JAKARTA — Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap alasan di balik pilihannya menghadirkan genre horor dalam film Lobang Buaya. Bagi Hanung, horor bukan sekadar pendekatan untuk membangun ketegangan, tetapi menjadi cara untuk mempertemukan cerita fiksi dengan latar sejarah Indonesia yang masih menyisakan banyak pertanyaan.
Film tersebut disebut Hanung Bramantyo sebagai bagian dari rangkaian karya personalnya. Ia mengatakan proyek ini lahir dari kegelisahan yang muncul setelah dirinya melakukan kontemplasi selama masa pandemi. Selain Lubang Buaya, rangkaian tersebut mencakup Tuhan, Izinkan Aku Berdosa dan Gowok: Kamasutra Jawa, serta satu proyek lain yang direncanakan diproduksi pada tahun berikutnya.
Menurut Hanung Bramantyo, keputusan menggunakan genre horor sempat menjadi pertimbangan tersendiri. Ia menyadari film tersebut berpotensi menimbulkan pertanyaan karena mengangkat tragedi sejarah melalui pendekatan horor.

Namun, Hanung Bramantyo menegaskan bahwa pilihan genre tersebut tidak dimaksudkan sebagai pernyataan sikap tertentu terhadap peristiwa 30 September 1965.
“Pilihan genre itu sebetulnya tidak ada hubungan dengan bagaimana saya punya sikap terhadap tragedi 30 September 1965 dan setelahnya.” kata Hanung Bramantyo saat konferensi pers di XXI Epicentrum Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Hanung Bramantyo menjelaskan, pilihannya membuat film horor justru berangkat dari pengalaman masa kecilnya ketika peristiwa 30 September 1965 kerap hadir dalam bentuk tayangan yang menurutnya juga terasa menakutkan.

Ia mengingat bagaimana film Pengkhianatan G30S/PKI ditayangkan di televisi pada masa Orde Baru. Bagi Hanung Bramantyo yang lahir pada 1975, tayangan tersebut menjadi bagian dari pengalaman masa kecilnya dalam mengenal peristiwa sejarah tersebut.
“Pada saat saya mau nonton, ibu saya mematikan televisi itu. ‘Sudah, enggak usah nonton!’” kenangnya.
Dari pengalaman tersebut, Hanung melihat adanya hubungan antara sejarah, ingatan masyarakat, dan pendekatan horor. Ia kemudian menggunakan perspektif tersebut sebagai salah satu pijakan kreatif dalam mengembangkan Lobang Buaya.

