spot_img
spot_img

240 Jurnalis Gugur di Gaza: Rekor Kelam dalam Sejarah Pers Dunia

Indeks News – Jalur Gaza kini tercatat sebagai wilayah paling berbahaya di dunia bagi jurnalis. Hingga Sabtu (23/8/2025), jumlah jurnalis yang gugur akibat serangan militer Israel (IDF) mencapai 240 orang.

Angka ini menjadikannya tragedi paling mematikan bagi insan pers dalam sejarah modern, melampaui catatan korban di Perang Dunia I, II, Vietnam, hingga Afghanistan.

Jurnalis yang terakhir menjadi korban adalah Khaled Mohammed al-Madhoun, seorang juru kamera Palestine TV. Ia meninggal dunia saat meliput di tengah kepungan serangan udara Israel. Kematian al-Madhoun menambah panjang daftar jurnalis yang kehilangan nyawa dalam upaya menyalurkan suara rakyat Gaza kepada dunia.

Sebelumnya, pada 11 Agustus 2025, Aljazirah kehilangan empat stafnya, termasuk sosok yang dikenal luas publik internasional, Anas al-Sharif. Reporter itu gugur setelah tenda jurnalis yang berdiri di dekat sebuah rumah sakit di Kota Gaza dihantam rudal IDF. Tak lama berselang, jumlah korban dari Aljazirah bertambah menjadi lima orang, sementara total jurnalis yang meninggal saat itu telah mencapai enam orang.

Militer Israel tak menampik serangan tersebut. Mereka berdalih, al-Sharif adalah bagian dari kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Dalih itu memicu kecaman luas karena al-Sharif dikenal sebagai reporter yang vokal menyoroti penderitaan sipil di Gaza.

Tragedi ini memperlihatkan pola yang berulang: jurnalis menjadi target. Padahal, mereka adalah saksi mata yang berjuang membawa kebenaran ke permukaan.

Rekor Kelam dalam Sejarah Pers Dunia

Jurnalis

Data otoritas Palestina menyebut, 240 jurnalis gugur sejak genosida Israel dimulai pada Oktober 2023. Angka itu jauh melampaui korban di Perang Dunia I dan II (total 68 orang), Perang Vietnam (63 orang), dan Perang Afghanistan (127 orang).

Sejarah belum pernah mencatat pembantaian jurnalis sebesar ini. Gaza pun kini bukan sekadar medan perang, tetapi juga ladang kematian bagi para pewarta.

“Mereka Bukan Hanya Membunuh Manusia, Tapi Kebenaran”

Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) menilai, Israel sengaja membungkam kebenaran dengan membantai jurnalis. Ketua Komite Pelaksana ARI-BP, Zaitun Rasmin, menyebut aksi itu sebagai kejahatan kemanusiaan paling keji.

“Mereka bukan saja membunuh manusia, tapi ingin membunuh, membungkam, kebenaran. Mereka tidak mau ada suara-suara, kecuali suara-suara mereka,” ujar Zaitun dalam diskusi di Jakarta, Kamis (14/8/2025).

Akar Konflik yang Tak Kunjung Usai

Perang di Jalur Gaza bermula pada 7 Oktober 2023, saat Hamas meluncurkan serangan roket besar-besaran ke wilayah Israel. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 tentara Israel dan menyandera lebih dari 200 orang.

Sebagai balasan, Israel meluncurkan Operasi Pedang Besi. Mereka menyerang target sipil, memblokade total Jalur Gaza, dan menghentikan pasokan air, listrik, bahan bakar, pangan, hingga obat-obatan.

Konflik yang sesekali terhenti oleh gencatan senjata singkat itu kini telah merenggut lebih dari 61.000 nyawa warga Palestina, serta menewaskan sekitar 1.500 warga Israel. Pertempuran bahkan merembet ke Lebanon, Yaman, hingga memicu baku serang rudal antara Israel dan Iran.

Meski ancaman terus menghantui, jurnalis di Gaza tetap berpegang pada misi mereka: menyuarakan kebenaran. Setiap nama yang gugur meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia yang masih membutuhkan fakta di tengah kabut propaganda perang.

Tragedi 240 jurnalis yang gugur ini menjadi pengingat bahwa perang bukan hanya merenggut nyawa tentara dan warga sipil, tetapi juga suara-suara yang seharusnya menjaga dunia tetap melek akan realitas.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses