Beranda POLITIK Tudingan Marzuki Alie Dibantah Partai Demokrat

Tudingan Marzuki Alie Dibantah Partai Demokrat

Tudingan
Tudingan yang disampaikan Marzuki Alie dibantah partai Demokrat. Ada dua tudingan yang disampaikan oleh mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) partai Demokrat itu.

Tudingan yang pertama terkait keberadaan mahar yang harus disetorkan kader yang ingin maju sebagai calon pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demokrat diklaim tidak pernah meminta uang.

“Enggak ada (mahar),” ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Demokrat Yogyakarta Heri Sebayang, Sabtu, 13 Februari 2021.

Namun, Heri tidak membantah jika DPP meminta iuran kepada kader yang maju dalam kontestasi pilkada. Namun, hal itu dianggap sebagai urunan. “Bukan mahar. Kalau bagi saya itu urunan gitu sang calon. Ya wajar dong,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan uang yang dikumpulkan dari kader yang maju dalam pilkada itu pun diserahkan kembali dalam bentuk logistik kampanye. Salah satunya, bendera partai.

“Kami dikirimin ribuan bendera, nanti dipasang di daerah itu,” kata Heri.

Urunan itu juga digunakan untuk operasional kampanye yang lain. Salah satunya penyediaan konsumsi masyarakat yang mengikuti kampanye.

“Kan ada ngumpulin orang kan harus beli minum, makanan,” katanya.

Sedangkan tudingan kedua Marzuki Alie soal eks Ketua Umum (Ketum) Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendukung politik dinasti di partainya. Kritik ini disampaikan setelah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dipilih menjadi ketum menggantikan SBY.

Dia menegaskan AHY dipilih sudah melalui proses demokratis. Heri menyebut hanya ada satu calon yang mendaftar pada Kongres Partai Demokrat 2020. Tidak ada pilihan lain bagi kader selain mendukung kepemimpinan AHY.

“Pak SBY mau kita calonkan, dia (SBY) tidak mau. Kalau enggak mau ya siapa lagi,” katanya.

Heri juga menegaskan bahwa SBY konsisten dengan prinsip tersebut. Bahkan, dia menolak saat kader meminta istrinya, almarhumah Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono), maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Heri tidak menjelaskan alasan Presiden ke-6 Indonesia itu menolak keinginan tersebut.

“Ada (kader) yang bilang, mohon maaf, Bu Ani saja kita calon kan sebagai capres. ‘Jangan’ kata Bapak (SBY),” jelasnya.