatis dan didasari pada nilai-nilai yang bersifat praktis.

Akibatnya, orientasi mereka hanya pada hal-hal yang sesaat, sehingga profil mereka yang pandangan hidupnya pada hal-hal yang materialistis, kurang bertanggung jawab, selalu memperhitungkan jasa dan pamrih, bercita-cita pada hal-hal yang materialistis dan praktis pula (Hasanuddin, 2016: 18).

Posisi perempuan Minangkabau adalah posisi utama dan dominan di dalam penyelenggaraan pendidikan dan penanaman nilai-nilai di dalam keluarga.

Posisi perempuan Minangkabau tidak hanya berperan sebagai seorang ibu bagi anaknya, melainkan juga seorang perempuan idealis. Hal itu terlihat dari pendidikan yang diberikan kepada anaknya: pendidikan yang ideal.

Oleh karena itu, pendidikan untuk anak laki-laki muda atau bujang tidak diserahkan oleh tokoh ibu ke surau. Tidak pula pernah tinggal atau bermalam di surau sebagaimana layaknya laki-laki muda lainnya di Minangkabau.

Anak-anak mereka tinggal di istana dan mendapat pendidikan di istana. Jika anak bujang tinggal di surau karena status sosialnya dipandang rendah atau tidak sempurna sebagai warga masyarakatnya (Navis, 1986:109), anak bangsawan justeru dipandang berharga dalam keluarganya dan mereka mendapat perlakuan istimewa dalam kalangan istana, yaitu adanya pelayan-pelayan untuk mereka. Oleh karena itu, anak bangsawan tidak mendapat pendidikan di surau, melainkan di istana.

Perempuan
Foto: Fuaddy Chaidir Rosha

Pendidikan anak bangsawan di istana diambil alih langsung oleh tokoh ibu, bukan tokoh lain. Pengambilalihan pendidikan anak oleh tokoh ibu dalam kaba itu menyatakan bahwa tokoh ibu bukan perempuan sembarangan, bukan seorang perempuan biasa-biasa saja, melainkan seorang perempuan multi talenta yang memiliki banyak keistimewaan.

Seorang “grand master”, guru besar yang menguasai banyak bidang ilmu dan cerdas lagi cendikia. Ia mempunyai pandangan yang luas tentang nilai dan adat serta pengetahuan agama yang mendalam. Ia menguasai banyak keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh laki-laki, seperti main catur, berkuda, pencak silat, sabung ayam dan ilmu kebatinan atau ilmu gaib.

Peran perempuan Minangkabau sangat efektif di dalam membentuk karakter anggota keluarganya.

Kajian terhadap profil perempuan Minangkabau  ditujukan kepada aspek personality atau kepribadian tokoh-tokoh perempuan. Istilah kepribadian  juga berkaitan dengan istilah karakter, yang diartikan sebagai totalitas nilai yang mengarahkan manusia dalam menjalani hidupnya (Mu’in, 2011: 162).

Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral (Mu’in, 2011:160). Dengan demikian, profil perempuan Minangkabau berkaitan erat dengan karakter perempuan.

Dalam artian bahwa profil perempuan itu menggambarkan karakter dari perempuan. Perempuan yang idealis akan membentuk anak-anak yang berkarakter idealis. Karakter idealis tentu saja yang berpandangan hidup ideal, mandiri, tegas, tabah, penuh tanggung jawab terha­dap diri sendiri dan lingkungannya, punya nilai cinta kasih yang luhur tanpa pamrih serta luas dalam mene­tapkan harapan.

Sedangkan perempuan yang pragmatis tentu akan membentuk anak praktis yaitu yang berpandangan luas, namun terkadang tidak mengenal batas-batas tertentu karena sikap terbuka mereka.

Kondisi zaman serta tuntutan kehidupan yang semakin kompleks menyebabkan mereka berpikir sejalan dengan tuntutan tersebut, mereka lebih mengutamakan hal-hal yang nyata dan logis menurut pemikiran mereka.

Oleh sebab itu,  hal-hal yang bersifat material menjadi orientasi mereka karena orientasi material inilah yang kemudian menyebabkan mereka “mengabaikan” nilai-nilai etika yang telah ditetapkan oleh norma-norma yang ada. Mereka cenderung tidak tahan dengan penderitaan, sukar dipercaya untuk menerima amanah, serta harapan yarg diinginkan adalah kebahagiaan yang lebih bersifat duniawi.

Pendidikan Yang Ideal Berdasarkan Nilai dan Norma Minangkabau Adalah Pendidikan Yang Dikelola Secara Bersama Antara Ibu, Ayah, dan Mamak (Paman),

Perempuan
Foto: Fuaddy Chaidir Rosha

Ibu merupakan seorang perempuan multi talenta. Seorang “grand master” menguasai berbagai bidang ilmu, cerdas lagi cendekia; mempunyai pandangan yang luas tentang nilai dan adat; mempunyai ilmu agama yang mendalam; menguasai berbagai keterampilan. Dalam pendidikan Minangkabau yang matrilineal peran ibu dan mamak merupakan dua peranan yang sejalan; dwitunggal. Pendidikan terhadap anak di dalam rumah tangga diberikan oleh ibu, sedangkan membimbing kekemenakan, memberi nafkah, memberi gelar pusako dan harta pusaka adalah mamak.

Menurut sistem sosial Minangkabau, mamak/paman diangapbertanggung jawab terhadap keluarga besar matrilinealnya. Mamak mesti bertanggung jawab terhada kesejahteraan kemenakannya, sehingga mamak mempunyai tuangung jawab yang sama dengan seorang ayah dalam masyarakat dengan sistem keluarga inti (Junus, 1984: 51-52).

Adigium adat mengatakan: anak dipangku kemenakan dibimbing (anak dipangku, ponakan dibimbing) dan ketek anak ayah dan ibu gadang kamanakan mamak (ketika kecil (belum baliq atau dewasa) anak dari ayah dan ibu, sudah besar (sudah baliq/dewasa ponakan/kemenakan mamak (paman); ketek dibari namo dek ayah dan ibu, gadang diagiah gala dek mamak (ktika kecil (belum baliq/dewasa) diberikan nama oleh ayah dan ibu, setelah dewasa (setelah baliq/dewasa) diberi gelar pusaka/kaum oleh mamak. Hubungan mamak dengan kemenakan harmonis. Kemenakan mendukung perkawinan yang ideal dalam sistem matrilinal Minangkabau, yaitu mengawini anak mamak.

Pendidikan dan Penanaman Nilai-nilai pada Wilayah Domestik Efektif Dikelola Oleh Sosok Ibu.

Pendidikan wilayah domesik sebagaimana yang telah diungkapkan di atas sengatlah baik dikelola oleh perempuan/ibu karena mereka lebih tahu akan jiwa anak-anak daripada yang lelaki. Nilai-nilai pertama kali tertanam kepada anak yaitu saat dalam kandungan. Jiwa dan pendidikan seorang ibu saat mengandung merupakan pengejawantahan akan jiwa dan karater seorang anak. Anak akan lebih dekat dengan ibunya terutama saat beumur di bawah lima tahun dan menyusui. Kasih sayang ibu tertanam ketika anak masih berusia di bawah lima tahun.

Pola asuh perempuan idealis akan mendidik anak sesuai dengan pendidikan yang diberikan oleh ibunya. Pendidikan ini berupa pandangan hidup yang dijalani sehari-hari dan dipatuhi serta ditauladani secara turun temurun. Idealnya hanya untuk kehidupan sehari-harinya dalam kehidupan sosial budaya lingkungan rumah gadang dan matrilininya saja. Perempuan hanya dididik di atas rumah gadang saja. Untuk lelaki bila akan merantau akan didik oleh para pamannya atau lelaki dalam matrilini baik di rumah gadang itu sendiri maupun di surau. Surau dalam pengertian ini adalah kehidupan sosial pendidikan bagi kaum matrilini saja terutama bagi anak lelaki. Surau pada masa ini dipunyai oleh kaum dan hanya untuk kaum rumah gadang dan matrilininya saja.

Wilayah domestik adalah wilayah yang sangat penting sekali karena di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan seperti agama, sopan santun, akhlak, keimanan, tata karma bergaul baik dalam keluraga maupun di luar keluarga, aturan adat yang dipakai dan hubungnan antar kerabat dalam keluarga. Bagi budaya Minangkabau keluarga bukan saja ayah dan ibu tetapi lebih besar lagi dari itu. Semua saudara/keluarga dari ibu merupakan keluarga.

Aturan tentang itu semua ibu yang sangat bisa menanamkan lebih awal yaitu semenjak dari kecil. Ibu memberikan pendidikan kepada anaknya, dan cara penyapaan anak dengan menggunakan kata-kata menyejukkan hati anaknya.

Ibu mendidik anaknya tentang nilai-nilai keberanian, kesoponan, malu dan rendah hati. Ibu memberikan pendidikan nilai kepada anaknya. Ibu harus mempunyai nilai mendidik dalam dirinya dan memberikan pendidikan nilai kepada anaknya.

Ibu yang tidak membicarakan tentang nilai-nilai, tetapi sikap dan pandangannya terhadap masalah yang ditanganinya sebagai pemimpin memberikan pendidikan nilai. Sikap kepemimpinannya demokratis ketika menghadapi persoalan yang menimpanya dan cara menyikapi perkara hukum yang dihadapi anaknya sangat adil. Ibu tidak turut campur memutuskan perkara hukum.

Sikap ibu dalam menangani masalah bisa mengajarkan pendidikan nilai, yaitu nilai kepemimpinan, yang demokratis dan nilai keadilan. Seorang pemimpin harus bersikap demokratis dan adil.

Jadi, pendidikan nilai yang dinyatakan dalam kejadian perempuan itu adalah nilai-nilai demokratis dan adil itu harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Ibu mempunyai pandangan tentang adab kesopanan. Bahkan ibu menjaga adab kesoponan dalam hubungan muda mudi.

Ibu menjaga martabat dan harga diri dari perbuatan yang tidak menyenangkan orang kepada dirinya walaupun ia sudah janda. Ibu berbicara tentang nilai kesoponan sebagai pandangan hidupnya dan merealisasikannya dalam hubungan muda mudi. Perempuan seyogyanya senantiasa menjaga adab kesopanan dan mampu menjaga martabat dan harga dirinya dan tidak menjadi perempuan ‘murahan’ yang mudah menyerahkan dirinya kepada rayuan laki-laki.

Ibu bersedia mengorbankan dirinya dengan dosa-dosa asal anaknya bahagia. Seorang ibu berkorban untuk kebahagiaan anaknya walaupun pengorbanan itu berupa dosa sekalipun.

Pendidikan dan Pengenalan Nilai-nilai Wilayah Publik Efektif Dikelola Oleh Ayah dan Mamak (Paman).

Pendidikan wilayah publik dalam budaya Minangkabau dikelola oleh mamak/paman karena mamak yang selalu menjadi figur lelaki dan publik. Ayah juga merupakan figur lelaki dan publik namun setiap suara dan pandangannya terhadap anak selalu melalui persetujuan mamak.

Seorang anak akan mendapatkan nilai-nilai kehidupan publik bila sudah dewasa/baliq, karena sebelumnya itu adalah wilayah pendidikan dari ibu yang masih bersifat domestik. Ada pepapatah ketek banamo gadang bagala, namo diagiah ayah gala diagiah mamak, ketek anak ayah lah gadang kamanakan mamak (waktu kecil diberi nama oleh ayah, sudah dewasa diberi gelar oleg mamak, ketika masih kecil anak ayah bila sudah besar kemenakan mamak/paman).

Perempuan

Pola asuh perempuan idealis akan mendidik anak sesuai dengan pendidikan yang diberikan oleh ibunya. Pendidikan ini berupa pandangan hidup yang dijalani sehari-hari dan dipatuhi serta ditauladani secara turun temurun.

