Ancaman Nyamuk di Jakarta Bukan Baru: Dulu Pernah Renggut 3.000 Nyawa dalam Setahun

Jakarta, Indek News – Saat musim hujan tiba, populasi nyamuk biasanya meningkat drastis karena banyaknya genangan air yang menjadi tempat ideal untuk bertelur. Meski berukuran kecil, nyamuk tercatat sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Mengutip data World Mosquito Program, serangga ini menginfeksi sekitar 700 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian.

Fenomena mematikan akibat nyamuk bukan hal baru bagi Jakarta. Pada abad ke-18, ketika kota ini masih bernama Batavia, ribuan orang tewas dalam sebuah wabah besar yang dipicu tata kota yang buruk. Sejak menjadi pusat kekuasaan VOC pada 1621, Batavia dibangun dengan pola kanal ala kota-kota Belanda. Namun desain itu justru menjadi bumerang bagi kota beriklim tropis seperti Jakarta.

Kanal-kanal tersebut kemudian berubah menjadi sarang nyamuk karena air kotor dan limbah rumah tangga mengalir langsung ke dalamnya. Kondisi sanitasi yang buruk memperparah penyebaran penyakit. Ledakan populasi nyamuk pun tak terhindarkan dan wabah misterius mulai menghantui penduduk Batavia.

Sejarawan Susan Blackburn dalam buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut penyakit mematikan itu menyerang orang Eropa tanpa pandang bulu—mulai dari pedagang, pekerja, hingga pejabat tinggi VOC. Sementara itu, penduduk pribumi lebih kebal terhadap serangan penyakit tersebut.

Pada tahun 1733 saja, lebih dari 3.000 orang meninggal dunia. Dalam kurun 1733–1738, 14 pejabat dan dua gubernur jenderal VOC turut menjadi korban. Kondisi Jakarta kala itu begitu mencekam hingga masyarakat terbiasa mendengar kabar kematian setiap hari.

Tidak hanya menelan korban jiwa, wabah juga melumpuhkan aktivitas ekonomi. Para pedagang enggan merapat ke pelabuhan Sunda Kelapa akibat takut tertular penyakit. Banyak pendatang baru yang hanya dalam hitungan hari jatuh sakit dan meninggal.

Pada masa itu, warga Eropa percaya bahwa penyakit disebabkan oleh “udara busuk”. Mereka menutup rapat jendela dan tirai rumah untuk menghindari paparan udara luar. Namun upaya itu tidak banyak membantu. Beban berat akibat wabah akhirnya memaksa VOC memindahkan pusat kekuasaan ke wilayah selatan seperti Molenvliet (sekarang Jl. Gajah Mada), Weltevreden (Gambir), dan Jatinegara. Kanal-kanal lama yang dianggap sebagai sumber penyakit kemudian ditimbun.

Baru bertahun-tahun kemudian diketahui bahwa penyakit tersebut adalah malaria yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles. Tata kota Batavia yang dipenuhi kanal dan minim sanitasi menjadi pemicu utama ledakan nyamuk dan wabah mematikan itu.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses