NASIONAL

WHO Tegaskan Suhu Panas Tidak Bisa Cegah Infeksi Covid-19

WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa berjemur sinar matahari dengan temperatur lebih dari 25 derajat Celcius tidak bisa mencegah infeksi virus corona baru atau COVID-19.

Dikuti dari laman resmi WHO di Jakarta, bahwa virus corona tetap bisa menginfeksi manusia meskipun berada di negara dengan suhu yang panas sekalipun.

WHO mencatat kasus infeksi COVID-19 tetap terjadi di negara-negara beriklim panas seperti Arab Saudi dan negara di timur tengah lainnya.

WHO menyarankan agar masyarakat melindungi diri dari COVID-19 dengan cara rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Selain itu setiap orang juga diimbau untuk tidak menyentuh mata, mulut dan hidung terlebih saat tangan kotor.

Pendapat WHO ini sangat berbeda dengan apa yang dinyatakan Menteri Kemaritiman Luhut Panjaitan yang sebelumnya mengatakan kalau corona tidak kuat di Indonesia karena iklimnya panas.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan virus corona (Covid-19) tak kuat hidup di Indonesia. Pasalnya, virus Corona tak bisa hidup di cuaca Indonesia yang cenderung panas.

“Dari hasil modelling, cuaca Indonesia yang panas dan humidity tinggi maka untuk Covid-19, itu nggak kuat,” kata Luhut saat video conference usai rapat terbatas bersama Presiden Jokowi, Selasa (2/4/2020).

Pernyataan Luhut itu dibantah oleh ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Defriman Djafri Ph.D mengatakan butuh kajian mendalam terkait ada tidaknya korelasi antara perkembangan virus corona baru (COVID-19) dengan iklim suatu wilayah.

“Artinya ini butuh kajian yang detail. Kita juga harus me-‘review’ hasil penelitian di tempat lain karena ada yang menyatakan tidak ada pengaruh terhadap iklim, sama saja,” kata dia saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

BACA JUGA:  Pemberantasan Covid-19 di Selandia Baru Sukses, Penderita Tinggal 1 Orang

Sebagai contoh, kata dia, dalam jurnal Swiss Medical Weekly terdapat salah satu artikel yang dipublikasikan pada 16 Maret 2020. Penelitian itu membahas potensi dampak musim terhadap pandemi virus corona.

Dalam artikel tersebut dinyatakan bahwa virus corona musiman menunjukkan variasi dan pemodelan musiman yang kuat dan konsisten sehingga membutuhkan variasi yang kuat dalam transmisibilitas sepanjang tahun.

“Perlu dicatat, bagaimanapun COVID-19 tampaknya menyebar di iklim tropis seperti Singapura sehingga musim dingin tidak merupakan kondisi yang diperlukan dari penyebaran COVID-19,” katanya.

Selain itu, kata dia, tren di berbagai daerah di seluruh Asia Timur menyiratkan bahwa musim saja tidak mungkin untuk mengakhiri penyebaran COVID-19.

Ia mengatakan bahwa hal itu juga dapat dikaitkan dengan kondisi Indonesia, sebab iklim di Tanah Air tidak jauh berbeda dengan Singapura di mana tetap saja pandemi COVID-19 meluas dan menjangkit.

Oleh karena itu, ia menilai pemerintah perlu mengkaji lebih dalam terkait dengan ada tidaknya kaitan antara virus corona jenis baru tersebut dengan iklim.

Menurut dia, hasil modeling yang disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan tersebut perlu dipertanyakan apakah berdasarkan kajian dari internasional atau tim saja.

“Sebab saya melihat kesimpulan dari penelitian yang sudah ada, yaitu tidak berpengaruh terhadap kondisi, baik di Singapura, termasuk di daerah Asia yang lain,” katanya.

Ekonom Faisal Basri Menyebut Luhut lebih Berbahaya dari pada Virus Corona

Ekonom Faisal Basri menyebut Luhut Binsar Panjaitan lebih berbahaya dari virus corona, “Luhut Panjaitan lebih berbahaya dari coronavirus COVID-19,” kicau Faisal Basri, dikutip dari Kumparan, Jumat (3/4).

Kepada kumparan Faisal Basri menyatakan, fakta ini harus disampaikan kepada publik. Bahkan Faisal menyebut, Presiden Jokowi harus menyingkirkan Luhut.

BACA JUGA:  Selama Masa Isolasi Dokter Pribadi Gratis untuk Pasien COVID-19

“Saya rasa Presiden harus menyingkirkan virus yang lebih berbahaya ini,” ujar Faisal Basri dikutip dari kumparan.

sementara, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia Daeng M Faqih juga mengatakan berjemur di bawah sinar matahari tidak dikatakan sebagai pencegahan COVID-19. Namun Daeng mengakui bahwa berjemur sinar matahari selama 10 hingga 15 menit bagus untuk kesehatan yaitu untuk mendapatkan vitamin D.

“Berjemur memang bagus untuk meningkatkan imunitas tubuh, tapi tidak bisa dikatakan sebagai pencegahan COVID-19,” kata Daeng.

Dikutip dari berbagai narasumber

Informasi Lengkap COVID-19 KLIK DI SINI

Anda juga bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai COVID-19 melalui situs BNPB KLIK DI SINI

Comments

comments

loading...