Israel Pindahkan Rapat Rahasia Usai Serangan Udara Tewaskan PM Yaman

Drama perang, kehilangan pemimpin, dan bayang-bayang genosida

Indeks News – Israel memindahkan dua pertemuan penting pemerintah pada Minggu, 31 Agustus 2025, ke lokasi rahasia dan berbenteng. Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah dunia diguncang kabar meninggalnya Perdana Menteri Yaman, Ahmed Ghalib Al-Rahawi, bersama sejumlah menteri senior akibat serangan udara di Sanaa.

Kelompok Houthi mengonfirmasi pada Sabtu bahwa Rahawi tewas dalam serangan udara pada Kamis malam. Kepergian sang perdana menteri meninggalkan duka mendalam di tengah situasi Yaman yang sudah lama terperangkap dalam perang saudara.

Ahmed Ghalib Al-Rahawi baru setahun menjabat, namun dikenal bukan sebagai tokoh inti Houthi. Ia justru lebih dekat dengan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, yang digulingkan Houthi dari Sanaa pada 2014. Meski awalnya berseberangan, Rahawi kemudian bergabung dengan kelompok itu.

Dengan kematiannya, tugas perdana menteri kini dilanjutkan oleh wakilnya, Mohammed Miftah, yang resmi ditunjuk pada Sabtu.

Rapat Pemerintah Israel Dipindahkan

Di Israel, suasana juga memanas. Media Channel12 melaporkan, rapat kabinet dan rapat keamanan yang dijadwalkan hari itu dipindahkan mendadak ke lokasi rahasia. Para menteri baru diberitahu sesaat sebelum pertemuan dimulai.

Agenda pembahasan mencakup isu sensitif: pendanaan keamanan, situasi di Gaza, kemungkinan pengakuan internasional atas negara Palestina, serta perkembangan di Lebanon dan Suriah. Namun fokus utama rapat tertuju pada kesepakatan pembebasan sandera Israel yang ditahan Hamas.

Netanyahu dan kabinetnya menolak usulan kesepakatan parsial dari mediator. Mereka hanya menginginkan perjanjian komprehensif. Hamas di sisi lain menegaskan, pembebasan semua sandera hanya bisa terjadi jika Israel menghentikan perang, menarik pasukan dari Gaza, dan membebaskan tahanan Palestina.

Bayang-Bayang Genosida Gaza

Sejak Oktober 2023, Israel dituding melakukan genosida di Gaza. Serangan brutal telah merenggut hampir 63.400 nyawa warga Palestina dan menghancurkan hampir seluruh wilayah kantong tersebut. Kini, Gaza menghadapi kelaparan parah.

Kekejaman ini membawa Israel ke meja hijau. November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Selain itu, Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

Aksi Balasan Houthi

Di tengah tragedi ini, kelompok Houthi tetap aktif melakukan aksi solidaritas untuk Palestina. Mereka menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan meluncurkan rudal, meski sebagian besar berhasil dicegat. Sebagai respons, Israel melancarkan serangan ke wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, termasuk pelabuhan vital Hodeidah.

Serangan yang menewaskan Rahawi menjadi salah satu eskalasi terbaru, sekaligus menegaskan bahwa perang di Timur Tengah terus meluas, melibatkan banyak pihak, dan menyisakan luka mendalam.

Kematian Perdana Menteri Yaman dan sikap Israel yang kian keras memperlihatkan betapa rapuhnya harapan perdamaian di kawasan. Setiap keputusan politik, setiap serangan udara, dan setiap pertemuan rahasia kini bukan hanya soal strategi, tetapi juga menyangkut nyawa ribuan orang yang terus melayang di medan perang.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses