Program MBG atau Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintah pusat mulai menunjukkan dampak signifikan di daerah. Salah satunya terlihat di Serang, Banten, di mana pembangunan dapur MBG dinilai mampu menggerakkan perekonomian lokal hingga ratusan miliar rupiah.
Melalui kegiatan “Sinergi Ekonomi Rakyat”, Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan peletakan batu pertama pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di kawasan Masjid Agung Ats-Tsauroh Serang pada Kamis (12/3/2026).
Pembangunan dapur MBG ini merupakan bagian dari upaya memperluas infrastruktur program Makan Bergizi Gratis agar distribusi makanan bergizi kepada masyarakat dapat berjalan lebih efektif, higienis, dan terstandarisasi.

Perputaran Ekonomi Kota Serang Capai Rp100 Miliar
Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia mengatakan pemerintah kota sangat mendukung penuh program MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut keberadaan dapur MBG justru memberi dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat.
“Kami dari Pemerintah Kota Serang sangat mendukung program Makan Bergizi Gratis. Terima kasih kepada Badan Gizi Nasional yang telah hadir dan melaksanakan kegiatan di Masjid Agung Ats-Tsauroh ini,” ujar Nur Agis Aulia.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 80 hingga 90 dapur MBG yang beroperasi di Kota Serang.
Dari hasil kajian pemerintah daerah bersama bidang UMKM dan ekonomi, perputaran uang yang dihasilkan dari operasional dapur MBG mencapai angka fantastis.
“Dengan adanya dapur MBG, perputaran uang di Kota Serang dalam sebulan bisa mencapai sekitar Rp100 miliar. Kalau dihitung setahun bisa mencapai Rp1,2 triliun,” jelasnya.

Ia menilai angka tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan kemampuan anggaran daerah.
“Padahal APBD kita sekitar Rp1,6 triliun. Jadi ini luar biasa sekali dampak ekonominya,” tambahnya.
UMKM dan Peternak Kebanjiran Pesanan
Budi juga mengungkapkan program MBG turut mendorong pertumbuhan pelaku usaha kecil dan menengah di daerah.

Bahkan sejumlah pelaku UMKM dan peternak sempat kewalahan memenuhi lonjakan permintaan bahan pangan.
“Ada UMKM yang biasanya produksi roti hanya 100 per hari, sekarang diminta sampai 2.000. Ini luar biasa dampaknya,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah daerah siap berkolaborasi dengan Badan Gizi Nasional untuk memastikan program MBG berjalan maksimal.
“Ini bukan hanya soal memberikan makanan bergizi gratis kepada masyarakat, tetapi juga soal dampak ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan. Banyak UMKM yang sekarang banjir pesanan,” ujarnya.
Dapur MBG Jadi Pusat Produksi Makanan Bergizi
Sementara itu, Wakil Ketua BGN Bidang Komunikasi Publik, Sony Sonjaya mengatakan dapur yang dibangun di Masjid Ats-Tsauroh nantinya akan menjadi pusat produksi makanan bergizi yang dikelola melalui sistem SPPG.
Dengan sistem tersebut, distribusi makanan bagi penerima manfaat diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan sesuai standar gizi.
“Pembangunan dapur MBG ini adalah langkah nyata agar pelayanan gizi kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal. Kami berharap fasilitas ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” ujar Sony.
Ia juga menjelaskan bahwa dapur Makan Bergizi Gratis di kawasan masjid tersebut nantinya akan membantu pemenuhan kebutuhan gizi bagi berbagai kelompok masyarakat.
Mulai dari siswa madrasah yang berada di sekitar masjid hingga anak-anak yatim dan balita yang belum mendapatkan akses program Makan Bergizi Gratis.
“Madrasah yang ada di masjid ini, anak-anak yatim usia sekolah, hingga balita di sekitar masjid yang belum mendapatkan Makan Bergizi Gratis akan menjadi prioritas penerima manfaat,” jelasnya.
Dorong Partisipasi Yayasan dan Mitra
Sony juga menilai model pengelolaan dapur MBG di kawasan masjid ini dapat menjadi inspirasi bagi yayasan dan mitra lainnya.
Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk menjaga keberlanjutan program MBG.
“Kami berharap yayasan-yayasan yang menjadi mitra bisa mulai menyisihkan sebagian rezekinya untuk mendukung fasilitas dapur atau memperbaiki sarana yang rusak,” katanya.
Ia menambahkan, dapur SPPG harus memiliki fasilitas yang layak agar mampu memproduksi makanan bergizi secara maksimal.
Sinergi Petani dan Dapur MBG
Selain peletakan batu pertama dapur Makan Bergizi Gratis, Badan Gizi Nasional juga menggelar kegiatan Sinergi Ekonomi Rakyat pada 10–12 Maret 2026.
Kegiatan ini mempertemukan pengelola dapur SPPG dengan para Kelompok Tani (Poktan) di wilayah Serang.
Tujuannya adalah memastikan bahan baku yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis berasal dari sumber yang sehat, bersih, dan memenuhi standar keamanan pangan.
Para peserta juga mendapat arahan mengenai sistem pemilihan bahan baku terbaik agar kualitas makanan tetap terjaga.
600 Peserta Hadiri Rapat Koordinasi
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan rapat koordinasi besar yang digelar di Aston Serang Hotel & Convention Center.
Acara tersebut dihadiri sekitar 600 peserta, terdiri dari Kepala SPPG, pengawas gizi, pengawas keuangan, juru masak, yayasan mitra, hingga koordinator wilayah se-Provinsi Banten.
Rapat koordinasi ini menjadi forum evaluasi bersama untuk memastikan operasional dapur Makan Bergizi Gratis di Banten berjalan sesuai standar.
Setelah buka puasa bersama, para peserta juga melakukan diskusi terbuka untuk berbagi pengalaman serta mencari solusi atas berbagai tantangan di lapangan.
Melalui sinergi antara pemerintah, petani, pengelola dapur, dan pelaku usaha lokal, program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ekonomi rakyat di daerah. (EH)




