Indeks News – Malam di kawasan Senen, Jakarta Pusat, berubah menjadi lautan api dan kepanikan. Massa aksi yang sejak Kamis malam berkumpul di sekitar Markas Komando Brimob Kwitang, menyalakan amarah dengan membakar Halte Transjakarta Senen Sentral dan sejumlah pertokoan di sekitarnya.
Pada pukul 21.30 WIB, halte di Kawasan Senen sudah tinggal puing: hangus, kaca pecah berserakan, dan asap pekat menutup langit malam. Di bawah jembatan layang Pasar Senen, massa membentangkan spanduk bertuliskan “polisi pembunuh”.
Teriakan mereka menggema, bercampur bau gas air mata yang masih menyengat. Ambulans mondar-mandir membawa mereka yang terluka, sementara api dibiarkan berkobar hampir lima belas menit tanpa kehadiran pemadam kebakaran.
Tuntutan Keadilan untuk Affan Kurniawan
Aksi massa ini berakar pada kemarahan atas tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online. Ia meninggal tragis setelah dilindas kendaraan taktis milik Brimob di kawasan Pejompongan, Kamis, 28 Agustus 2025.
Bagi massa, kehilangan Affan bukan sekadar angka korban—ini adalah simbol ketidakadilan yang menuntut jawaban. Mereka menuntut agar polisi mengungkap identitas pelaku yang melindas Affan. Rasa tidak percaya membuncah karena pemeriksaan dilakukan oleh institusi yang sama.
Gas air mata berulang kali ditembakkan, massa sempat bubar, namun kembali lagi. Mereka tidak rela suara keadilan padam begitu saja.
Polisi Umumkan Tujuh Nama
Desakan publik akhirnya membuat Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri, mengumumkan tujuh nama anggota polisi yang diduga terlibat dalam peristiwa tragis itu.
Nama-nama tersebut adalah:
- Aipda M Rohyani
- Briptu Danang
- Bripda Mardin
- Baraka Jana Edi
- Baraka Yohanes David
- Bripka Rohmat
- Kompol Cosmas Kaju
Pengumuman ini disampaikan di hadapan mahasiswa di Polda Metro Jaya, Jumat, 29 Agustus 2025. Namun publik masih menunggu, apakah pengungkapan nama akan diikuti tindakan nyata dan proses hukum yang transparan.
Di tengah amarah yang membara, suara lain hadir dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap narasi yang berkembang. Menurutnya, ada upaya pengalihan isu yang semula ditujukan kepada DPR, kini diarahkan ke kepolisian.
“Pertama, isunya jelas: soal penghapusan tunjangan dan dana pensiun DPR. Itu sangat positif. Namun, pasca tragedi semalam, seolah-olah polisi jadi sasaran, sementara DPR seperti cuci tangan,” tegas Riyan.
Ia menekankan, baik anarkisme maupun represif sama-sama tidak dibenarkan dalam menyuarakan aspirasi. Riyan pun mengajak semua pihak kembali fokus ke tuntutan awal agar rakyat tidak dibenturkan dengan polisi melalui skenario yang sengaja dibangun.
Peristiwa malam itu menorehkan luka mendalam. Bukan hanya luka fisik akibat gas air mata dan bentrokan, tetapi juga luka batin atas kehilangan nyawa yang seharusnya bisa dihindari.
Di jalanan Kawasan Senen yang gelap dan penuh asap, cerita tentang Affan terus bergema. Nama seorang pengemudi ojek online kini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Teriakan massa, kaca pecah, dan halte yang terbakar hanyalah potret dari amarah yang menuntut jawaban.
Kini, publik menunggu: apakah pengumuman nama tujuh polisi itu menjadi awal keadilan, atau sekadar janji yang kembali tenggelam di tengah hiruk pikuk politik dan konflik jalanan?




