Jakarta, Indeks News — Pengamat politik dari Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, menilai bahwa demokrasi di Indonesia semakin membaik di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Penilaian tersebut disampaikan Ujang saat menghadiri peringatan satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, yang digelar oleh sembilan kelompok relawan di Sekretariat Relawan Gatot Kaca Prabowo-Gibran, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin, 13 Oktober 2025.
“Kalau kita ukur dari lembaga riset dunia, di masa pemerintahan Pak Prabowo kita sedang membangun demokrasi yang sehat,” ujar Ujang.
Menurut Ujang, perubahan politik di era Presiden Prabowo menunjukkan perkembangan positif. Ia mengakui bahwa selama delapan tahun menjadi pengamat politik, dirinya selalu bersikap objektif dalam memberikan kritik terhadap pemerintah. Namun kini, menurutnya, iklim kebebasan berpendapat semakin kondusif.
“Kita lihat kebebasan berpendapat kita seberapa besar. Apakah dilarang? Kan tidak,” tambahnya.
Ujang juga menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran tetap memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, termasuk kelompok sipil yang kritis terhadap pemerintah.
Ia mencontohkan pengalamannya saat masih menjabat Staf President Communication Officer (PCO) Presiden Prabowo, ketika menerima keluhan dari sejumlah aktivis terkait massa aksi tragedi Agustus 2025 yang sempat ditahan.
“Temannya Delpedro Marhaen komplain ke saya, katanya kenapa ditangkap. Saya bilang, Pak Presiden menjaga demokrasi agar tetap sehat,” kata Ujang.
Lebih lanjut, Ujang menyebut bahwa dalam sistem demokrasi yang sehat, aktivisme dan tanggung jawab hukum harus berjalan beriringan.
“Aktivis itu ketika berdemokrasi harus berani mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Polisi pun bekerja objektif sesuai SOP,” pungkasnya.




