Synchronize Fest 2026: Momo Kembali Bersama Geisha, Reuni yang Membawa Dua Periode ke Satu Panggung

Jakarta – Synchronize Fest 2026 tak hanya menawarkan deretan penampil lintas genre, tetapi juga menghadirkan sejumlah pertemuan musisi yang menyimpan cerita panjang. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah kembalinya Momo untuk tampil bersama Geisha dalam pertunjukan spesial “Geisha A Retrospective Journey”.

Synchronize Fest 2026 menjadi ruang bagi Momo untuk kembali bertemu dengan Roby, Aan, Dhan, dan Nard. Pertemuan tersebut terasa istimewa karena membawa kembali formasi dari dua periode perjalanan Geisha ke dalam satu panggung, sekaligus mempertemukan kembali para personel dengan perjalanan musik yang telah mereka lewati.

Bagi Synchronize Fest 2026, penampilan Geisha tersebut bukan sekadar sajian nostalgia. “Geisha A Retrospective Journey” menjadi salah satu cara festival membaca kembali perjalanan musik Indonesia melalui pertemuan antarmusisi dan memori yang melekat pada pendengarnya. Dalam pertunjukan ini, Momo juga akan tampil bersama Regina.

Synchronize Fest 2026
Foto: Eny

Kehadiran Momo bersama Geisha membuat Synchronize Fest 2026 semakin memperlihatkan karakter festival yang tidak hanya mengandalkan nama-nama besar dalam daftar penampil. Sejumlah special show tahun ini justru dibangun dari cerita, perjalanan, dan pertemuan kembali para musisi dari berbagai generasi dan ekosistem musik Indonesia.

Momo dan Geisha, Ketika Dua Periode Bertemu

Geisha menjadi salah satu nama yang mendapat ruang khusus dalam rangkaian special show Synchronize Fest tahun ini. Lewat “Geisha A Retrospective Journey”, perjalanan grup tersebut dirangkum dalam sebuah pertunjukan yang mempertemukan Momo dengan Roby, Aan, Dhan, dan Nard.

Synchronize Fest 2026
Foto: Eny

Yang membuat penampilan ini menarik adalah adanya pertemuan dua periode perjalanan Geisha dalam satu panggung. Bagi penonton yang mengikuti perjalanan grup tersebut, momen ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagian-bagian berbeda dari sejarah Geisha dalam sebuah pertunjukan yang dirancang khusus.

Kehadiran Regina juga menjadi bagian dari konsep tersebut. Dengan demikian, pertunjukan Geisha di Synchronize Fest tidak sekadar menampilkan satu periode, melainkan mencoba merangkum perjalanan musikal mereka melalui sejumlah nama yang pernah menjadi bagian dari cerita grup.

Bukan Sekadar Nostalgia

Synchronize Fest 2026
Foto: Eny

Synchronize Fest tahun ini memang memberi porsi besar pada pertunjukan yang membawa kembali memori dari berbagai era musik Indonesia. Namun, festival tersebut menempatkan nostalgia bukan sekadar sebagai upaya mengulang masa lalu.

David Tarigan, Artist & Repertoire Synchronize Fest, menyebut bahwa setiap penampil membawa konsep dan cerita masing-masing. Festival berusaha memberi ruang bagi berbagai “core memory” penonton, sekaligus mempertemukan cerita dari berbagai generasi dalam satu ruang.

Pendekatan tersebut terlihat dari sejumlah special show lain. Pijar, misalnya, kembali berkumpul setelah proses panjang selama beberapa tahun. Sementara Indonesian Girl Group mempertemukan Chibi Chibi, G String, Princesstale, Super Girlies, dan 7icons bersama Agatha Pricilla, Febby Rastanty, Ify Alyssa, serta Sivia.

Project Pop juga akan merayakan perjalanan 30 tahun. Di sisi lain, Maliq & D’Essentials akan berkolaborasi dengan Jakarta Movin dalam “Konser Musikal Senja Teduh Pelita”, sedangkan Perunggu akan membawakan album “Dalam Dinamika” di Synchronize Fest 2026.

Dari Geisha hingga Emo Revival di Synchronize Fest 2026

Cerita tentang pertemuan kembali para musisi juga hadir melalui pertunjukan Emo Revival. Synchronize Fest menghadirkan Alone At Last, Friends Of Mine, Killed By Butterfly dari era 2006, Killing Me Inside Re, Side-B dari era 2009, serta And The Side Project.

Kehadiran nama-nama tersebut memperlihatkan bagaimana Synchronize Fest mencoba membaca kembali hubungan antara musik dan memori generasi pendengarnya. Musik dari satu era dapat kembali hadir dalam konteks yang berbeda, sementara para musisinya mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali dengan audiens yang pernah tumbuh bersama karya-karya mereka.

Konsep serupa juga muncul dalam “The Best of 80’s Indonesian Pop Kreatif” yang menghadirkan Ardhito Pramono, Isyana Sarasvati, Teddy Adhitya, Teza Sumendra, Agatha Pricilla, Ify Alyssa, dan Sivia, dengan musik oleh Nikita Dompas.

Synchronize Fest Mempertemukan Banyak Cerita

Memasuki tahun ke-11, Synchronize Fest mengusung tema “IT’S NOT JUST A FESTIVAL, IT’S A MOVEMENT”. Festival ini akan berlangsung pada 16, 17, dan 18 Oktober 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.

Delapan panggung akan menjadi ruang bagi penampil dari berbagai genre dan komunitas, yakni Dynamic Stage, District Stage, Forest Stage, XYZ Stage, Gigs Stage, Oleng Upuk, RedWhite Jazz Lounge, dan Panggung Getarrr.

Selain special show Synchronize Fest 2026, nama-nama seperti Afgan, Efek Rumah Kaca, For Revenge, Monkey To Millionaire, Potret, Rumahsakit, Sal Priadi, The Changcuters, The Jansen, The Panturas, The Upstairs, Hindia, .Feast, Bernadya, Souljah, Wali, Vierratale, hingga J-Rocks juga masuk dalam jajaran penampil.

Namun, di tengah banyaknya nama tersebut, reuni Momo bersama Geisha menjadi salah satu pertemuan yang menawarkan cerita tersendiri. Bukan hanya tentang siapa yang kembali berada di atas panggung, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan sebuah band dan memori pendengarnya dapat bertemu lagi dalam satu pertunjukan.

Dengan “Geisha A Retrospective Journey” SynchronizeSynchronize Fest 2026, Synchronize Fest kembali menunjukkan bahwa sebuah festival musik dapat menjadi ruang untuk merayakan masa lalu sekaligus menghadirkannya kembali dalam konteks hari ini. (EH)

 

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses