Bencana Aceh Meluas, Sudirman Said Desak Pemerintah Pusat, Jangan Biarkan Mualem Sendirian

BANDA ACEH, Indeks News – Mantan Deputi Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh–Nias periode 2005–2009, Sudirman Said, menyoroti beratnya beban yang kini dipikul Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) dalam menghadapi bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.

Sudirman mengingatkan agar pemerintah pusat tidak membiarkan Gubernur Aceh berjuang sendirian menghadapi musibah berskala besar yang dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat.

Menurut Sudirman, secara psikologis Mualem memiliki pengalaman hidup yang panjang dan kompleks bersama Aceh. Ia pernah melalui fase sebagai gerilyawan, menjalani kehidupan sipil pascaperdamaian, terjun ke politik, hingga kembali dipercaya memimpin Aceh sebagai gubernur.

“Beliau mengalami dinamika Aceh dari waktu ke waktu, termasuk saat peristiwa tsunami,” ujar Sudirman, seperti dikutip dari Podcast Gaspol, Senin (15/12/2025).

Dengan pengalaman tersebut, Sudirman menilai Mualem sangat memahami kondisi sosial, psikologis, serta dampak kemanusiaan akibat bencana yang kini melanda Aceh. Ia menggambarkan skala kerusakan banjir bandang kali ini jauh lebih luas dari yang dibayangkan banyak pihak.

Sudirman bahkan menyebut luas wilayah terdampak banjir hampir setara dengan gabungan Pulau Jawa dan Bali jika dipetakan di atas Pulau Sumatera, menunjukkan besarnya skala bencana yang dihadapi.

Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan bencana tsunami 2004. Menurutnya, tsunami memang menyebabkan kehancuran besar di wilayah pesisir, namun setelah gelombang surut, proses penataan ulang bisa segera dilakukan.

“Sekarang tidak demikian. Wilayah yang terdampak jauh lebih luas, air masih tergenang, lumpur di mana-mana, bahkan terjadi banjir susulan,” ungkapnya.

Dengan kondisi cuaca ekstrem pada Desember yang dikenal sebagai musim berat, Sudirman mengaku bisa membayangkan betapa besar tekanan yang harus ditanggung Gubernur Aceh. Ia menilai situasi menjadi semakin memprihatinkan ketika persoalan tersebut disebut sebagai urusan daerah dalam pertemuan dengan pimpinan tertinggi negara.

“Jadi seperti orang yang dibiarkan sendiri,” ujarnya.

Sudirman menegaskan, pengalaman penanganan tsunami 2004 seharusnya menjadi pelajaran penting. Saat itu, pimpinan tertinggi negara hadir langsung di Aceh untuk memimpin penanganan bencana, bukan sekadar berkunjung.

“Waktu itu Pak Alwi Shihab sebagai Menko Kesra diminta berkantor di Aceh untuk memimpin tanggap darurat dan berbulan-bulan tidak kembali ke Jakarta,” kenang Sudirman.

Ia berharap semangat kepemimpinan dan kehadiran langsung negara kembali ditunjukkan, agar Aceh tidak merasa ditinggalkan dalam menghadapi bencana besar yang sedang berlangsung.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses