Sumbar, Indeks News – Rentetan bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Sumbar) tercatat sebagai daerah paling terdampak akibat curah hujan tinggi, kondisi geografis rawan bencana, serta kerusakan lingkungan yang memperparah daya rusak alam.
Di Sumbar, bencana ini meninggalkan dampak yang sangat serius dan meluas. Permukiman warga mengalami kerusakan berat, infrastruktur publik lumpuh, serta lahan pertanian yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat hancur tertimbun lumpur, bebatuan, dan material longsor.
Sawah, ladang, dan kebun yang sebelumnya hijau dan produktif kini tidak lagi dapat diolah, meninggalkan ketidakpastian bagi ribuan keluarga petani.
Merespons kondisi darurat tersebut, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menunjukkan kepedulian nyata dengan turun langsung ke lokasi terdampak.
Melalui gerakan kemanusiaan HKTI Peduli, bantuan disalurkan kepada masyarakat Sumbar yang mengalami dampak paling parah akibat bencana.
Koordinator Satgas HKTI Peduli Sumatera Barat, Azra Malindo, memimpin langsung penyaluran bantuan kemanusiaan sebagai wujud komitmen organisasi dalam membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan pascabencana.
Bantuan disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak, antara lain Kota Padang, Kabupaten Tanah Datar (Nagari Guguak Malalo dan Nagari Padang Laweh), serta Kabupaten Agam yang meliputi Nagari Salareh Aia dan Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan.
Penyaluran dilakukan secara langsung oleh tim HKTI Sumbar guna memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Adapun bantuan yang diberikan meliputi kebutuhan dasar masyarakat, seperti kompor, mukena untuk kebutuhan ibadah ibu-ibu, daster, pakaian dalam pria dan wanita, popok bayi, pakaian anak-anak, serta seragam dan sepatu sekolah.
Bantuan tersebut difokuskan untuk kelompok rentan, khususnya perempuan, anak-anak, dan bayi, yang terdampak paling besar dalam situasi darurat bencana.

Tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, HKTI Sumatera Barat juga melaksanakan kegiatan trauma healing bagi masyarakat terdampak.
Kegiatan ini bertujuan membantu pemulihan psikologis warga, terutama anak-anak dan keluarga yang mengalami tekanan emosional pascabencana.
Dalam kesempatan tersebut, tim HKTI juga mendengarkan langsung keluhan para petani yang kehilangan lahan pertanian akibat banjir bandang dan longsor.
Para petani menyampaikan harapan besar agar pemerintah segera hadir memberikan bantuan konkret untuk pemulihan dan rehabilitasi lahan pertanian, sehingga mereka dapat kembali berproduksi dan menghidupi keluarga.
“Masyarakat sangat membutuhkan dukungan yang menyeluruh. Bukan hanya bantuan barang, tetapi juga perhatian serius terhadap pemulihan lahan pertanian yang menjadi sumber utama kehidupan mereka,” ujar Azra Malindo.
Warga di lokasi terdampak menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas bantuan yang diberikan.
Mereka berharap sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah dapat terus diperkuat agar proses pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
Di balik lumpur yang masih mengering dan puing-puing sisa banjir bandang, terlihat wajah-wajah lelah namun penuh harap di setiap sudut nagari.
Para ibu berusaha tegar menenangkan anak-anak mereka, sementara para petani menatap lahan yang dulu menjadi tumpuan hidup kini tertutup endapan lumpur dan bebatuan.
Bagi masyarakat, bencana ini bukan sekadar kehilangan harta benda, tetapi juga hilangnya sumber penghidupan. Namun di tengah keterbatasan, kepedulian dan solidaritas menjadi penguat harapan.
Kehadiran HKTI memberi makna lebih dari sekadar bantuan logistic empati, kesediaan mendengar, dan dukungan moral menjadi obat bagi luka batin yang tak kasat mata.
Dalam kegiatan trauma healing, tawa anak-anak perlahan kembali terdengar, menjadi simbol bahwa harapan masih tumbuh di tengah duka.
Seorang warga mengungkapkan bahwa bantuan yang diterima bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menguatkan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini.
Bencana memang meninggalkan luka, namun kepedulian dan kebersamaan menumbuhkan kembali semangat untuk bangkit.
Dari nagari ke nagari, masyarakat Sumbar percaya bahwa dengan bergandengan tangan, mereka akan mampu melewati masa sulit dan menata kembali kehidupan.
Sumber: Hery.
Editor: Dedi Prima.




