HUKUM

Ruslan Buton, Mantan Perwira TNI Ditangkap Usai Buat Surat Terbuka untuk Jokowi

Ruslan Buton
Eks Panglima Serdadu Trimatra Nusantara, Ruslan Buton Namanya jadi viral dalam beberapa jam terakhir usai dirinya ditangkap polisi, menyusul video surat terbukanya yang ditujukan kepada Presiden Jokowi, yang isinya menuntut Jokowi mundur.

Ruslan dijemput di kediamannya di Desa Wabula 1, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton. Saat dijemput, ia terlihat tenang dan menebar senyum kepada warga. Ia juga melambaikan tangan sesaat sebelum masuk ke dalam mobil polisi.

Kepala Polda Sulawesi Tenggara, Inspektur Jenderal Polisi Merdisyam, mengatakan, penangkapan tersangka Ruslan Buton diduga terkait pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).  Buton sudah diberangkatkan ke Jakarta hari ini.

“Memang kemarin ada langkah hukum yang dilakukan dari Bareskrim Polri karena yang bersangkutan juga merupakan mantan anggota TNI makanya kami koordinasi di tingkat pusat untuk pendampingan dari Puspom TNI AD dan seluruh penanganan ada di Bareskrim Mabes Polri, kami hanya mendampingi,” ujar Merdisyam di Kendari, Jumat (29/5/2020).

Tim Bareskrim Polri bersama Polda Sultra dan Polres Buton sebelumnya menangkap Ruslan alias Ruslan Buton di Jalan Poros, Pasar Wajo Wasuba, Dusun Lacupea, Desa Wabula 1, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (28/5/2020).

Ruslan ditangkap setelah membuat pernyataan terbuka kepada Presiden Joko Widodo dalam bentuk rekaman suara pada tanggal 18 Mei 2020, kemudian rekaman suara itu menjadi viral di media sosial.

Dalam rekamannya, Ruslan mengkritisi kepemimpinan Jokowi. Menurut Ruslan, solusi terbaik untuk menyelamatkan bangsa Indonesia adalah bila Jokowi rela mundur dari jabatannya sebagai presiden. “Namun, bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat,” tutur Ruslan pada rekaman suara tersebut.

Dari hasil pemeriksaan awal, Ruslan mengaku rekaman suara yang meminta Presiden Jokowi mundur itu adalah suaranya sendiri. Usai merekam suara, pelaku kemudian menyebarkannya ke grup WhatsApp (WA) Serdadu Eks Trimatra hingga akhirnya viral di media sosial. Dalam kasus ini, barang bukti yang disita polisi berupa satu ponsel pintar dan sebuah KTP milik Ruslan.

View this post on Instagram

Panglima Serdadu Eks Trimatra Nusantara, Ruslan Buton, telah diamankan oleh aparat gabungan Polres Buton dan Mabes Polri Desa Wabula 1, bersama Polda Sultra, Kamis (28/05). . Ruslan Buton dijemput di Desa Wabula 1, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton usai mengirimkan surat terbuka kepada Presiden RI Jokowidodo. Dalam surat terbuka itu, Ruslan Buton meminta agar Jokowi mundur dari jabatannya sebagai Presiden. Dalam video ketika eks TNI AD itu dijemput, Ruslan Buton nampak bersikap kooperatif terhadap tim gabungan. Dia juga pamit kepada warga sekitar yang menyaksikan penjemputan. Sebelumnya, video surat terbuka yang sempat viral di media sosial itu, dia menilai bahwa kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi telah merugikan rakyat. . "Saya memohon dengan hormat agar saudara dengan tulus dan ikhlas secara sadar untuk mengundurkan diri dari jabatan saudara sebagai Presiden Republik Indonesia," tutur Ruslan Buton dalam suratnya. . "Saudara harus bersikap ksatria dan legowo untuk mundur dari tahta kepresidenan. Namun bila tidak, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat,” lanjut Ruslan Buton. #kendariinfo

A post shared by Kendariinfo (@kendariinfo) on

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol. Ahmad Ramadhan mengatakan tersangka Ruslan atau Ruslan Buton terancam pasal berlapis jika terbukti bersalah dalam kasus ujaran kebencian.

Ruslan Buton merupakan mantan perwira menengah di Yonif RK 732/Banau dengan pangkat terakhirnya kapten infanteri. Ketika menjabat sebagai komandan kompi cum (juga) Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau, Ruslan terlibat dalam kasus pembunuhan La Gode pada tanggal 27 Oktober 2017.

Waktu itu, petani itu disiksa di Pos Satgas TNI SSK III Yonif RK 732/Banau, pos yang dikepalai oleh Ruslan, hingga tewas. Pengadilan Militer Ambon pada 6 Juni 2018 menjatuhkan vonis penjara kepada Ruslan selama 1 tahun 10 bulan.

Selain itu, pada Pilpres 2019 lalu, Ruslan diketahui merupakan pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Namun, tidak diketahui pasti apakah pria kelahiran 4 Juli 1975 itu juga tergabung dalam Partai Gerindra atau tidak.

Pada Januari 2020, Ruslan dan sejumlah mantan anggota TNI mendirikan sebuah yayasan di Jakarta. Yayasan itu diberi nama Yayasan Serdadu Eks Trimatra Nusantara, berisikan para mantan anggota TNI.

loading...