Indeks News – Operasi pencarian korban tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, resmi dihentikan setelah memasuki hari ke-10.
Keputusan ini diambil pada Sabtu (22/11/2025) setelah seluruh upaya dan sumber daya dikerahkan secara maksimal, namun dua korban masih belum ditemukan.
Kepala Kantor SAR Cilacap, M. Abdullah, menyampaikan permohonan maaf jika selama proses pencarian terdapat kekurangan maupun kekeliruan di lapangan.
“Kami atas nama keluarga besar Basarnas memohon maaf apabila ada kesalahan selama pelaksanaan operasi tanggap darurat pencarian korban longsor,” ujarnya pada Minggu (23/11/2025).
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara menjelaskan bahwa bergesernya lokasi korban bukan tanpa sebab.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, pergerakan tanah susulan terjadi akibat kondisi kontur kawasan yang belum stabil setelah longsor besar yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Material tanah yang masih gembur, ditambah intensitas hujan tinggi, membuat tumpukan longsoran kembali bergerak ke titik yang lebih rendah.
Kondisi ini menyebabkan posisi korban yang sebelumnya terdeteksi oleh alat sensor maupun anjing pelacak berpindah beberapa meter.
“Di lapangan, tim kami menemukan kondisi tanah masih sangat labil. Pergerakan tanah juga masih terjadi, sehingga lokasi korban bisa bergeser dari posisi awal,” jelasnya.
Selain faktor alam, medan pencarian yang berada pada lereng terjal membuat pergerakan material lebih cepat dan sulit diprediksi.
Tim penyelamat harus bekerja ekstra hati-hati karena potensi longsor susulan masih mengancam setiap saat.
Alat berat memang dikerahkan, tetapi penggunaannya dibatasi. Getaran terlalu kuat dikhawatirkan dapat memicu runtuhan tambahan di sekitar titik pencarian.
Kondisi cuaca dua hari terakhir turut menjadi tantangan besar. Hujan intens serta rembesan air di bawah permukaan mempercepat proses pelongsoran tanah.
Tim SAR beberapa kali terpaksa menghentikan operasi demi menjaga keselamatan personel.
Meski situasi sangat sulit, pencarian tetap dilakukan dengan kombinasi metode manual dan penggunaan alat pendeteksi.
Personel dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, relawan, serta potensi SAR daerah terus menyisir area terdampak dari pagi hingga sore. Upaya dilakukan melalui penggalian sistematis, pemetaan ulang titik korban, serta penguatan struktur tanah agar tim tetap aman.
Warga yang menunggu kabar anggota keluarga terus memadati posko darurat. Pemerintah daerah menyiapkan posko kesehatan, dapur umum, serta layanan psikososial bagi keluarga terdampak.
BPBD mengimbau masyarakat agar tidak mendekati area longsor tanpa izin karena kondisi tanah masih bergerak dan sangat berbahaya.
Operasi pencarian akan dilanjutkan hingga seluruh korban ditemukan atau sampai batas waktu operasi resmi ditetapkan.
Selain itu, pemerintah daerah berencana melakukan kajian mendalam terhadap struktur tanah dan topografi kawasan sebagai langkah mitigasi jangka panjang untuk mencegah terulangnya bencana serupa di kemudian hari.




