Darah Nyai film horror panjang perdana rumah produksi Imaginarium Pictures. Diproduseri oleh Hikmat Darmawan, Steve Wirawan, dan Rayner Wijaya, Imaginarium Pictures mempercayakan Yusron Fuadi sebagai Sutradara, skenario oleh Hikmat Darmawan dan Azzam Fi Rullah.
Film Darah Nyai akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 21 Agustus 2025. Dibintangi antara lain Violla Georgie, Vonny Anggraini, Nai Djenar Maesa Ayu, Rory Asyari, dan Wieshely Brown.
Tidak seperti kebanyakan film horor lainnya, Film Darah Nyai arya ini mengusung subgenre yang jarang diangkat, yaitu jagal mistis (mystic-slasher). Filmnya pun dikemas dengan pendekatan B-movie.

B-movie merupakan film dengan anggaran rendah, sering kali memiliki kualitas produksi yang kurang, efek khusus yang sederhana, dan plot yang mungkin terasa aneh atau klise. Meskipun begitu, film-film ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi penggemar yang mencari hiburan yang unik, tidak konvensional, dan terkadang lucu.
Produser sekaligus penulis naskah, Hikmat Darmawan, mengungkapkan film Darah Nyai mencoba menawarkan pengalaman sinematik berbeda kepada penonton Indonesia dengan menghadirkan tampilan ala film-film B Indonesia dan Hong Kong era 1990-an, serta sentuhan film Giallo Italia tahun 1970-an yang terkenal brutal dan penuh warna kontras.
Perpaduan gaya tersebut tidak sekadar dihadirkan untuk nostalgia. Dia menjelaskan, semua elemen itu dibalut dengan teknik produksi modern dan disesuaikan dengan isu-isu yang relevan dengan penonton masa kini. Tujuannya, katanya, aialah untuk menciptakan pengalaman horor yang terasa segar tanpa kehilangan sentuhan klasik.

“Filmnya film B, tetapi ceritanya kelas A,” kata Hikmat Darmawan saat konferensi pers di XXI Epicentrum, Senin (11/8/2025).
“Kami percaya bahwa pekerjaan kami tidak diukur dari bagus atau jelek semata. Sering kali, film yang dianggap jelek justru merupakan bentuk perlawanan terhadap hal-hal yang terlalu biasa atau normal,” tandasnya.
Di bawah arahan sutradara Yusron Fuadi serta penulisan naskah oleh Azzam Firullah dan Hikmat Darmawan, film ini tak sekadar menghidupkan kembali legenda, tapi juga menyajikannya dalam gaya visual khas era 90-an dengan pendekatan kontemporer yang menggugah.

“Kesulitannya saya tahu, tapi membayangkan hal-hal absurd di cerita ini justru bikin semangat,” ujarnya
Secara visual, Yusron banyak mengambil inspirasi dari film Hong Kong dan film Indonesia era 1980–1990-an. Gaya pergerakan kamera dan pemilihan warna dari era tersebut dia gunakan untuk membangkitkan nuansa klasik. Terkait dengan warna, Yusron banyak mengeksplorasinya dari judul Darah Nyai.
“darah” identik dengan merah, sedangkan “nyai” dia asosiasikan dengan hijau. Sayang sekali kalau dua warna ini tidak kita garap secara spesial,” ujarnya
Selain itu, dirinya pun menjadikan setiap karakter di film ini memiliki warna dominan masing-masing. Hal ini bertujuan agar penonton bisa langsung mengenali karakter hanya dari warna yang mendominasi adegannya. (EH).
Sinopsis
Sebuah pembunuhan memicu amarah Laut Selatan. Nyai Sumekar (Jessica Katharina) muncul dan memilih Rara (Violla Georgie) untuk menjadi alat pembalasan dendam. Nyai memberi kekuatan super untuk memburu para pelaku, geng perdagangan manusia pimpinan Boni (Rory Asyari). Inspektur Yati (Vonny Anggraini) menyelidiki pembunuhan-pembunuhan sadis terkait dendam ini, dan berjumpa Mbak Endang (Nai Djenar Maisa Ayu) yang mengetahui misteri terdalam Laut Selatan




