Aceh Tamiang, Indeks News – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan pemandangan memilukan di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. Tumpukan gelondongan kayu berukuran besar terlihat menggunung di bagian belakang kompleks pesantren, dengan ketinggian mencapai sekitar 10 meter atau setara bangunan dua lantai.
Area yang sebelumnya digunakan sebagai asrama santri putra, kolam ikan, dan perkebunan kini tertutup potongan kayu besar serta lumpur tebal. Di tengah tumpukan kayu tersebut, bangunan masjid asrama putra masih berdiri kokoh, meski sebagian ruang belajar dan pondokan santri terkubur lumpur hingga lantai satu.
Pantauan di lokasi, sejumlah kayu terlihat terpotong rapi, sementara lainnya hancur dan rapuh akibat terbawa arus banjir yang deras. Jejak lumpur bahkan tampak menempel di dinding bangunan hingga mendekati atap lantai dua, menandakan ketinggian banjir yang ekstrem.
Kepala Pelaksana Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Aceh Tamiang, Mulkana, mengatakan banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut. Awalnya, air masih jernih dan belum membawa material kayu.
“Lama-lama air makin tinggi dan berubah jadi lumpur. Kayu mulai masuk satu per satu hingga jumlahnya terus bertambah,” ujar Mulkana,(13/12/2025).
Menurutnya, derasnya arus air yang membawa gelondongan kayu menimbulkan kekhawatiran akan merusak bangunan pesantren dan rumah warga di sekitar. Kondisi itu memaksa santri dan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Setelah air surut, pengurus pesantren baru bisa kembali ke lokasi. Namun, akses menuju bangunan hanya bisa dilakukan dengan memanjat tumpukan kayu. Mulkana menyebut tinggi kayu bahkan melebihi pohon kelapa di sekitar pesantren.
“Saking tingginya, kami bisa mengambil kelapa sambil menunduk, karena posisi kami di atas kayu, pohon kelapanya di bawah,” ungkapnya.
Hingga hampir dua pekan pascabanjir, Mulkana mengaku belum ada bantuan alat berat untuk mengevakuasi tumpukan kayu tersebut. Aktivitas yang dilakukan baru sebatas penyelidikan aparat kepolisian dan Kementerian Kehutanan terkait asal-usul kayu.
“Mereka mengecek kemungkinan kayu hasil pembalakan liar dan memasang garis polisi di beberapa gelondongan besar,” katanya.
Pihak pesantren berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi konkret. Sebab, tumpukan kayu dan lumpur tersebut mustahil dibersihkan secara mandiri.
“Sekarang kami masih berupaya memulihkan diri, menguatkan mental dan hati sambil menunggu bantuan,” pungkas Mulkana.




