PT. Pegadaian bersama kampus IPB resmi luncurkan The Gade Creative Lounge (TGCL), dimana TGCL merupakan ruang kolaborasi agar terciptanya gagasan kreatif dan inovasi cemerlang dari sivitas akademika IPB.
Tempat yang dibangun Pegadaian ini memiliki fasilitas seperti open space area, ruang rapat tertutup, ruang podcast, musala, hingga panggung multifungsi untuk pertunjukan maupun kegiatan lainnya. Dengan mendukung konsep sustainability atau keberlanjutan dan mempertimbangkan aspek ergonomis, sejumlah ornamen seperti meja, terbuat dari bahan daur ulang sampah.
PT Pegadaian gencar mengadakan transformasi sejak tahun 2018, salah satunya berupa kolaborasi dan partnership. Kerja sama dengan IPB memiliki semangat yang sama dalam transformasi di bidang pendidikan untuk memajukan kualitas pendidikan berbasis kompetensi, teknologi, digital, hingga riset-riset agar SDM dapat bersaing di era globalisasi.

Direktur Jaringan & Operasi PT Pegadaian, Eka Pebriansyah, menjelaskan bahwa kehadiran The Gade Creative Lounge (TGCL) merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pegadaian yang secara konsisten menyasar dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi.
Menurut Eka, hingga saat ini Pegadaian telah menghadirkan The Gade Creative Lounge di 33 kampus di seluruh Indonesia. Lounge ini dirancang sebagai ruang kolaboratif bagi mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika untuk berkumpul, berdiskusi, serta melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif.
“The Gade Creative Lounge ini kami harapkan menjadi tempat lahirnya inovasi-inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi kampus, tetapi juga bagi masyarakat luas. Selain itu, ruang ini juga menjadi pusat literasi dan edukasi yang bisa disinergikan antara kampus, Pegadaian, maupun instansi lain,” ujar Eka saat ditemui setelah peresmian The Gade Creative Lounge di Kampus IPB, Selasa (03/2/2026).

Eka menambahkan, meskipun program CSR Pegadaian menyasar seluruh lapisan masyarakat, kalangan mahasiswa dan kampus menjadi fokus penting karena kebermanfaatannya bersifat jangka panjang.
“Kami berharap lounge ini bisa berkelanjutan dan mencetak mahasiswa-mahasiswa unggul ke depan. Ini bukan hanya bantuan sesaat, tetapi investasi sosial yang dampaknya terus tumbuh,” katanya.
Sementara itu, Rektor IPB Dr. Alim Setiawan Slamet menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan PT Pegadaian yang dinilai sejalan dengan transformasi IPB, khususnya dalam pengembangan perpustakaan berbasis digital.

Menurut Alim, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pengetahuan diakses. Buku-buku fisik tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, sehingga ruang perpustakaan dapat ditransformasikan menjadi co-working space dan creative lounge yang lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.
“Ruang-ruang ini memungkinkan mahasiswa belajar dengan lebih nyaman, berdiskusi, berkolaborasi, dan bertemu ide serta gagasan. Dari perjumpaan inilah kreativitas dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat bisa lahir,” ungkap Alim.
Ia berharap kolaborasi antara IPB dan PT Pegadaian tidak berhenti pada peresmian TGCL, melainkan terus berkembang ke berbagai bentuk kerja sama lain, khususnya dalam mendukung visi IPB sebagai innopreneur university.

“Kami berharap PT Pegadaian terus mendampingi IPB dan ke depan lahir ide-ide baru hasil kolaborasi, terutama dalam pengembangan kewirausahaan,” tambahnya.
Terkait respons mahasiswa, Alim menyebut bahwa hasil survei internal menunjukkan perpustakaan IPB dengan konsep baru, termasuk kehadiran creative lounge, menjadi ruang favorit mahasiswa.
“Perpustakaan ini selalu menjadi rujukan tempat belajar. Kami buka dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB, dan banyak mahasiswa betah berjam-jam di sini. Lingkungan belajar yang kolaboratif ini juga menjadi motivasi tersendiri bagi mereka,” jelasnya.
Ke depan, Pegadaian dan IPB juga membuka peluang untuk memperluas kolaborasi di berbagai bidang. Eka menyebutkan, sinergi dapat dilakukan tidak hanya dalam penyediaan ruang, tetapi juga dalam riset dan pengembangan program berbasis kebutuhan masyarakat.
Salah satunya melalui program The Gade Integrated Farming yang dijalankan Pegadaian, yang mencakup sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Ini bisa menjadi peluang kolaborasi dengan IPB, mulai dari penerapan teknologi hingga pengawalan agar program-program tersebut benar-benar produktif dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” kata Eka.
Terkait evaluasi, Pegadaian secara rutin melakukan peninjauan terhadap seluruh program TJSL, termasuk TGCL, melalui laporan pemanfaatan dan penguatan aktivitas di dalamnya, seperti kegiatan literasi dan edukasi yang melibatkan pihak internal maupun eksternal.
Sejalan dengan hal tersebut, IPB menegaskan bahwa orientasi utama dalam setiap kerja sama adalah impact dan outcome, bukan sekadar jumlah kunjungan.
“Kami akan mengukur seberapa banyak ide dan inovasi yang lahir dari ruang kolaborasi ini. IPB juga membina lebih dari 9.000 desa di seluruh Indonesia, dengan berbagai inovasi, UMKM, dan koperasi yang telah kami dampingi,” ujar Alim.
Ia menambahkan, sinergi antara ekosistem Pegadaian dan IPB diharapkan dapat memperluas manfaat, terutama dalam pengembangan ekosistem bisnis di desa, termasuk akses pembiayaan bagi masyarakat. (EH)




