Era Baru Energi Hijau: Julfi Hadi Dorong Indonesia Saingi Amerika dalam Geothermal

Indeks News – Indonesia memiliki potensi energi panas bumi (geothermal) terbesar di dunia, mencapai sekitar 25.000 MW.

Namun, pemanfaatannya baru sebatas 2.400 MW. Padahal, energi hijau ini jauh lebih murah dibandingkan solar cell, ramah lingkungan, dan berumur panjang tanpa perlu bahan baku tambahan.

Kini, harapan baru datang dari Julfi Hadi, Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy (PGE). Sosok berdarah Minang ini menemukan formula realistis untuk memulai proyek geothermal yang selama ini mandek puluhan tahun.

Lahir di Swedia, menempuh pendidikan berpindah-pindah di berbagai negara, hingga meraih gelar geologi di Universitas Texas, El Paso, Julfi tak pernah melupakan akar Minangnya.

Bahkan, ia menegaskan, “Saya seratus persen Minang.”

Cara Realistis Mulai Proyek Geothermal

Julfi memperkenalkan strategi staging pembangunan bertahap dengan kapasitas kecil lebih dulu, sehingga investasi tidak sekaligus terlalu besar.

Misalnya, di proyek Seulawah Agam, Aceh, yang memiliki potensi 320 MW, PGE memulainya dengan pembangunan 30 MW terlebih dahulu. Pengeboran pertama dijadwalkan Desember tahun ini.

Proyek ini sejatinya sudah dicanangkan sejak lebih dari 40 tahun lalu, namun selalu kandas karena masalah pendanaan.

Terakhir, investor dari Jerman (WKF) mundur 10 tahun lalu. Dengan teknik staging, jalan yang lama buntu kini terbuka kembali.

Hal serupa juga diterapkan di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dengan kapasitas 30 MW. Namun, PGE akan mengawali hanya dengan 15 MW terlebih dahulu.

Dengan metode ini, kebutuhan investasi bisa ditekan menjadi USD 5 juta/MW, lebih rendah dari sebelumnya USD 6 juta/MW.

Selain efisiensi, metode ini memperbaiki cash flow perusahaan karena proyek segera menghasilkan pendapatan yang dapat diputar kembali untuk ekspansi berikutnya.

Target 3.000 MW: Indonesia Saingi Amerika Serikat

Saat ini, PGE baru mengoperasikan 770 MW dari izin 3.000 MW yang dimilikinya. Dalam dua tahun mendatang, kapasitas itu ditargetkan menembus 1.000 MW.

“Target kami 3.000 MW bisa tercapai,” ujar Julfi optimistis.

Jika tercapai, Indonesia bisa menjadi juara dunia geothermal, menyalip Amerika Serikat yang saat ini memimpin dengan kapasitas 3.400 MW. Filipina berada di posisi ketiga dengan 1.900 MW.

Hambatan Terbesar: Rivalitas PLN dan Pertamina

Meski formula staging memberi solusi pendanaan, hambatan lain muncul dari dalam negeri sendiri tarik-menarik antara PLN sebagai pembeli listrik dan Pertamina sebagai penjual.

PLN menginginkan harga murah, sementara Pertamina menuntut harga yang lebih tinggi agar proyek layak secara bisnis.

Negosiasi harga kerap berlarut-larut hingga bertahun-tahun, membuat proyek tersendat. Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan bahkan mengingatkan, konflik ini ibarat “musuh dalam selimut” yang hanya bisa diselesaikan jika ada perintah langsung dari otoritas tertinggi, kini berada di bawah Danantara.

Geothermal Jadi Prioritas Era Prabowo

Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, isu swasembada energi mendapat dorongan besar.

Geothermal menjadi salah satu prioritas karena memenuhi tiga aspek sekaligus: ramah lingkungan, bermanfaat bagi masyarakat, dan memiliki kepastian bisnis.

Proyek-proyek baru PGE yang dimulai di Aceh, Sulawesi Utara, Sumatera Bagian Selatan, dan Jawa Barat akan menjadi batu loncatan besar menuju Indonesia sebagai pemimpin dunia energi hijau.

Julfi Hadi pun menegaskan bahwa geothermal adalah energi masa depan Indonesia.

Dengan strategi staging, biaya lebih rendah, dan dukungan kebijakan pemerintah, jalan menuju swasembada energi hijau kini lebih terbuka dari sebelumnya.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses