Indeks News – Hanya dua hari setelah resmi dilantik, Menteri Keuangan baru Purbaya Yudhi Sadewa langsung menjadi sorotan publik. Gelombang kritik tajam datang dari mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang turun ke jalan menyuarakan kekecewaan.
Pada Selasa, 9 September 2025, ratusan mahasiswa berkumpul di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Mereka mengibarkan poster, meneriakkan yel-yel, dan berorasi lantang. Suasana panas bercampur dengan keharuan terlihat saat mahasiswa menyampaikan keresahan rakyat kecil yang mereka wakili.
Di tengah kerumunan, Kepala Kajian Strategis BEM UI, Diallo Hujanbiru, tampil dengan suara tegas. Ia mengecam pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut tuntutan “17+8 Tuntutan Rakyat” hanyalah suara minoritas.
“Baru dua hari menjabat, dia sudah mengecilkan penindasan dan aspirasi masyarakat kecil,” ujar Diallo dengan nada kecewa. Kalimat itu langsung disambut sorakan dukungan dari massa aksi.
Menurut mahasiswa, tuntutan rakyat bukan sekadar angka di atas kertas. Itu lahir dari rasa lelah yang menumpuk akibat kinerja pemerintah yang dinilai gagal menjamin kesejahteraan. Mereka menilai seorang menteri tidak seharusnya meremehkan suara publik yang menuntut keadilan sosial.
Diallo menambahkan, bila Purbaya Yudhi Sadewa tidak sanggup mendengar suara rakyat, lebih baik ia mengundurkan diri. “Kesadaran diri itu penting. Kalau tidak mampu mendengar, jangan bertahan di kursi jabatan,” katanya.
Sementara itu, ketika dimintai tanggapan mengenai aksi mahasiswa, Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum mempelajari detail tuntutan rakyat. Ia menekankan bahwa aspirasi tersebut menurutnya hanya datang dari sebagian kecil masyarakat.
Dengan penuh keyakinan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan solusi utama ada pada pertumbuhan ekonomi. “Kalau ekonomi bisa tumbuh enam persen, rakyat akan lebih fokus bekerja dan menikmati hidup,” ucapnya.
Pernyataan ini justru semakin menyulut kritik. Di mata mahasiswa, sikap tersebut menunjukkan minimnya empati terhadap penderitaan masyarakat kecil yang menuntut perubahan nyata.
Kini, sorotan tajam publik tertuju pada langkah Purbaya berikutnya. Apakah ia akan membuka ruang dialog dengan rakyat, atau tetap pada keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi cukup menjawab semua persoalan?





