JAKARTA – Film Dukun Magang datang dengan premis yang tak biasa: seorang mahasiswa rela magang menjadi dukun demi menyelesaikan skripsinya. Namun di balik premis unik tersebut, Dukun Magang ternyata menyimpan dunia mistis yang lebih besar dari yang terlihat di layar.
Tak hanya menghadirkan tawa dan teror, Dukun Magang juga memperkenalkan konsep baru tentang tingkatan kuntilanak yang belum banyak diangkat dalam film Indonesia. Menariknya, kemunculan sosok Kuntilanak Merah di penghujung cerita disebut bukan sekadar pemanis, melainkan petunjuk penting yang bisa mengarah pada kelanjutan kisah Dukun Magang di masa depan.
Produser Eksekutif Dukun Magang, Denny Januar, mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya langsung terpikat dengan ide cerita yang dianggap berbeda dari kebanyakan film horor yang beredar saat ini. Dari sejumlah konsep yang dikembangkan, Dukun Magang menjadi pilihan utama karena dinilai mampu menjangkau berbagai generasi penonton.

Bahkan, dalam proses pengembangannya, Dukun Magang yang di produksi Dens Vision Multimedia dan Wahana Pictures ini melibatkan sejumlah kreator dan komunitas komika untuk memperkuat unsur komedi yang menjadi salah satu senjata utama film ini. Hasilnya adalah kombinasi horor dan humor yang diklaim mampu menghadirkan pengalaman menonton yang segar sekaligus penuh kejutan.
“Begitu draft ceritanya selesai, saya langsung suka. Ceritanya terasa segar, berbeda, dan punya daya tarik yang bisa dinikmati semua kalangan. Dari situ kami yakin ini layak diwujudkan menjadi film,” kata Denny Januar saat Press Conference di Epicentrum XXI, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Tak hanya ceritanya yang unik, proses produksi film ini juga dipenuhi berbagai momen tak terduga. Sutradara Chiska Doppert mengaku sering kali kesulitan menghentikan adegan karena para pemain terus berimprovisasi dan melahirkan momen-momen lucu yang muncul secara spontan.

“Kami punya pemain yang sangat fleksibel. Banyak adegan berkembang secara organik. Kadang justru kami bingung kapan harus cut karena interaksinya terus mengalir dan semakin seru,” ujar Chiska.
Di sisi lain, pemeran utama Jefan Nathanio mengungkapkan bahwa karakter Raka yang ia mainkan terasa sangat dekat dengan dirinya. Menurutnya, Raka adalah sosok skeptis yang selalu mencari penjelasan logis di tengah berbagai kejadian mistis yang dialaminya.
“Saya sering bercanda kalau Raka itu Jefan Nathanio versi masa depan. Dia rasional, skeptis, dan selalu mempertanyakan apa yang terjadi di sekitarnya,” ungkap Jefan.

Salah satu pengalaman paling menantang baginya terjadi saat syuting adegan sungai yang disebut menjadi salah satu rangkaian adegan tersulit selama produksi berlangsung.
Sementara itu, Hana Saraswati membocorkan salah satu elemen yang diprediksi akan membuat penonton penasaran setelah keluar dari bioskop. Menurutnya, Dukun Magang tidak hanya menampilkan kuntilanak putih yang selama ini dikenal masyarakat, tetapi juga menghadirkan kuntilanak merah dan kuntilanak hitam yang memiliki tingkatan kekuatan berbeda.
“Dalam konsep film ini, kuntilanak hitam berada di level tertinggi. Di bawahnya ada kuntilanak merah, lalu kuntilanak putih yang paling umum dikenal masyarakat,” jelas Hana.
Pernyataan tersebut seolah memperkuat spekulasi mengenai masa depan semesta Dukun Magang. Terlebih, Denny Januar tak menampik kemungkinan menghadirkan kembali karakter Kuntilanak Merah apabila respons penonton dan jumlah penonton film ini memuaskan.
Jika itu benar terjadi, maka sosok yang hanya muncul sekilas di akhir cerita tersebut bisa menjadi ancaman baru yang jauh lebih besar pada film berikutnya. Pertanyaannya, apakah Kuntilanak Merah memang sudah disiapkan untuk membuka jalan menuju sekuel Dukun Magang?
Jawabannya mungkin baru akan terungkap setelah penonton menyaksikan sendiri film Dukun Magang yang dibintangi oleh Jefan Nathanio, Hana Saraswati, Fajar Nugra, Adi Sudirja, Salsabila Zahra, Dodit Mulyanto, Wira Nagara, Mang Osa, Rachel Patrici di bioskop pada 18 Juni 2026 mendatang.(EH).




