Inheritors Unit thrash metal asal Malang, resmi melanjutkan fase comeback mereka di 2026 lewat single terbaru berjudul “Cheating Death”. Bukan sekadar lagu keras, single ini lahir dari pengalaman personal para personelnya yang pernah berada di titik paling rapuh dalam hidup: berada di ambang kematian.
Terinspirasi dari ketertarikan kolektif mereka pada horor dan thriller seperti film Final Destination, “Cheating Death” Inheritors mengangkat tema ilusi manusia yang merasa bisa mengakali kematian. Namun seperti yang disampaikan lewat lirik dan atmosfer lagunya, kematian selalu punya caranya sendiri untuk datang—cepat atau lambat.
Secara musikal, “Cheating Death” memperlihatkan wajah Inheritors yang paling gelap dan buas sejauh ini. Riff cepat ala thrash old school dengan sentuhan proto–death thrash metal akhir 80-an berpadu dengan groove yang lebih kejam, breakdown agresif, serta solo gitar yang tajam.

Pengaruh album Kill ’Em All milik Metallica hingga Pleasure to Kill terasa kuat, ditambah benang merah dari semangat awal Sepultura—diramu tanpa jatuh ke nostalgia mentah.
Menariknya, single ini juga menjadi debut resmi Galih sebagai gitaris baru Inheritors. Untuk pertama kalinya, band ini menggunakan formasi dua gitar. Meski datang dari latar non-thrash, Galih justru membawa pendekatan yang lebih eksploratif dan segar, memperkaya karakter riff dan solo tanpa mengaburkan identitas gelap Inheritors. Hasilnya, sound band terasa lebih padat, lebih berat, dan lebih terbuka ke eksplorasi musikal yang lebih luas.
Saat ini Inheritors diperkuat oleh Dion (Lead Vocals), Patrick (Lead Guitars), Galih (Rhythm Guitars), Obed (Bass Guitars, Backing Vocals), dan Rufa (Drums, Percussion).

“Cheating Death” sendiri merupakan bagian dari strategi rilis single bertahap menuju album penuh perdana Inheritors. Album tersebut dirancang sebagai kolase perjalanan thrash metal lintas era—dari 80-an hingga 2000-an—dengan tiap lagu membawa karakter dan pendekatan yang berbeda.
Setelah delapan tahun hiatus, Inheritors menegaskan bahwa musik kini menjadi medium katarsis, penyaluran energi negatif, sekaligus warisan yang ingin mereka tinggalkan.

Dengan struktur lagu yang dirancang untuk memicu moshpit sejak intro hingga akhir, “Cheating Death” menjadi pernyataan tegas bahwa banad ini belum selesai. Mereka mungkin tak bisa mencurangi takdir, tapi mereka siap menantangnya dengan distorsi, kecepatan, dan kegelapan.




