Ajil Ditto aktor peran yang dilayar kaca selalu memberikan keromantisan dan kelucuan di film bergenre komedi dan romantis. Kali ini ada sisi lain yang diberikan Ajil yang terlibat dalam sebuah film aksi laga “Believe – Takdir, Mimpi, Keberanian” produksi rumah produksi “Bahagia Tanpa Drama”.
“Mungkin teman-teman biasanya lihat aku yang lembut atau komedi-komedi. Tiba-tiba rada banting stir ke action. Rada jomplang karena nggak pernah ada yang lihat sisi ini di diriku. Pokoknya kalau yang kalian lihat aku lembut, di sini tetap ada cuma nggak banyak. Padahal memang film kayak gini tuh yang aku pengenin dari dulu,” kata Ajil Ditto dalam konferensi pers peluncuran Poster dan trailer Film “Believe – Takdir, Mimpi, Keberanian di CGV FX Sudirman, Selasa (3/6/2025).
Di film “Believe – Takdir, Mimpi, Keberanian ini, Ajil Ditto mengaku sampai mengalami cedera ketika syuting. Namun menurut Ajil tim medis selalu membantunya dan langsung menanganinya melakukan tindakan penangan untuk cederanya saat itu.

“Cedera ada, di bagian tulang sini (punggung) dan itu ketika lagi proses fighting. tapi disulap langsung bisa fighting lagi. Dari tim medis juga ada, selalu kontrol tiap hari,” ungkap Ajil Ditto
“Aku sempet dibawain baskom gede, terus ditaro es. Aku nyelup di dalam ada tuh 10 menit, keluar-keluar badan aku kaku gitu semuanya. Itu seru banget, karena ga pernah kayak gitu sebelumnya.”tambah Ajil Ditto.

Berperan sebagai Tentara proses persiapan fisik dan mental dijalani Ajil selama lebih dari satu bulan diakuinya sangat melelahkan.
“Capek, capek banget sumpah, aku bukan ngomongin dalam konotasi negatif ya, tapi emang capek dan jadinya sangat mengapresiasi para pekerja tentara juga. Satu bulan setengah saja rasanya mau mati, bagaimana pekerja-pekerja aslinya. Pokoknya Capek, tapi nagih,”Tutup Ajil Ditto.

Selain Ajil Ditto, film Believe – Takdir, Mimpi, Keberanian juga dibintangi oleh Wafda Saifan, Adinda Thomas, Maudy Koesnaedi, hingga Marthino Lio. Film ini akan tayang di bioskop pada 24 Juli 2025 mendatang.
Sinopsis
Agus (Ajil Ditto) tumbuh dalam bayang-bayang sang ayah, Sersan Kepala Dedi (Wafda Saifan), seorang prajurit yang bertempur dalam Operasi Seroja tahun 1975. Meski Dedi telah banyak berkorban, pengabdiannya justru berdampak buruk bagi kehidupan pribadinya.
Kecemasan dan ketidakpastian membuat Ibu Agus pergi, meninggalkan jejak kesepian dan amarah di hati Agus kecil. Tahun demi tahun berlalu, Agus memasuki masa remaja di era 1984, Agus menjadi pemuda yang kerap terlibat perkelahian. Agus muda kehilangan arah, terjebak dalam bayang masa lalu. Hingga suatu hari, kematian sang ayah justru menyingkap kisah-kisah keberanian dan pengorbanan ayahnya di medan perang, Agus mulai mengenal sosok ayahnya dengan cara yang berbeda.
Agus justru terinspirasi oleh keberanian dan pengorbanan yang selama ini tak ia pahami, Agus pun mengambil keputusan besar menjadi seorang prajurit. Namun jalan menuju medan perang tak semudah yang dibayangkannya. Dengan tekad penuh, Agus menghadapi penolakan, kegagalan, dan rasa takut akan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya.
Di tengah gejolak konflik, takdir mempertemukannya dengan Miro (Marthino Lio), pemimpin separatis yang dahulu menjadi musuh ayahnya. Kini, di tengah kobaran perang dan dilema pribadi, Agus harus bergulat dengan identitasnya sebagai prajurit, pengorbanan keluarga yang ia tinggalkan, serta tanggung jawab besar melindungi anak buahnya dan warga sipil yang tak bersalah.
Perlahan, di balik dentuman peluru dan kabut pertempuran, Agus mulai memahami arti keberanian dan jejak pengorbanan sang ayah yang selama ini tak pernah diceritakan padanya. Namun di medan perang, tak semua pertarungan bisa dimenangkan dengan senjata. Akankah Agus menemukan kedamaian dalam hatinya atau justru kehilangan semuanya?




