Beranda POLITIK Terbongkarnya Kasus Suap Wahyu Setiawan Pertanda Partai Telah Mengabaikan Suara Rakyat

Terbongkarnya Kasus Suap Wahyu Setiawan Pertanda Partai Telah Mengabaikan Suara Rakyat

Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum 2012-2017 Ferry Kurnia Rizkiyansyah, menyatakan bahwa seluruh partai harus memiliki integritas. Partai tidak boleh mengabaikan suara rakyat yang telah tercermin dalam hasil Pemilu.

Ferry mengungkapkan, kasus suap yang menjerat Wahyu Setiawan merupakan teguran bagi partai politik. Sebab, Wahyu yang berstatus Komisioner KPU menerima suap agar pengganti Nazarudin Kiemas, caleg PDIP yang meninggal dunia, diganti oleh nama yang diinginkan.

“Memang tidak boleh semena-mena karena itu sudah diatur. Wilayah ini di luar kewenangan partai,” ujar Ferry pada acara diskusi “Perspektif Indonesia” di The MAJ, Jakarta, Sabtu (11/1/2020).

Pada kasus ini PDI-P berupaya menentukan nama caleg yang akan menggantikan Nazarudin Kiemas. Namun Ferry menegaskan, seharusnya yang menjadi pewaris dari kursi Nazarudin adalah kandidat dengan perolehan suara terbanyak berikutnya.

“Nyatanya, KPU sudah menetapkan suara terbanyak selanjutnya itu diraih oleh Riezky Aprilia. Tapi, ternyata partai melakukan manuver lain,” ujarnya.

Parpol dan segala perangkatnya mulai dari pimpinan pusat hingga daerah, perlu mengikuti aturan hukum yang ada. Ferry pun berharap parpol tidak memanfaatkan celah untuk kepentingan sesaat saja.

“Itu kontraproduktif terhadap demokrasi yang berjalan. Parpol memiliki peran penting untuk memperbaiki sistem rekrutmen dan proses kaderisasi yang lebih baik,” jelas Ferry.

Ferry menambahkan, apa yang terjadi pada Wahyu merupakan tantangan yang dihadapi Komisioner KPU. Ferry mengaku dirinya pun pernah mendapat godaan serupa dari sejumlah partai, saat berada di posisi Wahyu.

BACA JUGA:  Nasrul Abit Dinilai Tokoh Masyarakat Gaung Solok Adalah Sosok yang Peduli Adat
loading...