INFO SEHAT

Ternyata dokter Tirta Seorang Mualaf dan Disebut Dokter Gagal

Dokter Tirta
Dokter Tirta, namanya kini makin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, kepeduliannya terhadap wabah Virus Corona seperti tanpa batas.
Dalam kondisi dirawat di rumah sakit dokter Tirta masih sempat menyalurkan bantuan kepada para petugas medis dan masyarakat.

Nama dokter Tirta makin dikenal usai ia mengkritik Jubir Corona, Achmad Yurianto di acara Indonesia Lawyer Club, dikutip dari Insertive, Kamis (2/4/2020).

Sebelumnya dokter Tirta memang sudah dikenal di skena snekaer lokal karena dia merupakan pereview sepatu olahan Tanah Air dan pebisnis cuci sepatu sekalgus pernah praktik sebagai dokter di Puskesmas Turi, Yogyakarta.

Dokter Tirta Mandira Hudhi ternyata juga seorang mualaf seperti Deddy Corbuzier. Hal itu terungkap usai lulusan kedokteran UGM itu kala mengisi podcast sang mentalist.

“Sama2 belajar muslim melalui muallaf, sama2 ngegas, semoga ini bukan obrolan pertama kita, dan terus kolaborasi,” tulis dokter Tirta alias Cepeng saat berfoto bareng eks suami Kalina tersebut.

Pada unggahan terbarunya, dokter Tirta mengunggah foto lamanya kala masih praktik di Puskesmas di kampung halaman. Ketika itu ia terlihat memakai alat bantu di leher karena kecelakaan kala naik motor.

View this post on Instagram

2017, followers masih 7rebuan • Saya masih menjadi dokter yang berdinas di puskesmas turi, sleman • Pagi siang praktek, sore malem ngabisin waktu cuci sepatu di @shoesandcare , belum ngurus dagangan sepatu juga • Gue mulai semuanya from 0 • Ga ada libur. Sampe akhirnya kejadian ini mengacaukan semua. Saking capeknya, saya tertidur ketika naek motor, dan dihajar mobil • Ga sadar. Dan akhirnya dibawa ke rs, dalam keadaan begini. Mau foto berdiri aje sakit banget itu. Hahaha • Masih untung hidup, tapi sejak saat itu sakit2 an Saat itu saya aktif banget edukasi, agen preventif, dari pkm, ke desa2 sekitar turi. Saya seminggu sskali selalu ke 2 dusun, visit posyandu2 di sana • So buat yang bilang “dokter ga laku” “dokter gagal” Ya biarlah. Nanti juga tau sendiri hehe • Buat followers lama. Kenapa mreka loyal ama saya? Karena tau. Saya bangun semua ini ga gampang. Saya anak muda biasa2 aja. Yg kebetulan emng sukak edukasi di media sosial. Dan suka2 bagi hadiah tiap minggu • Kapan praktek lagi? Tenang. Nunggu bronkitis dan berbagai penyakitnsaya kembali normal • #STOPSMOKING !

A post shared by Cipeng | TIRTA (@dr.tirta) on

Dokter Tirta juga menceritakan bahwa ia kecapekan karena kerja dan menjalankan bisnis berbarengan sampai akhirnya tertidur di motornya.

Diungkapkan Tirta, ia tak bisa mengimbangi waktu praktik dengan bisnis. Karenanya ia memilih mundur dulu dari bidang medis.

Tirta juga mengaku tak masalah dicap dokter gagal. Dalam pesannya, ia mengatakan bahwa membangun semua yang ia capai saat ini bukan pekerjaan mudah sama sekali.

Dokter Tirta

“So buat yang bilang “dokter ga laku” “dokter gagal” Ya biarlah. Nanti juga tau sendiri hehe. Buat followers lama. Kenapa mreka loyal ama saya? Karena tau. Saya bangun semua ini ga gampang. Saya anak muda biasa2 aja. Yg kebetulan emng sukak edukasi di media sosial. Dan suka2 bagi hadiah tiap minggu.”

Tirta juga memberi isyarat keinginan praktik lagi di akhir kalimat. “Kapan praktek lagi? Tenang. Nunggu bronkitis dan berbagai penyakitnsaya kembali normal.” (Insertive)

KISAH SUKSES TIRTA MANDIRA HUDHI

Dikutip dari artikel Novita Permatasari

www.wanitawirausaha.com

Sepatu dan tas merupakan fashion item penting yang wajib dipunyai setiap orang. Tampilannya yang bersih dan mengilat ampuh mendongkrak penampilan. Makanya, tak sedikit orang yang rela merogoh kocek tak murah demi membersihkan debu maupun kotoran yang menempel pada sepatu ataupun tas, hingga terlihat seperti baru. Oleh beberapa orang, hal itu dilihat sebagai peluang bisnis. Mereka berinovasi menciptakan layanan mencuci sepatu dan tas dengan fasilitas menarik dengan harga bersahabat. Hasilnya? Keuntungan ratusan juta rupiah dalam genggaman. Tertarik menggeluti bisnis ini?

Tirta Mandira Hudhi Pemilik Shoes and Care, Yogyakarta Dari Sepetak Kamar Kos

Awal Berdiri

Saya adalah mahasiswa kedokteran di Universitas Gadjah Mada, yang merantau dari Surakarta ke Yogyakarta. Suatu hari, saya berhasil mencuci bersih sepatu saya  menggunakan sabun cuci sepatu asal Amerika Serikat (AS) yang saya beli di sebuah toko. Teman-teman pun menitipkan sepatunya untuk saya cuci dengan membayar  ala kadarnya. Sejak saat itu, saya yang sedang serba kekurangan menganggap itu sebagai peluang bisnis. Maka, saya pun menyewa sebuah kamar di tempat kos untuk dijadikan tempat usaha pada tahun 2013.

Fasilitas

Selain melayani pembersihan, pewarnaan ulang, unyellowing (menghilangkan warna kuning di sepatu akibat oksidasi), dan reparasi, saya juga menawarkan program khusus bagi para wanita, namanya Just For Her. Treatment ini khusus untuk melayani sepatu wanita, seperti flat shoes, wedges, atau high heels. Kini, Shoes and Care juga melayani   produk tas dan topi.

Strategi Promosi

Karena target saya adalah wanita sebagai pasar potensial, saya sengaja membuat promo Female Friday. Tiap hari Jumat, konsumen wanita mendapatkan promo khusus hanya membayar satu pasang sepatu untuk dua pasang sepatu yang dibersihkan. Strategi pemasaran yang saya terapkan untuk Shoes and Care juga mengandung konsep ‘nol rupiah’. Sebisa mungkin saya menjaga komunikasi yang baik dengan konsumen lewat maintaining media sosial. Mulai dari website, Instagram, hingga Facebook, bisa digunakan secara gratis dan efeknya bekerja dengan baik untuk menarik konsumen.

Tantangan

Mengingat nama Shoes and Care makin mengudara, saya merasa tantangan terbesar adalah bagaimana memperkokoh bisnis yang telah saya bangun selama ini. Oleh sebab itulah, saya juga berusaha aktif melakukan ‘jemput bola’ dengan membuka booth di beberapa event, seperti Urban Gigs di Bandung dan Exposure Market di Yogyakarta. Saya juga mengadakan kerja sama dengan sejumlah radio untuk membuat Shoes and Care tetap bergaung di tengah menjamurnya bisnis sejenis.

Omzet   

Setelah berjalan selama tiga tahun lebih, bisnis saya yang awalnya hanya bermodal satu botol sabun cuci,  kini bisa meraup hingga dua hingga tiga miliar per tahun. Dari 20 outlet, masing-masing bisa melayani 20-30 sepatu dalam satu bulan. Kios Shoes and Care saat ini sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Samarinda, Bogor, Medan, dan Palembang.

Rencana Pengembangan Bisnis

Ke depannya, saya sedang mengusahakan agar Shoes and Care berubah menjadi perusahaan, bukan UKM lagi. Saat ini tantangan terbesar saya dan teman-teman di Shoes and Care adalah memperkuat fondasi yang sudah ada dan meningkatkan sales. Saya sudah dua kali diundang menjadi pembicara acara bisnis ini di Singapura  dan ingin membuktikan bahwa usaha saya bisa memiliki daya saing di kelas internasional.

Tip Bisnis

Jangan ragu untuk memulai dan memutuskan sesuatu. Ketika usaha sudah berjalan, trial and error sah untuk dilakukan. Selain itu, kita harus siap juga dengan segala risiko yang mungkin datang.

Sebagai pemilik usaha, jadilah contoh yang baik untuk pegawai, karena Anda adalah panutan mereka. Kalau Anda malas, mereka juga mengikutinya. Sebaliknya, jika Anda bersemangat, mereka akan tertular dan terpacu bekerja dengan baik.

Banyak orang yang usahanya belum besar, tapi sudah sombong. Makanya, jangan terlalu cepat puas dan terlena dengan hasil awal. Ketika usaha sudah berjalan, tetaplah fokus untuk mengembangkan bisnis.

Comments

comments

BACA JUGA:  Selama Masa Isolasi Dokter Pribadi Gratis untuk Pasien COVID-19
loading...