Mempertemukan Fiksi dan Sejarah
Bagi Hanung, salah satu hal yang ingin ditawarkan melalui Lobang Buaya adalah pertemuan antara fiksi dan sejarah.
Ia mengatakan, film horor selama ini kerap menggunakan tradisi sebagai latar fiksi. Sementara melalui film ini, ia mencoba membawa pendekatan fiksi tersebut bersinggungan langsung dengan sejarah.
“Di sini Hanung meletakkan karya fiksi dipertemukan dengan satu titik temu dengan sejarah,” ujar Hanung ketika menceritakan tanggapan programmer International Film Festival Rotterdam 2026 terhadap film tersebut.
Film ini sebelumnya menjalani world premiere di International Film Festival Rotterdam pada Januari 2026. Menurut Hanung, salah satu pertanyaan yang muncul dari penonton festival adalah alasan film tersebut dibuat dalam genre horor.
Bukan Sekadar Kisah di Lubang Buaya
Dalam sesi bersama media, Hanung juga menjelaskan bahwa cerita film tidak hanya berfokus pada peristiwa 30 September 1965. Ia melihat peristiwa tersebut sebagai bagian dari rangkaian sejarah yang lebih panjang.
Hanung menyoroti periode sebelum 30 September 1965, termasuk kisah mengenai tujuh tokoh yang dalam konteks cerita disebut sebagai “Tujuh Setan Desa”. Tokoh-tokoh tersebut digambarkan berkaitan dengan persoalan kekuasaan, pejabat, petani kecil, dan tuan tanah.
Menurut Hanung, konteks tersebut menjadi bagian penting untuk memahami cerita yang dibangun dalam film.
Ia juga menyebut bahwa Lobang Buaya memiliki kemungkinan untuk dikembangkan menjadi bagian dari sebuah universe. Namun, Hanung belum memberikan kepastian mengenai kelanjutan cerita tersebut.
“Kita kepingin membuat sebuah film atau produk yang IP-nya itu bisa berlangsung panjang. Jadi ada universe-nya,” kata Hanung.
Riset Sejarah dan Unsur Mistis
Selain sejarah, film ini juga memasukkan unsur mistis. Hanung mengungkapkan bahwa salah satu bahan yang ditelusurinya adalah Ghayat al-Hakim.
Ia mengaku tidak mendapatkan kitab tersebut secara utuh. Dalam proses riset, ia hanya menemukan potongan halaman dan kemudian meminta bantuan seorang teman yang merupakan santri untuk memahami isi teks tersebut.
Hanung mengatakan, berdasarkan penelusurannya yang ia akui tidak lengkap, kitab tersebut berkaitan dengan rajah dan praktik yang dalam interpretasinya tidak ditujukan kepada Tuhan. Ia menegaskan bahwa film yang dibuatnya tetap merupakan karya fiksi.
Para Pemain Bangun Karakter Lewat Workshop
Dari sisi pemain, proses pengembangan karakter juga menjadi bagian penting dalam produksi film.
Anya Zen yang memerankan Ningsih mengatakan dirinya melakukan persiapan dari tiga sisi, yakni karakter, fisik, dan mental. Ia berdiskusi dengan Hanung mengenai latar belakang karakter Ningsih serta melakukan latihan fisik karena karakter tersebut merupakan seorang penari.
Untuk menghadapi tuntutan emosional karakter, Anya juga berkonsultasi dengan psikolog dan membangun sejumlah cara agar pengalaman karakter tidak terbawa menjadi pengalaman personal dirinya.
Sementara itu, Carissa Perusset mengungkapkan bahwa dirinya mengikuti workshop dan mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi karakter Arum. Ia juga melakukan proses building chemistry bersama pemain lain sebelum produksi.
Baskara Mahendra, yang memerankan Soegeng, mengatakan karakter yang dimainkannya ditempatkan sebagai sudut pandang yang ikut mengalami berbagai kejadian tanpa mengetahui seluruh informasi cerita. Menurutnya, hal tersebut membuat pengalaman karakter Soegeng terasa dekat dengan pengalaman penonton.
Mathias Muchus Soroti Pentingnya Ingatan Sejarah
Mathias Muchus yang memerankan Sukarya melihat film ini dari perspektif generasi yang lebih tua. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap anak muda yang menurutnya semakin jauh dari sejarah.
“Poinnya di sini tuh kita kayak enggak ada akarnya,” ujar Mathias.
Menurutnya, film dapat menjadi salah satu jembatan bagi generasi muda yang ingin mengetahui kembali sejarah dan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada masa lalu.
Ia juga menggambarkan Sukarya sebagai karakter penting dalam cerita, terutama dalam memainkan situasi dan kekuasaan di lingkungan desa.
Melalui Lobang Buaya, Hanung Bramantyo mencoba menghadirkan sebuah film yang tidak hanya mengandalkan elemen horor, tetapi juga menjadikan sejarah, ingatan kolektif, agama, dan kegelisahan sosial sebagai bagian dari proses kreatifnya.
Bagi Hanung Bramantyo, film tersebut menjadi ruang untuk mengajak penonton, khususnya generasi muda, kembali mengingat sebuah peristiwa sejarah dan mempertanyakan berbagai hal yang menurutnya hingga kini belum mendapatkan jawaban yang menyeluruh.