Idealnya hanya untuk kehidupan sehari-harinya dalam kehidupan sosial budaya lingkungan rumah gadang dan matrilininya saja. Perempuan hanya dididik di atas rumah gadang saja. Untuk lelaki bila akan merantau akan didik oleh para pamannya atau lelaki dalam matrilini baik di rumah gadang itu sendiri maupun di surau.

Surau dalam pengertian ini adalah kehidupan sosial pendidikan bagi kaum matrilini saja terutama bagi anak lelaki. Surau pada masa ini dipunyai oleh kaum dan hanya untuk kaum rumah gadang dan matrilininya saja.

Pendidikan di dalam Keluarga Merupakan Pondasi Utama Pengembangan Diri Seseorang.

Pendidikan dalam keluarga merupaka pendidikan yang kompleks yaitu antara ibu ayah dan mamak/paman. Sebagaimana yang diuraikan di atas tadi bahwa untuk pendidikan dasar atau domestik sangatlah baik diberikan oleh ibu, sedangkan untuk pendidikan publik sangatlah baik diberikan oleh mamak/paman. Keluarga dalam budaya  Minangkabau adalah ibu dan paman serta famili lainnya dalam keluarga ibu, mulai dari satu perut sampai satu suku dan satu nagari.

Semua saudara laki-laki dari pihak ibu merupakan mamak/paman bagi seorang kemenakan. Peran dari mereka semua adalah pembentuk karakter anak dan kemenakan dalam satu keluarga, sesuku dan senagari.

Secara umum pendidikan domestik diberikan oleh ibu atau perempuan dan pendidikan publik  diberikan oleh mamak/paman atau para lelaki dari saudara ibu. Kesemua posisi itu dalam pendidikan budaya Minangkabau sangat berfungsi sesuai dengan perannya masing yang akan mendidik anak atau kemenakan dalam bekehidupan keluarga.

Perempuan

Bila lebih lanjut dibicara tentang perempuan idealis dan pragmatis tersebut di atas, maka pola asuh akan menjadi dua tipe yaitu pola asuh pendidikan oleh perempuan  idealis dan pola asuh perempuan pragmatis. Pada pengaruh sosial budaya kehidupan perempuan di lingkungan rumah gadang dan matrilininya akan menghasilkan kehidupan sosial budaya idealis, sedangkan bila keluar dari kehidupan rumah gadang dan matrilininya akan terbentuk kehidupan sosial budaya yang pragmatis. Begitu juga dengan pola asuh pendidikan yang melahirkan pola asuh pendidikan idealis dan pragmatis.

Pola asuh perempuan idealis akan mendidik anak sesuai dengan pendidikan yang diberikan oleh ibunya. Pendidikan ini berupa pandangan hidup yang dijalani sehari-hari dan dipatuhi dan ditauladani secara turun temurun.

Idealnya hanya untuk kehidupan sehari-harinya dalam kehidupan sosial budaya lingkungan rumah gadang dan matrilininya saja. Perempuan hanya dididik di atas rumah gadang saja. Untuk lelaki bila akan merantau akan didik oleh para pamannya atau lelaki dalam matrilini baik di rumah gadang itu sendiri maupun di surau.

Surau dalam pengertian ini adalah kehidupan sosial pendidikan bagi kaum matrilini saja terutama bagi anak lelaki. Surau pada masa ini dipunyai oleh kaum dan hanya untuk kaum rumah gadang dan matrilininya saja.

Pola asuh pragmatis adalah pola asuh yang berada di luar rumah gadang berupa sekolah formal seperti sekolah yang didirikn oleh kolonial atau  reformis Islam. Sekolah Islam yang dibawa oleh tokoh-tokoh reformis Islam dengan sistem belajar formal berupa pesantren. Pada sekolah-sekolah ini perempuan sudah boleh dididik dengan lelaki. Semua anak didik di sekolah akan diberi didikan atau pengetahuan sama antara perempuan dan lelaki.

Daftar Rujukan

Hasanuddin WS. 2016. “Profil Wanita di dalam Novel-Novel Modern Indonesia Warna Lokal Minangabau Sebelum dan Sesudah Perang: Suatu Analisis Perbandingan.” Aksara, Volume 1 nomor 1 ISSN-2206-0596

Junus, Umar. 1984 Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau. Jakarta: PN

Balai Pustaka

Mu’in, Fatchul. 2011. Pendidikan Karakter  Jogyakarta: Ar Ruzz Media.

Navis, A.A. 1986. Alam Terkembang Jadi Guru. Adat dan kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pustaka Grafitipers.

PENULIS

Perempuan

Hermawan, akrab dipanggil An, lahir di Jakarta 14 Desember 1961. Berlatar belakang pendidikan S-1 Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta 1986 dengan skripsi “Memahami Adam Ma’rifat Kumpulan Cerpen Danarto” dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada(UGM) Yogyakarta tahun 1998 untuk S-2 dengan tesis “Profil Wanita dalam Kaba”.

Baru saja menyelesaikan studi S3 Program Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang Desember 2018 dengan disertasi “Profil Perempuan dalam Teks Sastra Pengarang Minangkabau”. Alamat Jl. Bakti ABRI No36 RT 01 RW 1  Kelurahan Batangkabung-Ganting Kecamatan Kototangah, Padang, 25172, telepon 081363260719, WA 081261177458 email: hermawan.caniago@gmail.com.

Tahun 1990-1991 membantu pembuatan sinetron Jendela Rumah Kita episode “Cintaku Tertahan di Lahan Harapan” bersama Dede Yusuf dan sinetron Siti Nurbaya, serta Sengasara Membawa Nikmat produksi TVRI dan Pemda Sumatera Barat sekaligus pemain figuran dengan sutradara Dedi Setadi dan Agus Wijoyono.

Terakhir sinetron Pulanglah Si Anak Hilang bersama sutradara Kardy Said yang di tayangkan oleh TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Dari tahun 1991-1992 menjadi redaktur tamu di Remaja Mingu Ini Haluan Minggu untuk membicarakan cerpen-cerpen yang terbit setiap minggu.

Sehari-hari kerjanya sebagai staf pengajar LLDIKTI X di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Rokania Kabupaten Rokan Hulu Riau. Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Daerah  Sumatera Barat 2016 – sampai sekarang.

Aktif menyajikan makalah tentang sastra dan pendidikan diberbagai pertemuan ilmiah. Puisi-puisi yang terbit dalam Gaga antologi puisi mahasiswa sastra Universitas Bung Hatta tahun 1986, Bung antologi puisi dosen Universits Bung Hatta, Ragam Puisi Kolaborasi Cinta Anak Negerimu, Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015) blencong, Menyemai Ingat Menuai Hormat, Matahari Cinta Samudera Kata, Nyanyian dari Hutan, Pantai, dan Taman Kota (terbitan HISKI), (2016) Aceh 5:03 6,4 SR, 6,5 SR Luka Pidie Jaya, Nyanyian Puisi untuk Ane Matahari, Menderas Sampai Siak, Mufakat Air, Nyanyian Gerimis (2017), Sendja Djiwa Pak Budi dan Epitaf Kota Hujan serta Anggraini, Tugu dan Rindu kumpulan puisi Pematangsiantar Penyair Nusantara, Do’a Seribu Bulan antologi puisi ASEAN, Wangian Kembang antologi puisi ASEAN dan India, 999 Sehimpun Puisi Penyair Riau HPI 2018 Riau, antologi puisi Guru Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu gerakan seribu guru ASEAN menuls puisi (2018),  Kitab Puisi Indonesia 1001 Cinta, 1001 Rindu (terbitan HISKI & anam pustaka www.AMBAU.ID 2019). Dari Kemilau Masa Lampau Antologi Esai dan Kritik, Sepenggal Rindu Dibatasi Waktu antologi cerpen   (2015). Masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia Yayasan Hari Puisi (2017). Editor dan prolog antologi puisi Perempuan Bajak Laut karya Rahmanidar (2018), dan prolog Menghilir Sungai Tak Berkuala Himpunan Sajak Cinta Rakyat karya Yassinsalleh terbitan Pena Padu Malaysia (2019).

loading...
Apa Tanggapan Anda Tentang Media Ini?