INTERNASIONAL

Rapid Test COVID-19 Buatan China Ternyata Cacat dan Tidak Akurat

Rapid Test
Sejumlah negara melaporkan bahwa rapid test atau alat uji virus corona COVID-19 buatan China ternyata cacat dan tidak akurat.

Negara-negara yang melaporkan kondisi rapid test buatan China yang dinilai cacat ini adalah Spanyol, Republik Ceko, Belanda, Filipina, dan Malaysia.

Rapid test ini sengaja didatangkan karena sudah digunakan lebih dulu dalam penanggulangan wabah virus itu di China dan Korea Selatan.

Spanyol dan Ceko merupakan negara yang sama-sama melaporkan masalah akurasi alat-alat uji cepat atau rapid test kit itu. Bahkan pemerintah Spanyol mengatakan akan menarik sekitar 8 ribu kit uji yang dibeli dari Shenzhen Bioeasy Biotechnology, China.

Sebagian rapid test ini sudah terdistribusi di Madrid. Sebanyak 50 ribu lainnya yang belum digunakan pun akan dikembalikan.

Disebutkan bahwa alat-alat itu hanya memiliki akurasi 30 persen, jauh lebih rendah dari standar Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat, yakni 80 persen, sebagai standar yang diadopsi di Spanyol.

Sebagai ganti alat-alat yang dikembalikan itu, Spanyol mendapat janji dari China untuk pengiriman ulang dengan alat yang lebih baik.

Dikabarkan, bahwa Spanyol memesan bahan-bahan medis dari China total senilai US$ 465 juta, termasuk di dalamnya ventilator dan alat pelindung diri untuk para petugas medisnya. Sedangkan, Republik Ceko sudah mengeluarkan anggaran sebesar US$ 546 ribu untuk 150 ribu alat uji cepat dari perusahaan yang sama, yang belakangan diketahui 80 persen di antaranya rusak.

Kedutaan China di Spanyol berdalih bahwa perusahaan yang dimaksud tidak memiliki lisensi untuk mengekspor alat tes COVID-19. Namun, Bioeasy mengklaim bahwa produknya telah disertifikasi untuk dijual di Eropa.

Mereka bahkan menyatakan bisa saja terjadi kesalahan dalam penggunaan alat atau pengambilan sampel yang membuat hasil uji tak akurat.

BACA JUGA:  Radiasi Kanker di Bulan 200 Kali Lebih Tinggi Daripada Bumi

Terkait peristiwa ini, pemerintah China langsung menyelidiki Shenzhen Bioeasy Biotechnology atas tuduhan menjual test kit yang cacat dan dengan harga yang mahal ke Spanyol dan Ceko itu. Beijing juga memastikan peralatan medis lain yang datang atas sumbangan Pemerintah China ke dua negara itu tidak termasuk buatan Bioeasy.

Namun, ternyata alat uji bukan satu-satunya yang bermasalah. Kementerian Kesehatan Belanda mengatakan pada Sabtu, 28 Maret, telah menarik 600 ribu masker yang didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit karena tak pas dipakai. Masker N95 itu juga didapati gagal memenuhi persyaratan keselamatan karena kualitas penyaringnya yang tidak sesuai.

Tak ada keterangan asal pabrikan yang menyuplai masker-masker itu. Tapi disebutkan kalau Belanda telah membekukan rencana pengapalan alat kesehatan lainnya yang dari China.

Tapi berbeda dengan di Filipina. Pada Sabtu lalu, 28 Maret, otoritas negara itu sempat mengumumkan bahwa hanya 40 persen dari 100 ribu alat tes yang dibeli dari perusahaan asal China yang lainnya, yakni BGI Group dan Sansure Biotech, yang akurat.

Keesokan harinya, setelah protes resmi ke Kedutaan China di Manila, otoritas kesehatan Filipina mengubah pernyataan sebelumnya. Filipina mengklaim bahwa tingkat akurasi alat yang dibeli dari China berada dalam standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sedangkan di Malaysia, juga ada keluhan buruknya akurasi test kit COVID-19 yang diimpor dari China. Menurut media setempat, saat ini rumah sakit negara itu bersiap-siap untuk mendapatkan peralatan baru dari Korea Selatan dan Taiwan.

loading...