Video klip seharusnya bukan sekadar pelengkap di era digital saat visual jadi bagian penting dari identitas musik. Tapi faktanya, masih banyak rilisan yang terasa dikerjakan setengah matang mulai dari kualitas gambar yang kurang maksimal, konsep visual yang tidak jelas, sampai storytelling yang gagal menyatu dengan lagu.
Padahal, ketika audio dan visual bisa berjalan selaras, pengalaman pendengar bisa naik level bukan cuma dengar, tapi juga “melihat” dan merasakan pesan lagu secara utuh di Video Klip.
Oleg Sanchabachtiar, Creative Director of Music Concert & Video sekaligus Founder Planet Design Indonesia, melihat masalah ini bukan sekadar soal teknis, tapi juga mindset profesional dalam produksi.

“Semua yang terlibat itu profesi. Dalam music video ada banyak peran penting—produser, director, art director, DOP, lighting, styling, editor, dan lainnya. Kalau hasilnya tidak maksimal, biasanya ada elemen penting yang diabaikan atau tidak dijalankan dengan serius,” jelas Oleg saat ditemui, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, banyak video klip gagal bukan karena idenya buruk, tapi karena eksekusinya tidak didukung tim yang solid atau persiapan yang matang. Faktor budget, kurangnya tenaga kompeten, hingga minimnya awareness terhadap standar kerja profesional jadi penyebab utama.
Visual Bisa Angkat atau Justru Menjatuhkan

Lebih jauh, Oleg menekankan bahwa visual punya kekuatan besar dalam membentuk persepsi audiens. Video klip bisa memperkuat pesan lagu, tapi juga bisa jadi bumerang kalau tidak tepat sasaran.
“Pertanyaannya selalu sama: pesan yang mau disampaikan itu sampai atau tidak ke penonton? Karena visual itu bisa mengangkat, tapi juga bisa menjatuhkan karya musik itu sendiri,” ujarnya.
Menariknya, ia juga menyinggung fenomena di mana visual yang “kurang” justru sengaja dijadikan strategi untuk memancing perhatian publik.

“Kadang ada juga yang sengaja bikin sesuatu yang memicu persepsi atau kontroversi. Tanpa disadari, itu jadi cara untuk bikin orang ngomongin,” tambahnya.
IMVA 2026: Apresiasi Detail, Bukan Sekadar Hasil Akhir
Sebagai bentuk apresiasi terhadap para kreator di balik layar, Indonesian Music Video Awards (IMVA) 2026 hadir dengan lebih dari 20 kategori yang menilai berbagai aspek produksi video klip secara lebih spesifik.
Pendekatan ini menegaskan bahwa kualitas sebuah video musik tidak bisa dilihat hanya dari hasil akhirnya saja, tapi juga dari detail proses kreatif di dalamnya.
“Penilaian kita mengacu pada standar nasional—DKV, kementerian, dan lain-lain. Ada SOP yang jelas. Jadi tidak bisa langsung bilang sebuah video itu asal-asalan, karena bisa jadi di sisi lain pesannya justru sampai ke audiens,” jelas Oleg.
Ia juga menyoroti perbedaan pendekatan antara era 90-an dan sekarang. Dulu, referensi visual terbatas, sementara saat ini kreator punya akses luas terhadap berbagai inspirasi global yang seharusnya bisa dimaksimalkan, bukan malah jadi bumerang karena kehilangan fokus.
Lebih dari Sekadar Video
IMVA sendiri bukan hanya ajang penghargaan, tapi juga bentuk dorongan agar para pelaku industri lebih serius dalam menggarap video musik sebagai karya yang utuh.
“Video klip itu cerminan seberapa besar kita menghargai profesi kita. Kalau memang cinta dengan apa yang dikerjakan, pasti hasilnya juga akan digarap dengan serius,” tutup Oleg.
Sejak Januari 2026, IMVA telah mengkurasi puluhan video klip setiap bulannya. Para pemenang bulanan nantinya akan bersaing di babak final. (Kintan)
Untuk update dan informasi lengkap:
- Website: www.indonesianmusicvideoawards.com
- Instagram: @planetdesign_indonesia
- Pendaftaran Piala Swaradrisya: https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfgOAdk1iKAp1_nihhakA6ljdYh-DZ6DU2XvIspXBuaT4CvQw/viewform)




