Jakarta – Padi Reborn kembali mempertegas identitas musikalnya lewat perilisan video lirik “Punah”, single ketiga dari album 28 setelah “Ego” dan “Haru Biru”. Lagu yang ditulis Piyu dan diproduseri Rindra Risyanto Noor ini hadir sebagai refleksi atas berbagai persoalan sosial, kemanusiaan, hingga kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia maupun dunia.
Sejak dirilis, “Punah” milik Padi Reborn langsung memancing antusiasme Sobat Padi di kolom komentar YouTube. Mayoritas pendengar menilai lagu ini membawa mereka kembali pada karakter PADI era akhir 1990-an hingga awal 2000-an, ketika band tersebut dikenal dengan komposisi megah, lirik puitis, dan aransemen rock alternatif yang emosional.
Komentar seperti “Ini baru kerasa Padi-nya”, “Masih Padi yang dulu saya dengar dari album pertama”, hingga “Balik ke era emasnya” menjadi gambaran respons dominan dari para penggemar lama.

Tak sedikit pula yang mengaku sudah mengikuti perjalanan Padi sejak 1998–1999.
“1999–2026 tetap mengikuti perjalanan Padi.”
“Panutan dari zaman SMP sampai sekarang.”
“Padi tak pernah punah.”
Kolom komentar juga dipenuhi sapaan Sobat Padi dari berbagai daerah, mulai dari Makassar, Gorontalo, Semarang, Samarinda, Lombok, Timor Leste, Jawa Barat, hingga Bangka Belitung. Hal itu menunjukkan basis penggemar Padi yang masih solid lebih dari dua dekade sejak debut mereka.

Lirik Sarat Kritik Sosial
Berbeda dengan sebagian besar lagu cinta yang pernah membesarkan nama Padi, “Punah” justru menghadirkan tema yang lebih luas.
Banyak pendengar menafsirkan lagu Padi Reborn ini sebagai kritik terhadap kerusakan alam, ketidakpedulian manusia, hingga kondisi sosial-politik saat ini.
Beberapa komentar bahkan menyebut liriknya sangat relevan dengan situasi Indonesia dan dunia.

“Kritikan yang berkelas kepada penguasa negeri.”
“Lagu ini cocok dengan situasi global saat ini.”
“Related dengan kondisi Nusantara hari ini.”
Ada pula yang menghubungkannya dengan bencana lingkungan seperti deforestasi hingga Lumpur Lapindo, sementara lainnya melihat lagu ini sebagai refleksi spiritual tentang tugas manusia menjaga bumi.
Sentuhan Musik yang Dianggap Lebih Progresif
Selain lirik, aransemen musik menjadi sorotan utama.
Banyak pendengar menilai “Punah” membawa nuansa baru tanpa meninggalkan identitas khas Padi. Sebagian bahkan menangkap pengaruh band rock alternatif Inggris seperti Muse, terutama pada permainan drum, dinamika gitar, dan atmosfer lagunya.
- “Sentuhan Muse kental banget.”
- “Sudah masuk progressive.”
- “Taste Muse, tapi tetap ketukan khas Mas Yoyo.”
Meski demikian, hampir semua komentar tetap menegaskan bahwa karakter band ini masih sangat terasa.
“Dengar intro langsung tahu.”
“This is PADI.”
Video Lirik AI Menuai Dua Pendapat
Jika lagu mendapat apresiasi luas, video lirik “Punah” justru memunculkan diskusi menarik.
Sebagian penonton menganggap penggunaan visual berbasis AI memberikan nuansa baru dan terasa megah.
“Mantap sekali video klip versi AI.”
“Lebih berwarna walaupun AI.”
Namun tidak sedikit pula penggemar yang berharap band ini kembali menggunakan konsep visual yang lebih organik.
Komentar yang paling banyak mendapat perhatian justru datang dari seorang penggemar yang menilai identitas Padi selama ini dibangun dari musik yang dimainkan secara nyata, sehingga visual sebaiknya mengikuti filosofi yang sama.
Ia berharap video berikutnya menggunakan dokumentasi konser, sinematografi nyata, atau animasi seperti pada era lagu “Tempat Terakhir”, daripada mengandalkan AI.
Sebagian komentar lain juga menyebut visual akan terasa lebih kuat apabila menggunakan footage kondisi lingkungan yang benar-benar terjadi dibanding ilustrasi AI.
Meski demikian, kritik tersebut disampaikan dalam nada yang tetap menghargai kualitas lagunya.
Penggemar Sudah Menunggu Video Lagu Lain
Antusiasme pendengar juga terlihat dari banyaknya permintaan agar lagu-lagu lain di album 28 segera dibuatkan video.
Judul seperti “Berbalik Arah”, “Beginikah Rasanya”, hingga “Meratap Di Sini” menjadi yang paling sering disebut.
Hal ini menunjukkan ketertarikan publik terhadap keseluruhan materi album, bukan hanya single yang sedang dipromosikan.
Salah Satu Lagu Terkuat Padi Reborn dalam Satu Dekade Terakhir
Secara musikal, “Punah” terasa sebagai titik temu antara band ini era klasik dan kedewasaan musikal para personelnya saat ini. Komposisinya dibangun perlahan, lalu berkembang menjadi klimaks yang besar tanpa kehilangan ruang bagi vokal Fadly yang tetap menjadi pusat emosi lagu. Permainan gitar Piyu dan Ari masih menjadi ciri utama, sementara bass Rindra dan gebukan drum Yoyo memberikan fondasi yang kokoh sekaligus dinamis.
Yang paling menonjol adalah keberanian band ini mengangkat isu sosial dan kemanusiaan. Mereka tidak memilih pendekatan yang menggurui, melainkan menyampaikannya melalui metafora puitis yang sejak dulu menjadi kekuatan utama band ini. Pendekatan tersebut membuat lagu tetap terbuka untuk berbagai interpretasi, mulai dari kritik lingkungan, refleksi spiritual, hingga kegelisahan terhadap kondisi zaman.
Di sisi visual, penggunaan AI memang menjadi eksperimen yang menarik, tetapi belum sepenuhnya menyatu dengan karakter band ini yang selama ini identik dengan nuansa organik dan emosional. Kritik dari penggemar dapat dipahami karena banyak yang merasa kekuatan lagu ini justru layak dipadukan dengan visual nyata baik berupa sinematografi, dokumentasi kondisi lingkungan, maupun penampilan live agar pesan sosial yang dibawa terasa lebih membumi dan autentik.
Terlepas dari perdebatan mengenai video liriknya, satu hal yang tampak jelas adalah lagunya berhasil diterima dengan sangat positif. Mayoritas komentar tidak membahas apakah Padi Reborn mengikuti tren atau tidak, melainkan bersyukur karena band ini tetap mempertahankan identitas musik yang telah mereka bangun selama lebih dari dua puluh lima tahun.
Jika respons awal ini menjadi indikator, “Punah” berpotensi menjadi salah satu lagu paling dikenang dari album 28, sekaligus memperlihatkan bahwa band ini masih mampu menghasilkan karya yang relevan tanpa harus meninggalkan karakter yang membuat mereka dicintai lintas generasi.
Untuk menjaga kualitas kompetisi, proses penjurian melibatkan profesional di bidang perfilman, penyiaran, pendidikan, dan industri kreatif.
Untuk menjaga kualitas kompetisi, proses penjurian melibatkan profesional di bidang perfilman, penyiaran, pendidikan, dan industri kreatif.





