Indeks News – Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti mengaku heran sekaligus kecewa karena hingga kini Presiden RI Prabowo Subianto belum juga memberhentikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari kursi Kapolri. Padahal publik menuntut reformasi menyeluruh di tubuh kepolisian.
Ray Rangkuti menilai langkah Presiden memberikan kenaikan pangkat kepada anggota kepolisian yang terluka dalam demonstrasi akhir Agustus lalu justru tidak tepat. Bagi Ray, keputusan itu seakan menutup mata terhadap aspirasi rakyat yang jelas-jelas menginginkan reformasi institusi kepolisian.
“Kurang tepat waktunya,” ujar Ray Rangkuti dengan nada serius kepada awak media, Selasa (2/9).
Menurut Ray, inti dari gelombang aksi massa adalah perubahan besar-besaran di tubuh Polri. Salah satu langkah yang ditunggu masyarakat adalah pencopotan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri dan Irjen Asep Edi Suheri dari posisi Kapolda Metro Jaya. Namun, tuntutan itu sama sekali tak disinggung Presiden.
“Sangat mengherankan. Tuntutan massa reformasi polisi, tetapi jawaban Presiden justru kenaikan pangkat anggota polisi,” tegas aktivis prodemokrasi itu.
Bagi Ray, sikap diam Presiden seolah menjadi isyarat bahwa pemerintah enggan menyentuh akar masalah. Padahal, gelombang aksi dan rasa jengkel rakyat terhadap kinerja kepolisian begitu jelas terlihat.
Ray bahkan mempertanyakan kesulitan apa yang sebenarnya dihadapi Presiden. Ia menilai, peristiwa beberapa hari terakhir sudah cukup menggambarkan betapa kuatnya penolakan rakyat terhadap perilaku represif aparat di lapangan.
“Apakah kejadian beberapa hari ini belum cukup menggambarkan kejengkelan rakyat terhadap kinerja kepolisian? Benar-benar membingungkan,” ucapnya penuh tanda tanya.
Lebih jauh, Ray menyinggung inkonsistensi antara ucapan dan tindakan Presiden. Ia menilai, Prabowo berulang kali menyatakan jaminan atas kebebasan berpendapat. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya: aparat justru cenderung represif terhadap massa yang turun ke jalan.
“Tidak menutup kemungkinan, pada akhirnya masyarakat akan membuat kesimpulan bahwa isi pidato Presiden hanyalah omon-omon belaka,” ujar Ray dengan nada getir.




